Orang Lain, Terkadang Lebih Baik
Saya masih ingat kejadian beberapa tahun lalu saat saya pulang kuliah. Waktu itu, saya bersama dua teman kuliah sedang menunggu kereta rel listrik (KRL) tujuan Bogor di salah satu stasiun.
Saat sedang menunggu KRL, tiba-tiba ada teman dari fakultas lain yang baru datang yang mengajak saya mengobrol. Efek keasyikan mengobrol, saya melewatkan KRL yang datang. Alhasil, dua teman saya naik kereta tersebut, saya ketinggalan kereta.
Waktu itu saya biasa saja. Saya pikir bisa naik kereta selanjutnya. Namun, ternyata hingga magrib menjelang kereta lain tidak melintas juga. Teman yang mengajak saya mengobrol menyerah menunggu kereta. Ia mengajak saya naik bus. Namun, saya menolak. Saya bilang saya akan sabar menunggu kereta.
Setelah teman saya pergi cukup lama, baru ada pengumuman, ada gangguan listrik se-Jawa-Bali sehingga KRL tidak dapat dioperasikan hingga waktu yang tidak dapat ditentukan. Panik lah saya waktu itu.
Saya tidak tahu rute bus. Tidak ada (lagi) juga teman yang saya kenal yang akan pulang menuju Bogor.
Saat itu, di peron kereta tujuan Bogor, ada teman saya yang hubungannya cukup dekat. Ia ngekost di dekat stasiun. Namun, setiap pulang kuliah dia memang suka duduk-duduk bersama pacarnya di peron kereta tujuan Bogor.
Dulu, sebelum ia ngekost, kami sering berangkat dan pulang kuliah bareng Bogor-Depok-Bogor dengan menggunakan kereta. Kami juga sering makan siang bersama di kampus, dan punya gank pertemanan yang sama.
Berkali-kali saya juga sempat menolong  dia, baik dalam hal akademis maupun non-akademis. Nah, karena merasa cukup dekat dan "cukup berjasa" saya menghampiri dia. Mau numpang menginap di kostannya. Sebab, rasanya tidak memungkinkan lagi untuk pulang ke Bogor.
Namun, ternyata "jauh panggang dari api". Jujur, waktu itu adalah salah satu hari nelangsa saya sedunia. Boro-boro disambut untuk numpang menginap, dia malah bilang, "that's your problem. Not mine." Saya lupa kata-kata yang dia ucapkan, tetapi intinya seperti itu.
Akhirnya di tengah gulita, saya berjalan keluar peron. Belum tahu harus bagaimana. Namun, waktu itu saya merasa kalau saya terus duduk-duduk di peron tidak akan ada solusi.