Pertanyaan itu mengisi pikiran penulis, ketika awalnya (pasca pengundian babak 16 besar) menduga bahwa pergantian pelatih pada Napoli akan menguntungkan Barcelona. Karena secara jam terbang, Gennaro Gattuso jelas masih kalah jauh dengan Carlo Ancelotti. Namun, dalam beberapa laga terakhir, termasuk saat melawan Inter Milan, Napoli mulai terlihat unpredictable.
Sewaktu-waktu mereka terlihat dapat bermain dominan, sewaktu-waktu mereka juga terlihat seperti "enggan" menguasai bola dan fokus pada pertahanan serta mengincar counter-attack. Inilah yang membuat Inter Milan dapat mereka kalahkan.
Uniknya, Internazionale awalnya merupakan pesaing Barcelona di fase grup. Namun tim asuhan Antonio Conte gagal bersaing dengan klub asal Catalan itu dan Borussia Dortmund.
Bercermin pada apa yang terjadi di fase grup tersebut dan membangun optimisme sejak berhasil menggoyahkan optimisme Inter Milan di Coppa Italia, Napoli terasa semakin percaya diri untuk menghadapi Barcelona. Suatu hal menarik lagi ketika Barcelona tiba ke San Paolo dengan pelatih baru, bukan Ernesto Valverde yang sebelumnya berhasil mengantarkan Messi dkk. lolos sebagai juara grup.
Kini di tangan Quique Setien, Barcelona disebut-sebut akan lebih baik, khususnya dalam segi permainan. Namun, dalam segi hasil pertandingan, mereka sebenarnya masih bisa disebut biasa-biasa saja sebagai klub dengan nama besar seperti Barcelona.
Tim yang tidak diunggulkan pasti akan berupaya mencari gol terlebih dahulu. Ditambah dengan status sebagai tuan rumah, maka mencetak gol adalah hal yang wajib bagi mereka agar pekerjaan di laga kedua tidaklah terlalu berat. Idealnya begitu.
Barcelona berhasil menjawab prediksi ideal untuk klub besar yang bertandang duluan dan harus mencari modal yang meringankan beban mereka saat menjamu Napoli di Camp Nou nanti. Satu gol dari Antoine Griezmann terasa cukup, karena Napoli gagal kembali unggul dan membuat kedudukan tetap 1-1 sampai peluit akhir pertandingan terdengar.
Namun, sebagai klub besar dan dijagokan untuk menang (sedikit mudah), seharusnya dapat mengalahkan Napoli. Suatu hal yang dapat mereka lakukan di fase grup ketika melawat ke markas Inter Milan.
Mereka yang turun tanpa Messi justru sanggup mengalahkan Il Biscionne dengan skor 1-2 (11/12). Melihat hal itu maka penulis berpikir bahwa, mengapa tidak untuk mengulanginya lagi? Apalagi dengan Messi di lapangan.