Harus diakui, salah satu faktor yang cukup mencolok atas kalahnya Indonesia adalah minim rotasi. Padahal jeda laga yang hanya satu hari belum cukup untuk memulihkan stamina pemain.
Dengan begitu, pemain rawan cedera karena wakth istirahat yang pendek. Selain itu, rotasi pemain juga penting guna menjaga kedalaman tim.
Di sinilah pentingnya rotasi itu. Pada laga pertama saat melawan Guam, Indonesia menurunkan semua inti. Padahal di atas kertas memakai pemain lapis kedua pun Indonesia masih bisa menang.
Apalagi sebanyak apa pun gol yang diraih dari Guam tidak masuk hitungan untuk runner-up terbaik. Pada laga awal kita terlalu menghabiskan banyak energi.Â
Begitu juga laga kontra Palestina. Laga ini juga tidak masuk hitungan poin pada saat penentuan runner-up terbaik. Seharusnya penyegaran pemain pada laga melawan Palestine berjalan. Pada laga inilah Iqbal harus cedera.
Seharusnya pada laga tersebut pemain inti tidak perlu dimainkan secara full. Berikan juga menit bermain pada pemain lapis kedua untuk bermain agar tidak kikuk.
Lain lagi dengan Malaysia, pada laga melawan Guam Malaysia menurunkan pemain cadangan. Hasilnya mereka ditahan imbang 1-1. Akan tetapi, kondisi fisik pemain utama pulih saat melawan Indonesia.
Bagi saya meski agak beresiko, strategi tersebut berhasil. Hal itu karena dari sisi mental Malaysia sebenarnya diuntungkan karena harus mengincar kemenangan.
Tentu tim yang mengincar kemenangan harga mati akan bermain habis-habisan. Jadi, dari sisi ini pun Malaysia sebenarnya sudah diunggulkan.
Sementara Indonesia dikejar dengan minimal target imbang. Itu sebabnya pada laga kemarin Malaysia bermain stabil. Build up serangan dari bawah.
Artinya rotasi pemain yang dilakukan oleh Malaysia berjalan baik. Sementara itu, rotasi yang dilakukan Indonesia tidak berjalan baik sehingga pemain kunci yakni Iqbal harus menepi karena cedera.