Faktor rekam jejak awal di teater dan kemauannya terus mengembangkan kualitas berakting membuatnya dapat bertahan lama di jagat hiburan yang semakin modern. Bahkan, ia juga masih mau belajar bermain opera lewat pementasan "Gandari 3" (2019).
Apa yang dilakukan Christine Hakim bukti bahwa untuk bertahan, pelaku teater tidak hanya membawa pengalamannya, tapi juga mau mempelajari hal baru. Ini yang membuat Christine Hakim masih patut diperhitungkan di dunia kesenian, termasuk teater lewat kepribadiannya yang mau menyesuaikan diri dalam berkarya.
Nama selanjutnya adalah Ken Zuraida. Nama yang sebenarnya masih dikenal para pelaku teater dan kesenian Indonesia.
Selepas kepergian Rendra (2009), Ida masih berupaya mempertahankan Bengkel Teater Rendra. Saat 2014 ia pernah membuat pementasan di Tegal.
Ia juga bersedia menjadi pembicara di diskusi-diskusi teater di berbagai daerah. Ini membuat dirinya masih dianggap peduli dengan teater Indonesia.
Kemudian, ada Ayu Utami yang pernah berkolaborasi dengan Agus Noor membuat naskah "Sidang Susila" (2008). Jika Agus Noor masih berkarya di Teater Gandrik dan bersama Indonesia Kaya, maka Ayu Utami selain dikenal sebagai penulis, juga merupakan kurator di Teater Utan Kayu yang kemudian kini dikenal sebagai Komunitas (Teater) Salihara.
Ayu Utami kemudian sering dikenal sebagai novelis. Selain terkenal lewat novel "Saman" (1998), ia juga masih produktif menulis dengan karya terbarunya adalah "Anatomi Rasa" (2019).
Nama yang kemudian mudah dikenali, khususnya bagi kaum milenial adalah Happy Salma. Secara pribadi, saya mengetahui nama Happy Salma di program televisi, sampai kemudian dia kini menjadi orang yang peduli dengan kesenian termasuk teater.