Mohon tunggu...
Dean Ruwayari
Dean Ruwayari Mohon Tunggu... Human Resources - Geopolitics Enthusiast

Belakangan doyan puisi. Tak tahu hari ini, tak tahu esok.

Selanjutnya

Tutup

Worklife Pilihan

Panti Perawatan Lansia Demensia

3 Januari 2021   02:25 Diperbarui: 3 November 2021   23:36 1605
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi lansia.(Thinkstockphotos via KOMPAS)

Saya selalu suka di sini. Selain pemandangan indah memanjakan mata, ada pengalaman berharga dalam memaknai hidup di tempat saya bekerja ini.

Tempat ini merupakan sebuah perumahan di kota kecil kami, Kota Kohoin. Di sini ada 28 rumah untuk enam sampai tujuh orang di tiap rumah. Terdapat pusat perbelanjaan kecil dengan restoran, kafe, bioskop, pasar swalayan, dan tempat karaoke. Ada jalan-jalan, gang-gang, sawah dan kebun. Sebenarnya tempat ini adalah panti perawatan, pemda kami menamakannya sesuai nama kota "Panti Perawatan Kohoin", panti perawatan untuk orang-orang yang hidup dengan demensia akut dan membutuhkan perawatan serta dukungan 24 jam. Pasiennya kebanyakan orang lanjut usia atau lansia.

Merawat para lansia demensia ini membuat saya makin menghargai usia dan waktu saya di bumi.

Demensia merupakan penyakit yang mengerikan, dan kita masih belum punya obatnya. Hal ini menjadi masalah yang pelik di dunia, bagi orang-orang yang punya orang tua atau anggota keluarga menderita demensia, juga para politisi Kohoin yang tertarik membicarakannya saat kampanye politik.

Demensia merupakan penyakit yang mempengaruhi otak. Otak kebingungan. Penderitanya tidak tahu lagi jam berapa sekarang, apa yang sedang terjadi, juga mereka tidak mengenali siapa orang-orang yang sedang berbicara dengan mereka, yang mungkin merupakan teman atau keluarganya. Mereka sangat bingung. Dan karena kebingungan itu, mereka menjadi gelisah, depresi, agresif.

Sebelumnya saya bekerja di panti perawatan tradisional sebagai manajer perawatan. Saya dan perawat lain sering berbicara bersama tentang fakta bahwa apa yang kami lakukan di sana bukanlah yang diinginkan untuk orangtua,teman-teman, maupun diri kami sendiri. Dan suatu hari, kami berkata,"Kalau kita terus bicara seperti ini,tidak ada yang akan berubah.Kita yang memimpin di sini. Kita harus melakukan sesuatu bagi hal ini,supaya kita merasa aman jika orangtua kita berada di sini."

Kami membicarakannya, dan apa yang kami lihat setiap hari adalah para lansia yang tinggal di panti perawatan kami merasa bingung dengan lingkungan mereka, karena apa yang mereka lihat adalah lingkungan yang mirip rumah sakit, dengan dokter, perawat dan paramedis berseragam,lalu orang-orang demensia yang tinggal dalam bangsal.

Para pasien ini tidak mengerti mengapa mereka tinggal di sana. Kemudian mereka mencari tempat untuk melarikan diri. Mereka mencari dan berharap untuk menemukan pintu agar bisa kembali pulang ke rumah. Kami berpendapat bahwa menciptakan situasi ini sama seperti menawarkan pasien yang otaknya sudah bingung dengan lebih banyak kebingungan baru. Kami menambahkan kebingungan pada kebingungan.
Dan bukan itu yang mereka butuhkan. Mereka ingin mendapatkan kehidupan, dan bantuan kita dalam menghadapi demensia.

Mereka ingin hidup di rumah yang normal, bukan di bangsal. Mereka menginginkan rumah yang normal, di mana mereka bisa mencium aroma makan malam dari kompor di dapur. Atau bebas ke dapur dan mengambil makanan atau minuman. Itulah yang dibutuhkan orang-orang ini. Dan itulah yang harus kami atur bagi mereka. Lalu kami setuju untuk mengatur tempat tinggal mereka seperti di rumah, sehingga mereka tidak dikelompokkan dalam 15, 20 atau 30 orang, seperti di bangsal.

Sebaliknya mereka ditempatkan dalam kelompok kecil, hanya enam atau tujuh orang, seperti keluarga yang mereka butuhkan. Seperti tinggal bersama teman-teman. Dan kita harus menemukan cara untuk memilih orang-orang berdasarkan pandangan mereka akan hidup, sehingga mereka berkesempatan untuk berteman saat mereka hidup bersama. Dan kami mewawancarai semua keluarga dari para residen tentang "apa yang penting bagi ayah Anda," "apa yang penting bagi ibu Anda," "seperti apa kehidupan mereka," "apa yang mereka inginkan."
Kami menemukan tujuh kelompok, dan kami menyebutnya kelompok gaya hidup.

