"Lu Shun itu seorang dokter kesehatan. Tapi kemudian ia meninggalkan pekerjaannya sebagai dokter karena katanya, bangsa saya bukan sakit badannya, melainkan mentalnya. Dan untuk itu sastralah obat yang dianggapnya paling mujarab. Jadilah ia sastrawan" (Achdiat K. Mihardja)
Itulah salah satu petikan tulisan Achdiat K. Mihardja dalam buku Tentang Kritik Sastra Sebuah Diskusi berjudul "Kakaren Simposium Kritik Sastra" (hal. 78-88) yang sudah dimuat dalam majalah Budaya Jaya, No 7 Th. I Desember 1968.
Mungkin benar bahwa sastra merupakan obat mujarab karena di sana terdapat roh, jiwa. Sastra bukan hanya sebatas tulisan yang kelihatannya indah dengan rangkaian bunyi, suku kata, kata, diksi, dan kalimat, tetapi lebih dari itu. Pendeknya, sastra itu penting.
Masalahnya, bagaimana kita memahami kalau sastra itu penting ? Jawabanya, mungkin sederhana, yaitu: membaca karya sastra dan sedapat mungkin menulis kesan-kesan membaca atau bila perlu menulis sastra sendiri.
Tapi, bukankah aktivitas membaca itu ditentukan juga oleh apakah karya sastra itu menarik atau tidak, indah atau asal-asalan ? Jawabanya "Ya". Karya sastra yang 'baik' akan dibaca dan diapresiasi.
Yang asal-asalan meskipun dibantu iklan dan berbagai promosi serta dana yang kuat dari industri buku, atau komentar tokoh-tokoh terkenal dan mungkin banyak dibeli untuk dijadikan pajangan rak buku, tetapi tidak dibaca. Atau kalau dibaca segera dilupakan.
Bukankah sebelum sampai ke pembaca, baik-buruknya karya sastra itu juga ditentukan oleh penerbit apakah diterbitkan atau tidak ? Ya ! Tapi, bukankah sebelum menerbitkan, redaksi itu membaca terlebih dulu dan menimbang-nimbang ? Tentunya demikian. Bukankah kekuatan di luar kepentingan sastra turut menentukan sastra itu ? Mungkin.
Bukankah karya sastra yang 'baik' kadang juga tidak dibaca dan menumpuk di gudang-gudang buku (untuk tidak menggunakan istilah perpustakaan)? Kalaupun dibaca, hanya oleh sebagian kecil 'maniak' sastra ? Lalu, di mana pentingnya karya sastra itu ? Apakah bisa menjadi obat mujarab ? Siapa yang menentukan baik buruknya suatu karya sastra itu ? Pengarang ? Media massa ? Pembaca ? Lalu, apa pula perlunya karya sastra itu dinilai?
Mungkin sebagian besar jawabannya terletak pada peran pembaca. Bahkan Arief Budiman dan Goenawan Mohamad, menegaskan jika 1000 kepala yang menilai (pembaca, penulis), diharapkan 1000 penilaian. Tapi, bukankah kemampuan membaca dan menilai pembaca berbeda-beda ? Bukankah ada pembaca yang sungguh-sungguh, asal-asalan, coba-coba sampai mencobai ? Bahkan ada juga pembaca yang terlalu tajam dan menekankan detail, cari-cari kesalahan ?
Kritik Sastra
Pada titik itulah, lalu kita menjadi sadar tentang peranan kritik sastra. Buku terbitan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayan ini sangat bermanfat tentang pentingnya suatu kritik sastra dan bagaimana suatu kritik sastra dilakukan.
Yang menarik, buku ini tidak berusaha merangkum bagaimana suatu kritik sastra itu harus dilakukan. Ia merupakan hasil diskusi dari beberapa ahli tentang kritik sastra. Dan, waktunya pun sudah lama berlangsung sekali, yakni tahun 1978. Apalagi, menurut Prof. Dr. Amran Halim dalam prakatanya, sebenarnya sudah diterbitkan tahun 1970 dalam bentuk majalah stensilan Bahasa dan Kesusastraan oleh Lembaga Bahasa Nasional.
Tahun ini merupakan awal-awal berdirinya Orde Baru meskipun pemilu diadakan pada tahun 1971(sebenarnya penundaan dari jadwal semula 5 Juli 1968 oleh MPRS sehingga kekuasaan / senjata mengukuhkan dirinya sendiri hingga beberapa tahun dan konsekuensi di tahun-tahun berikutnya.).
Mengingat penerbitannya sudah lama, lantas apakah ini aktual untuk masa kini ? Tidak ketinggalan zaman ? Mungkin. Tapi, mengingat sastra kita tertinggal jauh dari bidang-bidang lain dan budaya membaca kita yang masih memprihatinkan, maka buku ini tetap berbicara lantang.
Buku yang berupa diskusi ini, dibagi dalam tiga bagian besar yang masing-masing terdiri dari beberapa tulisan. Bagian pertama berupa prasaran, bandingan, dan tanggapan.
Bagian ini sebenarnya yang menjadi utama buku ini yang diambil dari suatu diskusi 31 Oktober 1968. Sementara dua bagian lainnya merupakan latar depan dan latar belakang diskusi tersebut. Bagian kedua merupakan suatu reaksi berlanjut setelah forum diskusi usai.
Tanggapan itu dinyatakan dalam beberapa majalah dan surat kabar, seperti Horison, Mingguan Angkatan Bersenjata, Sinar Harapan, Indonesia Raya, dan Budaya Jaya (Bandung).
Bagian ketiga sebenarnya merupakan latar belakang sebelum pandangan-pandangan tentang kritik sastra dipertemukan dalam diskusi tahun 1968 itu. Tulisan-tulisan ini dimuat juga dalam beberapa majalah atau surat kabar, seperti Indonesia dan Horison.
Membaca buku ini seperti kita membaca sejarah kritik sastra Indonesia. Model kritik sastra di Indonesia sebenarnya banyak dilakukan H.B. Jassin sehingga ia dinobatkan sebagai "Paus Sastra Indonesia" oleh Gajus Siagian (?) seperti ditulis Goenawan Mohamad (hal. 49).
dokpri
Metode Ganzheit

Arief Budiman dan Goenawan Mohamad jelas berpendirian bahwa sastra perlu didekati dengan apa yang dalam Psikologi Gestalt disebut dengan Ganzheit. Kritik sastra perlu menggunakan 'metode' atau lebih tepatnya suatu sikap.
Dalam Psikologi Gestalt, suatu keseluruhan atau totalitas itu memiliki kualitas baru yang tidak sama dengan jumlah semua elemen-elemennya. Elemen-elemen itu ditentukan oleh totalitas dan bukan sebaliknya.
Lalu, apa itu metode Ganzheit itu ? Arief Budiman menjawab bahwa metode itu merupakan proses partisipasi aktif dari sang kritikus terhadap karya seni yang dihadapinya. Mula-mula tanpa konsepsi a priori apapun juga, sang kritikus membiarkan karya seninya secara merdeka berbicara sendiri. Kemudian terjadilah sebuah dialog, sebuah pertemuan, sebuah interferensi dinamis antara kedua subyek yang hidup dan merdeka. Sebenarnya, hal ini lebih ke arah sikap hidup ketimbang metode dari suatu ilmu.
Lalu bagaimana dengan metode analitis yang sering kali dipakai oleh para sarjana sastra dalam menganalisis suatu karya sastra ? Bagaimanapun juga penilaian karya sastra, perlu 'obyektivitas'. Hal ini lebih jelas lagi dalam tulisan J.U. Nasution berjudul Pendirian Atas Pendirian Tentang Kritik Sastra bahwa kritik sastra itu termasuk ilmu meskipun tidak seperti ilmu alamiah (science), karena itu kaidah-kaidah tetap diperlukan.
Sementara itu, S. Effendi mengusulkan suatu 'metode reseptif obyektif''. Pelaksanannya bukan dengan menelaah yang bermaksud mengangkat sejumlah teori atau kaidah, tetapi memperkembangkan teori atau kaidah yang ditemukan telah sastra.
Metode analistis dalam sastra memang banyak dilakukan para sarjana. Dengan metode ini, suatu karya sastra diletakkan sebagai obyek. Ia dipisah-pisahkan, dipotong-potong, atau menggunakan istilah Arief Budiman 'dicungkil untuk kemudian dianalisa'.
Karena itu, antar sarjana sastra dengan menggunakan metode analisa ini dengan para sastrawan terdapat ketegangan. Karya sastra menjadi tidak hidup lagi, tetapi menjadi mayat di meja bedah analisa.
Diskusi kemudian berlanjut, kalau demikian tidak perlu metode untuk memahami karya sastra ? Goenawan Mohamad dengan tegas menjawab "bila perlu". Kalau dengan pendekatan totalitas, Ganzheit dirasa kurang memuaskan 'bila perlu' menggunakan metode. Sikap Ganzheit ini bukanlah suatu anti-metode atau anti-ilmu karena masing-masing karya sastra itu unik.
Bagi Goenawan karya kesusastraan mempunyai tujuan bukan semata-mata tema. Tujuan itu jauh dan samar-samar dari tema itu sendiri, yakni terealisasinya nilai-nilai yang dirindukan segenap manusia dalam segala kegiatannya, yakni nilai-nilai kemanusiaan.
Buku ini sesuai dengan siapa saja yang berminat pada sastra, khususnya pada kritikus sastra atau calon-calon kritikus. Karena tujuan jauh kesusastran adalah nilai-nilai kemanusian dan juga bisa menjadi obat mujarab bagi bangsa yang sakit mentalnya, maka murid-murid SMA, guru, dosen, peminat sastra atau siapa saja sangat bagus membacanya. Selamat membaca...
Apa itu metode Ganzheit itu ? Arief Budiman menjawab bahwa metode itu merupakan proses partisipasi aktif dari sang kritikus terhadap karya seni yang dihadapinya. Mula-mula tanpa konsepsi a priori apapun juga, sang kritikus membiarkan karya seninya secara merdeka berbicara sendiri. Kemudian terjadilah sebuah dialog, sebuah pertemuan, sebuah interferensi dinamis antara kedua subyek yang hidup dan merdeka. Sebenarnya, hal ini lebih ke arah sikap hidup ketimbang metode dari suatu ilmu.
Daniel Setyo Wibowo
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana. Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI