Hal ini yang berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Anis Hidayatie. Sepertinya dia belum pernah menyinggung tentang permasalahan literasi di Indonesia secara tertulis. Namun, dalam tindakan dan pembicaraannya, dia sangat fokus dalam upaya membangunkan semangat literasi masyarakat.
Masyarakat yang dimaksud ini bukan langsung kumpulan besar, tetapi dari kumpulan- kumpulan kecil. Seperti dari rekan sesama guru, dari sesama perempuan, baru kemudian bisa menjalar ke mahasiswa, pelajar, hingga masyarakat desa.
Kemudian, dia menjangkau kaum ibu-ibu rumah tangga, itu karena dia juga awalnya merasakan bagaimana dirinya sangat sibuk merawat rumah tangga ketika anak-anaknya masih kecil dan ada suami. Atas dasar itu, ia ingin membuat perubahan kebiasaan pada kaum ibu-ibu rumah tangga agar tidak hanya bergantung pada karier suami, melainkan juga punya kebiasaan atau hobi yang menarik dan tetap bermanfaat secara luas--implisit dan eksplisit.
Ketika Anis mulai menjangkau dan merangkul kaum mahasiswa, itu karena dulu dia pernah menjadi pimpinan redaksi majalah di UIN Malang. Artinya, dia melakukan pergerakan literasi tidak sekonyong-konyong saat dia mulai harus hidup mandiri pasca meninggalnya sang suami tercinta.
Dia membangun dan mengembangkan semangat literasi itu dari kala masih menjadi mahasiswa. Ada modal yang hebat dari dulu, alias tidak instan atau berdasarkan tren masa kini belaka.
Itulah yang membuat apa yang dia lakukan tidak mengandung keterpaksaan dan pemaksaan. Dia tidak terpaksa, juga tidak memaksakan diri atau orang lain untuk mengikuti jejaknya dalam upaya memperbaiki tingkat literasi.
Semua pergerakan dan perbaikan adalah berangkat dari kemauan diri sendiri. Jika tidak, maka pergerakan dan perbaikan itu akan menjadi gebrakan belaka.
Seperti kembang api yang dinyalakan saat tengah malam dan dapat mengejutkan orang yang sudah tidur. Tapi, setelah itu orang yang sudah terbangun itu akan kembali tidur dan melupakan keterkejutan atau keterpesonaannya dengan kembang api tadi.
Itulah yang tidak akan terjadi pada Anis Hidayatie. Dia memulai segala usahanya membangkitkan literasi dari orang-orang terdekatnya. Begitu pula dalam upaya mempertahankan semangat literasi pada masyarakat sekitarnya, dia tidak lupa untuk menjangkau kaum anak-anak.