Melihat perkembangan keuangan digital hari ini, saya menjadi ingat PT Pos Indonesia. Sekitar 10 atau 15 tahun silam, kita hanya mengenal PT Pos untuk mengirim barang dan dokumen. Â Sebagai perusahaan kurir tertua, jaringannya luas hingga ke pelosok daerah paling dalam. Didukung oleh keuangan yang solid, SDM yang besar dan berpengalaman, PT Pos Indonesia adalah raja kurir,
Tapi lihatlah hari ini. Meskipun mampu bertahan, bahkan merespon dengan beberapa inovasi pelayanannya, PT Pos seperti tenggelam di tengah pertarungan perusahaan kurir swasta seperti JNE, J&T, Sicepat, Tiki, RPX, bahkan Grab atau Gojek.
Kesalahan PT Pos diulang oleh BUMN dalam merespon perkembangan bisnis uang digital. Para petinggi BUMN Â lamban bergerak dan hanya berpikir text book. Mereka tidak mampu melihat perubahan zaman, sehingga mustahil bisa mengendalikan ke arah mana dunia ini akan digerakkan.
Sementara perusahaan seperti Grab dan Gojek digawangi oleh anak muda kreatif, lincah dengan pemikiran out of the box yang segar dan inovatif. Grab dan Gojek dibangun dengan visi, berfondasi kreatifitas, ditenagai dapur pacu semangat anak muda.
Tim kecil Gojek dan Grab bekerja siang malam. Mereka mampu bermanuver sangat lincah. Ibarat mobil balap di tengah kepungan truk-truk raksasa yang membawa kontainer. Hanya dalam hitungan bulan, mereka mampu menyalip para raksasa buta yang bergerak lamban itu.
Hasilnya, hari ini kita melihat rupiah mulai tergeser oleh uang digital yang nukleusnya dimiliki dan dikendalikan oleh pihak swasta. Semakin mengguritanya keuangan digital ini tentunya akan menggeser peran negara sebagai pencetak uang. Lebih-lebih BUMN, perannya akan semakin terpinggirkan oleh perusahaan swasta. Apalagi BUMN sering bertindak seperti penguasa otoriter, anti kritik  dan enggan melakukan evaluasi.
Jangan heran kalau kita akan semakin sering mendapatkan berita BUMN merugi, atau mungkin santernya berita pengurangan karyawan BUMN. Karena fasilitas dan gaji selangit para direktur serta manajemennya, membuat para petinggi BUMN cenderung "mencari selamat" dengan memoles laporan-laporan keuangan dan kinerjanya. Realitanya bisa jadi jauh panggang dari api.
Jika pengelolaan BUMN masih menggunakan cara-cara lama yang kaku dan tidak inovatif. Apalagi kalau hanya mengandalkan privellege dan keistimewaan dari negara, jangan heran jika di era digital ini semakin banyak BUMN yang kerdil dan rontok. Meski pun BUMN tersebut diamanahkan memegang bidang yang strategis.
Bogor, 19 Juli 2019
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H