Sore ini. Seperti hari sebelumnya, tak ada yang berbeda. Mentari tetap menggantung tinggi di atap langit. Sepoi angin berhembus, bercampur rasa panas, memecahkan keriuhan. Bocah-bocah kecil berlarian. Sebagian masih melanjutkan membaca Qur'an.
Pak Soleh membimbing dengan tenang. Sesekali melirik.
"Echhmm," pekiknya.
"Suuut, diam coba nah," ujar anak yang dibimbing mengaji.
"Ayo, yang sudah harap tenang. Duduk soleh, kita bersiap pulang."
Mereka kemudian berlarian. Mengikuti instruksi. Meski tak banyak, namun anak-anak ini selalu ramai dan ceria.
"Terima kasih pak guru, Assalamualaikum," selesai berdoa mereka bersalaman kemudian berhambur pulang.
Pak Soleh baru setahun mengajar mengaji. Ia memulai kehidupan barunya. Hijrah ke kota, diyakininya mampu merubah kehidupannya selama ini. Sebelumnya, ia juga mengajar ngaji di kampung. Muridnya cukup banyak, hingga puluhan.
Di kota ini. Muridnya bisa dihitung dengan jari. Berbulan berjalan, belum juga bertambah. Sebagian yang mengaji di tempatnya adalah anak tetangganya.
Pak Soleh dikenal ramah. Rumah kontrakan yang tak begitu luas, kadang harus dibagi dengan murid yang lain. Sebagian yang telah selesai mengaji, mereka menunggu di depan halaman. Tak ayal, jika waktu itu mereka gunakan untuk bermain.
"Ini Pak Soleh, kebetulan kami masak sayur lodeh," tetangga sebelah rumah membawa makanan.