Mohon tunggu...
darwinarya
darwinarya Mohon Tunggu... Foto/Videografer - Photographer Specialized Hotels and Resorts

Travel Enthusiast. Hospitality Photography Junkie

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Pilihan

Warung Pecel yang Terang Benderang

17 Juni 2016   02:00 Diperbarui: 19 Oktober 2016   15:13 293
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bila nasi pecel dibungkus untuk disantap di rumah, media pembungkusnya memakai styrofoam khusus makanan. Tidak memakai kertas minyak.

Berawal dari rasa penasaran, dilanjutkan pengen cicip, eh ... jodoh. Ya sudah, lanjut deh jadi warung langganan.

Tiap kali lewat, Warung pecel Jeje selalu menarik perhatian saya. Tempatnya terang benderang. Selalu ramai dikerumuni para pembeli. Apalagi saat warung baru buka, atau sekitar pk 18.30an Wita. Wih ... Itu yang antri, luar biasa.

Untuk menjawab rasa keingintahuan, mampir lah kami berdua ke warung tersebut.

Warung Pecel Jeje terletak di jalan Tukad Pakerisan, Panjer, Denpasar. Berada persis di depan persimpangan jalan Tukad Petanu. Buka tiap Senin – Jumat. Mulai pk.18.00 Wita – habis terjual.


Belakangan saya baru tau, bumbu pecelnya bikinan sendiri. Pantas rasanya enak. Berbeda dari penjual pecel kebanyakan.

Sang pemilik meracik bumbu pecelnya tiap Sabtu. Proses memasaknya, menghabiskan waktu sehari penuh. Dibikin dalam porsi besar yang kemudian disimpan. Buat persediaan selama satu minggu ke depan.

Sementara hari Minggu, pergi beribadah sekaligus meluangkan waktu berkumpul bersama anggota keluarga.

“Kalau dibikin (bumbu pecel) tiap hari, wah ya waktunya itu Mas, yang enggak cukup,” ujar pemilik menjelaskan.

Selain usaha kuliner, mereka juga punya usaha lain yakni toko aki kendaraan bermotor. Itu lah sebabnya nasi pecelnya hanya buka di malam hari.

Dalam menjalankan roda bisnis per-pecel-an, pasangan suami istri ini turut mengajak serta kedua buah hatinya yang berusia remaja.

Enak dan Higienis

Bila nasi pecel dibungkus untuk disantap di rumah, media pembungkusnya memakai styrofoam khusus makanan. Tidak memakai kertas minyak.
Bila nasi pecel dibungkus untuk disantap di rumah, media pembungkusnya memakai styrofoam khusus makanan. Tidak memakai kertas minyak.
Berbagai macam sayur ditampung pada sebuah baskom besar yang telah dilapisi daun pisang. Di dalamnya, terdapat sayur bayam, tauge, kacang panjang, daun kemangi, potongan mentimun berbentuk dadu dan kubis.

Adapun lauk tersedia, tempe & tahu goreng, tempe bacem, ceplok telur mata sapi (matang dan setengah matang), telur asin serta dadar jagung.

Khusus lauk ayam, dimasak berbeda tiap harinya. Sebelumnya saya membeli ayam bumbu kuning. Esok malamnya, dibikin ayam bakar kecap. Ada juga ayam bumbu merah atau hanya sekedar digoreng biasa.

Yang membedakan Warung Jeje dengan penjual pecel lainnya adalah, soal kebersihan dalam penyajian. Mereka memakai capit khusus untuk mengambil makanan. Ada capit sayuran, ada pula capit lauk. Keduanya dipisah. Jadi tidak asal comot tangan begitu saja.

Sang 'pemain utama' dalam hidangan satu ini, sudah barang tentu bumbu pecelnya. Sewaktu memesan, nanti kita ditanya, “mau pedas atau sedang?”. Silahkan pilih sesuai selera.

Tiap kali ke sini, lauk yang tak pernah saya lewatkan adalah tempe bacem. Saya dari kecil memang doyan makan tempe berwarna gelap itu. Kalau digoreng biasa, kurang begitu suka.

Rasa bumbu pada tiap lauk, menurut penilaian saya, tergolong pas. Seimbang antara manis, asin dan gurih. Tingkat kematangannya pun tepat.

Nah ... bagaimana soal harga? Kali itu saya makan dengan lauk tempe bacem dan ayam bakar kecap. Dibanderol Rp 16 ribu rupiah. Cukup terjangkau bukan?

Jeje Pecel

Jalan Tukad Pakerisan, Panjer, Denpasar.

Buka Senin – Jumat

Pk. 18.00 Wita - habis

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun