Selain itu, uang yang dipakai untuk trading haruslah uang dingin alias uang diam. Uang yang tidak dipakai untuk kebutuhan sehari-hari. Nyatanya, banyak dari kita memakai uang kebutuhan sehari-hari.
Jika sudah begitu, maka rugi miliaran rupiah tidak bisa dihindari. FOMO atau sekedar ikut-ikutan tren memang menjadi persoalan saat ini.
Contoh lain dalam kasus NFT, seperti yang kita ketahui, Ghozali mampu meraup cuan fantastis hasil dari penjualan foto selfie dirinya yang diunggah di opensea.
Banyak masyarakat yang FOMO dan ingin menjadi seperti Ghozali. Mereka kemudian mengupload foto selfie, foto baju, hingga foto KTP di opensea dengan harapan ingin seperti Ghozali.
Tapi, banyak dari mereka tidak memahami lebih dulu apa itu NFT dan risiko menunggah karya di opensea. Mengupload di opensea tidak bisa dihapus, jadi bayangkan mereka yang upload KTP di sana. Rugi bukan?
KTP adalah data pribadi yang seharusnya tidak dipost di ranah publik. Hal itu karena rawan disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Begitu juga dengan trading. Sebelum terjun ke sana, pahami lebih dulu apa itu investasi termasuk mekanisme platformnya seperti apa.
Saya sendiri orang yang kurang paham dengan dunia keuangan. Hanya saja saya selalu mengecek legalitasnya karena itu basic yang saya miliki.
Jika suatu platform tidak logis dan tidak legal pasti saya hindari. Apalagi, banyak binary option yang tidak mendapat ijin dari Badan Pengawas Perdagangan Berjanga Komoditi (Bappebti).
Untuk mengeceknya silakan kunjungi website bappebti.go.id. Dari kasus ini, PR yang harus kita perbaiki bahkan pemerintah adalah meningkatkan literasi keuangan masyarakat.
Begitu juga dengan pihak regulator yang seharusnya memberi penyuluhan pada masyarakar awam. Agar tidak banyak lagi masyarakat yang terjebak. Selain itu, kita sendiri jangan hanya sekedar FOMO alias ikut tren semata.