Dalam beberapa obrolan dengan para penggarap lahan di saung - saung desa pinggiran hutan, dan para petani di sawah marginal serta tadah hujan dan lahan kritis.Â
Muncul nada pernyataan yang setidak nya cukup menyesakan dada, tetapi juga bangga pada mereka.
Bagaimana tidak ...?,Â
Jika kedatangan kita bertemu dengan mereka bukan nya mendapatkan sambutan meriah atau minimal senyuman yang menentramkan, tetapi malah belum apa - apa sudah muncul ungkapan nada kesal dan kecewa.Â
Coba saja bayangkan ... kenalan saja belum..., dan bahkan baru akan berkenalan, selain itu bertemu saja baru saat itu, tapi kahadiran kita malah di sambut dengan cercaan serta umpatan kekesalan dan kekecewaan yang sangat membekas dan mendalam keluar dari ungkapan mereka.Â
Alasan nya banyak dan terjadi dihampir setiap warga penggarap di pedesaan - pedesaan, sebut saja salah satu diantaranya bernama dengan panggilan mang XX,Â
Dia adalah seorang penggarap lahan cibungur di kecamatan bungursari Kab. Purwakarta.
Nada ungkapan nya seperti ini "Geus lah... ari kira - kira datang rek mere karipuh mah, ngajaredog weh di imah, teu kudu ngarurus aing sagala, da aing ge bisa ngurus usaha jeung diri sorangan",
Nada seperti itu dalam bahasa sunda sungguh sangat menyesakan dada si pendengar nya,Â
Dan jika dimasukan dalam Bahasa Indonesia kurang lebih begini "sudah lah kalau sekira nya mau ngasih beban yang merepotkan, tidak usah ngurusi orang lain, karena kami bisa hidup dan mengurus diri sendiri".