Sebagai contoh, kami menemukan gaya hidup formal. Dalam gaya hidup ini, orang-orangnya menggunakan cara yang formal untuk saling berinteraksi, berinteraksi dalam jarak. Kegiatan harian mereka dimulai lambat, diakhiri lambat. Musik klasik lebih terdengar dalam kelompok ini dibandingkan dengan kelompok lain.

Lain halnya dengan gaya hidup perajin. Gaya hidup ini sangat tradisional. Orang-orangnya bangun pagi-pagi, pergi tidur awal, karena mereka sudah bekerja keras selama hidup mereka, kebanyakan dengan tangan, sangat sering mempunyai bisnis keluarga yang kecil, peternakan kecil, took, atau seperti Pak John, beliau adalah petani. Dan beliau berkata pada saya ia berangkat kerja setiap pagi dengan rantang berisi makan siangnya dan sebatang rokok. Hanya sebatang rokok itulah kemewahan yang mampu dinikmatinya. Dan sehabis makan, ia akan menghisap rokok itu. Dan sampai hari meninggalnya di sini, beliau berada di dangaunya, setiap hari, sehabis makan siang, merokok.

Lalu ada ibu saya. Beliau termasuk gaya hidup kultural, saat ini ibu sudah lima bulan berada di sini. Gaya hidup kultural itu tentang berpergian, bertemu orang dan kebudayaan lain, serta berminat pada seni dan musik.

Ada banyak lagi gaya hidup. Tapi setidaknya dua gambaran di atas bisa memberikan gambaran tentang hidup bagi para lansia demensia ini di dalam rumah bersama sekelompok orang yang sepikiran, dan juga serasa seperti hidup mereka yang biasanya. Kita adalah makhluk sosial, artinya kita butuh kehidupan sosial. Dan kami berangkat dari pemahaman tu.

Kita ingin keluar rumah dan berbelanja, dan bertemu orang lain. Atau sekedar hangout bersama teman-teman. Atau seperti Pak Gerson, beliau suka keluar setiap hari, makan siang atau makan malam dengan teman dan merayakan hidup. Atau ibu saya, beliau suka berjalan-jalan di taman, dan duduk di bangku di bawah matahari, berharap ada orang lewat dan duduk di sebelahnya dan mengobrol tentang kehidupan atau tentang bebek-bebek di kolam.

Kehidupan sosial itu penting. Artinya kita adalah bagian dari masyarakat, kita punya tempat di dalam maasyarakat. Dan itulah yang dibutuhkan banyak orang. Bahkan untuk lansia yang hidup dengan demensia akut.

Hal inilah yang saya lihat dari jendela kantor saya. Suatu hari, saya melihat seorang wanita datang dari satu sisi, dan wanita lain dari sisi lainnya, dan mereka bertemu. Saya mengenal kedua wanita ini dengan baik. Sudah tugas saya untuk sering berjalan-jalan di luar menjaga mereka. Dan sering saya mencoba mengobrol dengan mereka, tapi percakapan mereka agak sulit dimengerti. Tapi saya melihat mereka berbicara, dan saya melihat mereka membuat gestur. Dan mereka asyik bersama. Kemudian mereka mengucapkan selamat tinggal dan masing-masing pergi sendiri.

Itulah yang kita inginkan dalam hidup, bertemu orang lain dan menjadi bagian dalam masyarakat. Itulah yang saya lihat terjadi. Tempat ini sudah menjadi tempat di mana lansia dengan demensia akut bisa hidup, memiliki kebebasan dan keamanan, sebab para profesional dan sukarelawan yang bekerja di sini tahu bagaimana menangani demensia. 

Mereka tahu bagaimana bekerja secara professional yang cocok dengan cara hidup alami para lansia kami. Dan itu artinya manajemen harus menyediakan segalanya yang dibutuhkan oleh mereka untuk bekerja. Hal tersebut membutuhkan manajemen yang berani untuk melakukan hal yang berbeda dari yang selama ini dilakukan oleh panti perawatan tradisional.

Kami melihat Panti Perawatan Kohoin berhasil dan berpikir hal ini bisa dilakukan di mana saja, karena ini bukan untuk orang-orang kaya. Kami sudah melakukan ini dengan anggaran yang sama dengan beberapa panti perawatan tradisional. Dan bekerja hanya dengan anggaran daerah dari kota kecil kami. Jadi kami rasa hal ini bisa diterapkan di mana pun sekaligus menjadi solusi bagi problem generasi sandwich.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Worklife Selengkapnya
Lihat Worklife Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun