Mohon tunggu...
Daniel Mashudi
Daniel Mashudi Mohon Tunggu... Freelancer - Kompasianer

https://samleinad.com E-mail: daniel.mashudi@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Bencana Sulawesi Tengah dan Apresiasi kepada Ketersediaan Energi

22 Oktober 2018   14:53 Diperbarui: 22 Oktober 2018   15:50 587
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

"Jika energi pulih, maka jaringan listrik dan telekomunikasi juga terbantu sehingga proses operasional membantu korban bencana Sulteng lebih lancar."

Saya beberapa kali ikut hadir pada acara bincang-bincang yang diadakan oleh Kompasiana, yang disebut dengan Kompasiana Nangkring. Acara ini biasanya menggandeng pihak lain seperti kementerian, BUMN atau yang lainnya untuk membahas isu-isu terkini.

Ada dua sesi utama pada acara nangkring tersebut yaitu pemaparan atau presentasi dari narasumber, dan tanya jawab antara kompasianer dengan narasumber. Biasanya kompasianer mengajukan pertanyaan yang cukup kritis terkait tema yang dibahas. Namun apa yang terjadi pada Kompasiana Nangkring bersama Pertamina pada hari Rabu, 17 Oktober 2018 yang lalu benar-benar berbeda. 

Acara ini mengambil tema "Energi untuk Sulawesi Tengah", terkait dengan bencana gempa bumi yang disertai tsunami dan likuefaksi yang melanda Palu, Donggala dan Sigi. Narasumber pada acara ini adalah Arya Dwi Paramita selaku Manajer External Communication dari Pertamina.

Yang saya maksud 'berbeda' yaitu ketika memasuki sesi tanya jawab. Tidak seperti acara Kompasiana Nangkring lainnya, alih-alih memberikan pertanyaan atau kritik, para kompasianer malah memberi apresiasi terhadap langkah Pertamina dalam upaya penanganan gempa di Sulteng tersebut.

Apa yang diperlukan untuk penanganan bencana alam seperti gempa bumi di Palu, Donggala, dan Sigi? Bahan makanan, pakaian, obat-obatan, atau air bersih adalah barang-barang yang dibutuhkan untuk membantu korban. Namun ada satu hal yang juga penting, yaitu energi.

Kendaraan untuk mengangkut bahan makanan atau obat-obatan, truk-truk militer untuk proses evakuasi korban, excavator untuk memindahkan puing bangunan atau genset untuk pembangkit listrik saat keadaan darurat, semuanya membutuhkan bahan bakar atau energi untuk bisa beroperasi. Tanpa energi maka semuanya akan lumpuh.

Menyadari akan pentingnya hal tersebut, Pertamina melakukan gerak cepat. Bahkan saat terjadinya gempa berkekuatan 7,4 SR tersebut, Pertamina langsung memberikan respon. 

Pada tanggal 28 September 2018, diaktifkanlah crisis center untuk mengidentifikasi dampak bencana terhadap Terminal BBM Donggala, Stasiun Pengisian Bahan Bakar Elpiji (SPPBE), Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU) berikut sejumlah lembaga penyalur BBM dan elpiji.

Sebuah catatan penting, personil Pertamina juga terdampak bencana tersebut. CNN Indonesia (30/9) menyebut bahwa 50 persen pekerja Pertamina di Palu selamat dari gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Donggala dan Palu. Sementara 50 persen pekerja lainnya masih dalam proses pencarian. 

Meskipun menghadapi masalah tersebut, Pertamina tetap berupaya mengoptimalkan pelayanan BBM untuk masyarakat korban gempa bumi dan tsunami. Inilah yang membuat para kompasianer pada acara nangkring memberikan apresiasi.

Allout Bantuan Jalur Darat, Laut, dan Udara

Pertamina mengerahkan kemampuan secara allout untuk mengamankan pasokan energi. Dua tim Pertamina Peduli diberangkatkan pada tanggal 29 September melalui jalur laut dan darat.

Pada jalur laut dengan menggunakan kapal TNI KRI Makassar, memberangkatkan 7 relawan dan membawa bantuan logistik. Sedangkan di jalut darat dengan memberangkatkan 8 relawan dan membawa bantuan logistik.

Sumber: Pertamina.com
Sumber: Pertamina.com
Terminal BBM Donggala menjadi salah satu fasilitas Pertamina yang ikut terkena dampak bencana. Pertamina memprioritaskan pengoperasian TBBM Donggala ini yang akhirnya mulai beroperasi secara terbatas pada hari Minggu (30/9/2018). 

Dengan pengawalan polisi, TBBM Donggala mulai menyalurkan BBM dengan menggunakan 6 mobil tangki berkapasitas 16 kiloliter yang memasok 4 SPBU di Palu. Selain itu, Pertamina mengerahkan 50 operator SPBU bantuan dari sekitar Sulawesi serta awak mobil tangki dari Pare-pare dan Kendari.

Di jalur udara, Pertamina pada 1 Oktober mengirimkan pasokan solar ke Palu, Sulawesi Tengah dengan menggunakan Pesawat Air Tractor dari Bandara Juwata Tarakan, Kalimantan Utara. Pesawat yg digunakan adalah tipe AT 802, membawa 4.000 liter solar untuk menyokong bantuan operasional pemulihan pasca bencana. Hingga 3 Oktober, sebanyak 12 ribu liter solar telah disalurkan.

Sumber: pertamina.com
Sumber: pertamina.com
Pesawat ini dioperasikan oleh PT Pelita Air Service dari Tarakan, Kalimantan Utara dan mendarat di Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie, Palu. Pesawat khusus ini biasanya digunakan untuk mendistribusikan BBM ke wilayah 3T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal) khususnya Krayan, Nunukan Kaltara dan Puncak Jaya, Papua, dalam rangka program BBM Satu Harga.

Penyaluran energi dan bantuan Pertamina Peduli terus berlanjut. Selama 2 pekan masa tanggap darurat usai gempa dan tsunami di Palu, Donggala, Sigi dan sekitarnya, Pertamina allout memulihkan pasokan energi.

Mulai dari perbaikan infrastruktur TBBM Donggala, penyaluran BBM dan LPG dengan menggunakan berbagai moda transportasi darat, laut, udara. Juga pengiriman bantuan relawan operator untuk SPBU dan SPPBE hingga menyediakan SPBU portable dan mobile dispenser. Pertamina juga menggelontorkan bantuan logistik untuk memenuhi kebutuhan harian masyarakat terdampak hingga ke pelosok Sulawesi Tengah. 

Hingga cut off 12 Oktober 2018, progress yang telah dilakukan oleh Pertamina yaitu: 164 ribu tabung elpiji telah dislaurkan; 154 relawan operator SPBU dan 39 relawan operator SPPBE diberangkatkan; 95% SPBU sudah beroperasi di wilayah terdampak gempa; 16 mobil tangki BBM dan 1 mobil tangki avtur; Rp 29,7 miliar bantuan Pertamina Peduli; 11 juta liter BBM dikirimkan menggunakan tanker dari Balikpapan; 89 juta liter BBM industri disalurkan utk pemulihan Sulteng; juga 13 relawan kesehatan terdiri 3 dokter umum, 3 dokter spesialis, 5 perawat, 2 fisioterapi.

Kisah-kisah Humanis saat Penanganan Bencana

Menolong korban bencana memang banyak caranya. Menolong dengan keahlian yang dimiliki, hal tersebut juga akan berperan lebih ketika berada langsung di tengah-tengah para korban. 

sumber: pertamina.com
sumber: pertamina.com
Arya Dwi Paramita juga membagikan kisah-kisah dari para relawan yang 'unik' namun cukup menyentuh. Contohnya kisah Dokter Thomas yang bertugas melakukan trauma healing untuk anak-anak. Beliau mengisi sarung tangan bedah dengan air sehingga menjadi seperti balon. Hal ini dilakukan untuk menghibur anak-nak yang tertimpa musibah. 

Kisah lainnya tentang tim dokumentasi dari Pertamina yang dikirim ke lokasi bencana. Selain melakukan tugas liputan, tim ini juga menjadi relawan yang ikut membantu penanganan korban gempa.

Kisah lainnya terjadi ketika pasokan elpiji sudah mencukupi dan para penjual makanan goreng mulai beraktivitas. Pembeli gorengan sebagian besar adalah para relawan yang bertugas. Salah satu penjual sempat mengajukan pertanyaan kepada relawan, "Mas, kalau nanti para relawan sudah kembali ke daerahnya masing-masing, siapa yang akan beli gorengan saya, ya?"

Pertanyaan yang sederhana, namun cukup menyentuh. Relawan akhirnya menjawabnya, "Yang penting elpiji sudah cukup tersedia kan, Pak!"

Apresiasi terhadap Terjaganya Ketersediaan Energi

Apa yang telah dilakukan oleh Pertamina dalam penanganan bencana di Sulawesi Tengah memang layak mendapatkan apresiasi. Pertamina bisa dengan cepat membentuk crisis center pada hari bencana, tentunya karena emergency plan yang sudah dipersiapkan dengan baik. Misi besar Pertamina terkait ketersediaan energi ini patut mendapatkan apresiasi. Dan lebih dari itu, hal ini menyangkut dignity atau martabat bangsa.

Semoga keadaan di Sulawesi Tengah bisa berangsur pulih. Doa dan harapan kita semua agar masyarakat Palu, Donggala, dan Sigi bangkit kembali.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun