Yang saya ingat, saya sudah senang sekali menulis sejak duduk dibangku sekolah dasar kelas empat. Hidup di desa, yang jauh dari perkembangan dunia literasi sedikit menyulitkan saya dalam mengembangkan imajinasi. Tapi, saya masih tidak bisa melupakan kejadian konyol yang saya lakukan demi sebuah eksistensi.
Usia saya masih sepuluh, saat pertama kali saya menulis sebuah cerita pendek. Cerita yang saya sadur dari berbagai dongeng, dan disatukan menjadi satu keutuhan drama. Masih menggunakan tulisan tangan, dan setelah itu saya pergi ke foto copy, untuk membuat sejumlah salinan karya saya tersebut. Tidak lupa, saya mencantumkan nomor telepon ketika itu.
Kemudian, beberapa salinan saya bagikan kepada teman -- teman di sekolah. Selanjutnya, saya berikan juga pada guru -- guru yang memang cukup dekat dengan saya. Selebihnya, saya "membuang" salinan lain di jalan.
Di tempat yang saya yakin, ada orang lain yang melihat dan berharap mereka menikmati tulisan saya. Sejujurnya, waktu itu saya juga berharap ada orang -- orang penerbit yang nyasar datang ke desa, menemukan tulisan saya dan berminat menerbitkannya lalu menelpon ke rumah. Impian saya untuk menjadi seorang penulis, cukup besar waktu itu.
Waktu berjalan, dentangnya tidak mungkin dihindarkan. Beranjak SMP, saya mulai suka pada puisi -- puisi, dan bacaan -- bacaan sejarah maupun politik. Ayah saya untuk pertama kalinya membelikan saya buku kumpulan puisi Chairil Anwar dan Khalil Gibran. Dari sana, saya kembali menjelajahi dunia imajinasi saya yang memang masih terhambat akses terhadap sumber bacaan.
Pindah ke Jakarta, membuat saya lebih leluasa dalam berkarya. Di Ibu Kota saya mulai mengenal internet dan toko buku Gramedia. Setiap pulang sekolah, meski terkadang sudah lewat sore saya masih menyempatkan diri ke toko buku, sekedar membaca gratis atau membeli satu dua yang saya anggap menarik.
Saya juga tidak ketinggalan mengikuti lomba -- lomba menulis essai dan fiksi yang tersebar di dunia maya. Namun, saya tidak pernah menyentuh platfrom blog seperti wordpress dan blogspot. Saya masih terlalu kaku untuk hal -- hal semacam itu.
Namun, pada 2012 pertama kali saya mengenal kompasiana.com. Platform menulis digital yang diisi orang -- orang kompeten dibidangnya. Iseng saya mencoba mendaftar dan membuat tulisan di sana.
Tahun itu, masih terlalu jauh untuk monetisasi tulisan. Pihak kompasiana membutuhkan waktu enam tahun sejak saya mengenal mereka. Atau sepuluh tahun sejak dirinya didirikan, untuk bisa membuat sistem pembayaran bagi penulis yang beruntung sebab tulisannya mencapai target. Tapi, saya yakin sekali bahwa monetisasi bukan tujuan utama (atau bahkan bukan tujuan) penulis di kompasiana. Idealisme adalah satu -- satunya hal berharga yang tidak dapat dibayar dengan nilai apapun.
Monetisasi adalah kebijakan paling baru dari kompasiana. Sebelumnya, ada nangkring yang juga diadakan, juga kompasianival. Saya pernah ikut nangkring bersama BI sekali di Medan. Juga pernah hadir di kompasianival 2014. Kembali pada pengalaman saya menulis, kali ini di kompasiana.com
Disini tulisan saya beberapa kali diganjar headline dan ratusan kali mendapat highlight. Disini, saya juga mengenal banyak tulisan dari berbagai perspektif.
Untuk urusan politik misalnya, pada 2017 lalu rasanya cukup senang bisa menyaksikan tulisan -- tulisan politis mereka yang (terlalu) pro Basuki Tjahja Purnama dilawan oleh mereka yang (terlalu) kontra mantan gubernur DKI tersebut.
Tulisan -- tulisan ini membawa saya pada inspirasi untuk berkecimpung di topik yang sama. Selain itu, saya juga seringkali menulis dikanal fiksiana. Saya ingat, pada februari 2015, saya pernah memenangkan satu kompetisi sebagai "tulisan terbanyak" dan waktu itu dihargai dengan pulsa.
Lalu, belakangan saya mulai menyesal. Sebab di kompasiana ini saya hanya menulis. Jarang saya gunakan waktu dan kesempatan untuk berinteraksi dengan penulis lain. Walaupun disaat mereka mampir di tulisan saya, dan meninggalkan jejak berupa rating dan atau komentar. Seandainya, saya bisa bersosialisasi dengan penulis -- penulis atau pemberi komentar itu, tentulah saya tidak "sendirian" disini.
Ya, kompasiana pada dasarnya adalah platfrom penulis idealis. Lihat saja berapa banyak penulis yang tidak tergiur pada topik -- topik panas dan bertahan pada kompetensi mereka. Tapi, disini juga sebenarnya bisa membangun satu hubungan sosial. Dan sebab itu pula, lahir begitu banyak komunitas penulis di kompasiana. Tergantung kita, ingin masuk dalam jurang sosial tersebut atau tetap hidup dalam individualistik yang terkadang mengenaskan.
Akhir kata, mampu saya katakan bahwa pengalaman menulis sejak saya duduk di sekolah dasar hingga akhirnya berkumpul bersama ribuan orang lainnya di kompasiana adalah sebuah catatan sendiri dalam hidup. Kelak, akan ada cerita yang bisa sampaikan kepada orang -- orang bahwa meski tidak menghasilkan banyak uang, menjadi penulis adalah gerbang membuka dunia dan sejuta peluang.
Salam.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H