Sebab sifat plastik yang tidak mudah terurai hingga butuh waktu ratusan tahun agar terurai secara alami. Belum lagi proses pengolahannya yang bisa menimbulkan toxic dan sifat karsinogen si pemicu kanker yang menyertainya. Yang menyedihkan lagi menurut World Economic Forum, Indonesia menduduki peringkat kedua sebagai penyumbang sampah plastik terbesar setelah China.Â
Wanita Less Paper
Selain plastik, keberadaan kertas juga mengorbankan alam. Berapa pohon yang ditebang untuk menghasilkan selembar kertas? Untungnya sekarang  era paperless dimana segala transaksi bisa dilakukan secara digital, inilah yang menyebabkan ribuan kantor cabang perbankan ditutup.Â
Ini jelas merupakan penghematan dalam dunia perbankan yang tiada tara, tak perlu menyewa/ memiliki gedung, karyawan berikut segala gaji dan tunjangan berkurang dan pastinya segala penggunaan kertas juga berkurang. Â Tak hanya transaksi keuangan yang paperless, menulis dan membaca novelpun marak dilakukan melalui aplikasi online.
Dilain pihak secara pribadi, saya membutuhkan hard copy dari riset dan naskah untuk dicoret-coret lagi. Untuk menghindari "waste" biasanya saya memakai kertas bekas print yang sudah tidak terpakai lagi. Ini sangat mengurangi sampah kertas dan uniknya kebiasaan ini berasal dari kebijakan kantor 15 tahun lalu dimana owner bank ( yang juga owner pabrik kertas ) tempat bekerja minta agar memo internal, korespondensi internal juga harus diprint dengan kertas bekas (dokumen-dokumen yang sudah tidak terpakai).
Hanya langkah-langkah kecil yang paling tidak jangan menjadikan wanita paruh baya ini sebagai kontributor perusak alam. Mungkin karena faktor U, upaya saya ya segitu-gitu saja.Â
Beda dengan yang masih usia muda dan penuh energi seperti  2 gadis milenial ini yang diantara kegabutannya karena WFH jadi berfikir untuk melakukan hal positif bagi kantong serta bagi alam. Berangkat dari larangan pemakaian tas plastik kresek di supermarket, minimarket dan tempat perbelanjaan membuat mereka mencari alternatif tas belanja. Tas anyaman dari plastik daur ulang yang dibuat pengrajin wanita di beberapa kota di Jawa Timur jadi jawabannya.Â
Pemasaran melalui sosial media Instagram serta Whatsapp sukses mengantarkan mereka meraup penjualan 1000 unit tas dalam waktu 4 bulan yang mendaur ulang 330 kg plastik serta meningkatkan pendapatan para pengrajin hingga 20%. Tak heran profile bisnis mereka sampai diangkat oleh Kemenko PMK.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H