Terkadang saya heran dengan apa yang sedang hype saat ini. Karena, apa yang sedang dihebohkan sebenarnya adalah hal yang biasa. Salah satunya adalah bersepeda.
Bagi saya, bersepeda itu seharusnya menjadi hal yang biasa. Namun, seiring berjalannya waktu bersepeda seolah bergeser dan terombang-ambing di antara hobi, olahraga, dan perbedaan status sosial.
Bersepeda bisa menjadi hobi ketika dilakukan dengan tanpa alasan. Misalnya, seorang guru bersepeda ketika ke sekolah, meski koleganya menggunakan sepeda motor atau malah mobil.
Terlepas dari faktor jarak atau pendapatan, si guru itu tetap bersepeda sampai menjelang pensiun sebagai tenaga pendidik. Bahkan, bisa saja kita melihat di rumahnya ternyata ada sepeda motor hingga mobil.
Jika ilustrasi itu kurang dapat dilihat, maka saya bisa merekomendasikan sebuah serial Korea yang berjudul "My Beautiful Bride". Di situ kita bisa melihat bersama, bahwa ada seseorang yang nyatanya bisa menggunakan mobil, namun ketika ke tempat kerja dia selalu menggunakan sepeda.

Kemungkinan pertama adalah penggowes biasanya harus identik dengan pakaian praktis. Jika terlalu lebay, bisa berbahaya. Pakaian praktis inilah kemudian seolah mempertegas bagaimana strata si penggowes.
Kemungkinan kedua adalah usia. Penggowes identik untuk kalangan usia muda dan tua. Kecepatan dan kontrolnya yang masih rendah dan mudah membuat pengemudinya seharusnya di dua golongan usia itu. Karena dengan sepeda, keamanan mereka lebih terjamin daripada harus mengemudikan kendaraan bermotor.
Kemungkinan ketiga, bersepeda adalah alternatif. Ketika seseorang tidak mampu membeli kendaraan bermotor, maka orang tersebut hanya bisa membeli sepeda. Kemungkinan ini tidak salah, karena memang ada juga orang yang melakukannya.
Tetapi mengapa bersepeda juga menjadi media berolahraga?
Pertama, karena bersepeda bukan kendaraan prioritas. Ini sama seperti CFD yang hanya ada di hari Minggu. Uniknya, mereka yang datang ke CFD juga ada yang masih menggunakan kendaraan bermotor.
Kedua, karena bersepeda itu spesial. Seperti orang yang bisa ke tempat gym. Maka, bersepeda hanya untuk orang-orang yang mau menjaga tubuhnya.
Ketiga, karena biasanya kita melihat orang bersepeda dengan pakaian ala pembalap sepeda. Begitu juga dengan adanya rombongan bersepeda, membuat seolah bersepeda adalah sesuatu yang hanya untuk bersenang-senang, bukan untuk kebutuhan yang serius.
Jika melihat konsep-konsep tersebut, saya pikir memang pola pandang terhadap bersepeda sudah tergeser. Dari yang biasa menjadi tidak biasa.
Ini juga seolah kembali ke masa pra-kemerdekaan yang mana masyarakat Indonesia lebih jamak berjalan kaki dibandingkan bersepeda. Karena orang yang bersepeda identik sebagai kalangan borjuis.

Hingga kemudian muncullah mindset bersepeda untuk olahraga atau pun untuk senang-senang belaka. Ini pun berkaitan dengan penggolongan usia. Seperti menghadiahkan sepeda ketika lulus SD, lalu ketika lulus SMP hadiahnya adalah sepeda motor.
Begitu pun ketika tua, bisa saja kita berpikir bahwa bersepeda adalah cara untuk bernostalgia. Bahwa dulu saya pernah muda, pernah bisa menggowes sampai 10 km, dan sebagainya.
Penggambaran ini terasa menyedihkan bagi saya, karena bersepeda seperti aplikasi joget yang harus diviralkan. Padahal seharusnya bersepeda itu masih masuk kategori pola hidup yang primer, yang artinya biasa saja.

Menggunakan istilah tren kesehatan sebenarnya sudah cukup terpaparkan di penjelasan sebelumnya. Bahkan, tanpa membaca pemaparan di sini, pembaca sudah bisa memikirkannya sendiri berdasarkan update dari feed dan story di akun media sosial para figur publik.
Namun untuk istilah intimidasi, saya ungkap karena berdasarkan pengalaman saya ketika menggowes di jalan raya. Bukan karena pembagian ruas jalan, melainkan karena sulitnya penggowes untuk melakukan pembelokan ke sisi jalur yang berbeda.
Jika menggunakan kendaraan bermotor, kita sangat terbantu dengan adanya indikator lampu sein yang memberitahukan ke arah mana si pengendara akan melaju. Sedangkan di sepeda tidak banyak yang terdapat indikator tersebut.
Memang ada sepeda yang terdapat indikator semacam itu, tapi biasanya ada di sepeda cantik dan mahal. Sedangkan untuk sepeda biasa, seringkali tidak ada.
Begitu pun dengan munculnya suara yang menurut saya lebay ketika menyalakan indikator tersebut. Ini membuat saya merasa masih banyak kendala untuk menggowes secara aman di jalan raya.
Hal ini semakin menghantui saya ketika beberapa waktu lalu, saya harus mengalami kecelakaan. Ketika itu saya akan berpindah jalur dari kiri ke kanan, karena harus belok ke arah tujuan, yaitu stasiun kereta.
Karena saya ada di sisi kiri sedangkan jalan menuju ke stasiun ada di sisi kanan, maka saya harus "menyeberang". Seperti biasa, saya pasti melambaikan tangan kanan untuk memberitahu kendaraan di belakang bahwa saya mau ke kanan.
Beberapa kendaraan--seperti biasa, tahu itu. Bahkan sebuah mobil putih pun akhirnya melambat karena tahu situasi tersebut. Namun, ketika saya sudah nyaris di garis tengah jalan untuk mengambil jalan sisi kanan, mendadak ada motor kencang yang langsung menyenggol saya.
Benar, menyenggol. Seandainya ditabrak pasti nasib saya lebih buruk. Bisa saja saya sudah tidak menghasilkan tulisan lagi.
Walau demikian, karena sepeda vs sepeda motor, tetap saja saya harus jatuh, begitu pun sepeda saya yang harus terpelanting. Satu hal yang masih bisa saya ingat adalah di belakang saya ada mobil, maka seperti film action, saya pun langsung berdiri untuk menyingkir.
Sedetik kemudian saya kembali jatuh karena ternyata kaki saya cedera. Kenahasan saya semakin berlipat karena si pengendara motor yang berkaos putih itu tidak menghampiri saya. Minta maaf saja, pasti akan saya terima.
Tapi saya juga tidak tahu dengan sistem kontrol massa. Bisa saja akan dihakimi atau pun langsung dijebloskan ke penjara, karena markas polisi sebenarnya hanya berjarak beberapa meter.
Meski saya juga tidak berekspektasi demikian. Terasa mustahil, dan terlalu drama.
Saya tentu tidak akan menceritakan pasca kejadian secara detil. Karena sudah bisa ditebak, bahwa masyarakat sekitar pasti akan datang untuk menolong.
Akhirnya jadwal untuk pesan tiket kereta jalur lokal saya batalkan. Beberapa agenda harus batal juga, termasuk untuk datang ke acara Patjar Merah. Saya pun akhirnya harus fokus memulihkan kaki yang "gemuk" sebelah.
Pengalaman ini terpaksa saya bagikan untuk menunjukkan bahwa nasib pesepeda di jalan raya bisa dikatakan sangat terintimidasi. Apa yang terlihat di feed, story, hingga vlog tidak seindah kenyataannya.

Karena tetap saja saya berpikir bahwa bersepeda itu adalah hal yang sama ketika kita menggunakan sepeda motor ataupun mobil. Para pesepeda juga berhak menggunakan jalan.
Jadi, ketika ada viral tentang bersepeda, saya harap ini menjadi gerbang bagi Indonesia untuk peduli terhadap hak bersepeda. Untuk pemerintah tentu diharapkan dapat memberikan kebijakan dan fasilitas untuk pesepeda.
Sedangkan untuk masyarakat, marilah kita saling menjaga gaya berkendara. Karena, nyawa kita saat berkendara sudah menjadi modal untuk bertaruh antara hidup atau mati di jalan.
Malang, 25-28 Juni 2020
Deddy Husein S.
Sebuah catatan kecil:
Tidak lama setelah itu, dengan sangat kebetulan PT. KAI meluncurkan KAI ACCESS. Meski saat itu saya sudah ada di Malang, dan sejak saat itu sampai sekarang belum pernah pulang kampung/menggunakan KAI ACCESS. Namun, setidaknya luapan kritik--mengapa pesan tiket masih offline--dalam pikiran saya berhasil menjadi kenyataan. Hehe.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI