Melihat Kayo, aku seolah bercermin untuk melihat diriku sendiri. Apakah aku, sebagai seorang muslim, sudah memancarkan keramahan serupa, setidaknya kepada sesama muslim lainnya? Rasanya masih jauh panggang dari api. Kusadari gaya bicaraku yang tegas cenderung galak, mungkin menakutkan bagi sebagian orang, dan bisa menimbulkan salah persepsi. (Wah... gawat nih.) Aku masih 'menghemat' senyum, padahal senyum adalah sedekah yang paling murah, yang bisa dilakukan seorang muslim kepada saudaranya seiman, kapan saja. Kuingat-ingat lagi kawan-kawan muslim di sekitarku. Rasanya tidak jauh berbeda.
Ah... saat ini wajah muslim memang kurang ramah terasa. Jangankan kepada non-muslim, terhadap sesama muslim saja saling curiga dianggap sudah biasa. Tipu daya terkadang bersembunyi di balik keramahan semu. Tapi kubayangkan bahwa dunia akan lebih indah bila dihiasi dengan banyak senyum, sapa, dan salam. Indahnya... Mungkin sekaranglah saatnya mengubah persepsi itu. Malu aku sebagai orang Islam, bila ternyata masih belum bisa ramah dan menyenangkan hati orang lain. Bercermin dari sepenggal episode kehidupanku di negeri orang, aku sangat bersyukur berkesempatan menjalani hidup di Jepang, mengenal Basshi dan Kayo, tipikal orang Jepang sejati. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan. Insya Allah aku belajar banyak dari mereka.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H