Semakin jauh, makin banyak yang saya lihat. Seperti, melihat penonton lain yang sedang bosan atau memang sebenarnya tidak ingin menonton pertunjukan lalu asyik bermedia sosial. Atau, saya lebih sering memperhatikan dekorasi panggung, jatuhnya cahaya, dan sejenisnya.
Artinya, saya cenderung membangun imajinasi sendiri ketika semakin banyak yang saya lihat. Bahkan, ketika ada aktor yang pasif, justru itulah yang saya perhatikan. Aneh?
Sepertinya tidak. Karena, memang ini mungkin dilakukan ketika melihat pertunjukan secara langsung di panggung.
Ini seperti ketika menonton konser musik. Orang-orang yang berjingkrak-jingkrak di bawah panggung belum tentu terus memperhatikan vokalisnya, pasti pemain drum dan bass juga sempat dilihat dan bahkan diperhatikan.
Pada satu sisi, itu membuat kita sebagai penonton bisa bebas mengeksplorasi apa yang disajikan. Tetapi, bagaimana dengan kelekatan terhadap adegan dan kisahnya?
Secara pribadi, saya masih menganggap film lebih mampu menggugah 'perasaan' saya, sekalipun terkadang ceritanya sudah tidak spesial (mainstream). Tetapi, terkadang kekuatan kamera bisa membuat saya seolah dekat dengan tokohnya.
Sebelum merasa lekat, kita perlu dekat dulu. Logika sederhananya begitu. Itulah yang kemudian saya tangkap saat menonton "ENTAH".
Saya seperti dekat dengan seluruh tokohnya, apalagi dengan si TUAN. Adegan-adegannya cukup kuat, dan mampu membuat saya mengandaikan bahwa referensi aktornya adalah Joker. Mungkin.
Berdasarkan kedekatan itu, saya kemudian mulai cukup lekat dengan jalan ceritanya. Sedikit hanyut, karena saya juga merasa kesal dengan adegan antara NYONYA dan KAWAN.
Artinya, dengan keberadaan teknik sinematografi, saya tidak kehilangan 'perasaan' terhadap pementasan ini. Saya juga tidak merasa bahwa teknik ini akan mengancam eksistensi teater.