Burundi di leg 1 masih cenderung mendekati level permainan Indonesia, yakni ada salah oper dan ketika bertahan kurang koordinasi, sehingga mereka tidak tampil maksimal dalam meladeni Indonesia.
Ditambah, mereka lebih familier dengan lapangan Jakarta International Stadium (JIS) daripada Stadion Patriot, karena mereka disediakan tempat berlatih di JIS. Maka, leg 1 betul-betul menjadi awal Burundi mempelajari segalanya tentang Timnas Indonesia, cuaca, hingga kondisi lapangan saat diguyur hujan dan gerimis.
Dan, yang pasti, Timnas Indonesia yang berperingkat 151, alias 10 tangga di bawah Burundi, ternyata pola pendekatan bermainnya cukup taktis. Sehingga, diyakini bahwa Burundi akan lebih serius di pertemuan kedua. Setidaknya, seperti di babak kedua leg 1.
Itulah kenapa, pada pertemuan kedua nanti, Indonesia vs Burundi bisa saja akan berakhir imbang. Atau, justru menjadi kemenangan di pihak Burundi.
Walaupun sebagai WNI, harapan saya tentu Indonesia dapat kembali menang, meski dengan skor tipis, yakni 1-0 atau 2-1.
Apa pun hasilnya itu tidak semata-mata untuk perbaikan peringkat Indonesia di FIFA, melainkan sebagai obat pelipur kegalauan atas drama drawing Piala Dunia U-20 2023 yang dibatalkan FIFA karena polemik penolakan Israel untuk bermain di Indonesia.
Ya, bila Indonesia gagal segera menyelesaikan permasalahan tersebut, bukan tidak mungkin Indonesia batal menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 2023. Juga, bisa saja, Indonesia akan disanksi FIFA lantaran dengan seenak jidat melakukan boikot terhadap tim peserta yang punya hak untuk bertanding di putaran final Piala Dunia U-20 2023 dengan keringat yang telah mengucur di atas lapangan.
Bayangkan saja, bila Indonesia diboikot negara lain, dan timnasnya berhak bermain di turnamen yang digelar di negara tersebut. Apa yang dirasakan masyarakat Indonesia?
Dan, bila Indonesia betul-betul terkena sanksi FIFA akibat polemik tersebut, bisa saja peringkat Indonesia akan kembali terjun bebas seperti pada 2015 lalu. Jika begitu, sepak bola Indonesia akan makin semenjana saat negara-negara lain terus berkembang.
Siapa yang rugi?
Indonesia.
Beri Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!