Jika itu merupakan asumsi pelaku teater, apa yang dibahas tentang hal teknis, sebenarnya bukan masalah. Memang, itu juga bisa dipertanyakan dan dibahas.
Namun, jika itu dilayangkan oleh penonton yang menganggap dirinya awam, saya merasa itu adalah kejanggalan. Mengapa demikian?
Menurut saya penonton awam, dalam hal ini adalah penonton teater, maka logikanya adalah ia tidak akan memikirkan tentang durasi pementasan. Kalaupun harus berpikir tentang durasi, mungkin dia perlu melihat kembali durasi pementasan teater pelajar.
Bukankah, biasanya pementasan itu berdurasi pendek? Atau, jika ingin dikaitkan dengan karya populer seperti film, bukankah di film juga ada film-film berdurasi pendek?
Artinya, durasi pementasan di teater juga bisa pendek. Dia tidak selamanya hadir dalam durasi satu jam atau sedurasi film-film box office. Tidak.
Tetapi, sebagai penonton awam memang dibebaskan untuk berasumsi atau berharap tentang berapa lama pementasan teater berlangsung. Semakin panjang durasi, mungkin akan setara dengan harga tiket yang telah ditebus.
Mungkin.
Hanya saja, saya juga perlu beranggapan bahwa sebagai penonton, apalagi mengaku sebagai penonton awam, sebaiknya menggunakan logika membeli secangkir kopi.
Saat membeli kopi, kita sebagai pengunjung warung kopi atau kafe, biasanya sudah membayangkan bagaimana citarasa kopi hitam yang akan dipesan. Tetapi, ketika sudah memesan dan meminum kopi tersebut, tidak jarang citarasanya sedikit mengejutkan apa yang sebelumnya dibayangkan.
Entah, kopinya kemanisan, kepahitan, atau ada rasa-rasa lain yang sepertinya berbeda dari kopi di tempat lain, bahkan di rumah. Artinya, sebagai pembeli kopi yang bahkan sudah bertahun-tahun meminumnya, juga masih bisa terkejut dengan kopi yang baru saja diminum.
Jika yang sudah bertahun-tahun meminum kopi segala merek dan segala tempat masih terkejut, apalagi yang baru saja meminum kopi. Pasti akan terkejut.