Apa kegiatan favorit warga Batam, Kepulauan Riau, saat akhir pekan? Saat ditanya seperti itu, umumnya mereka akan menjawab menghabiskan waktu di pantai. Baik sekedar duduk-duduk santai menikmati sepoi angin, mencicip sebutir kelapa muda, atau menemani anak kesayangan bermain air laut.
Wisata pantai menjadi kegiatan favorit di kota yang berbatasan langsung dengan Singapura ini. Hal tersebut dikarenakan, hampir setiap kecamatan di Kota Batam berbatasan langsung dengan laut yang memiliki pantai indah yang dapat dimanfaatkan pengunjung untuk bercengkrama bersama keluarga tercinta.
Saya dan keluarga biasanya memilih lokasi pantai berdasarkan waktu luang yang kami miliki. Bila saat akhir pekan tidak ada kegiatan lain, seperti berkunjung ke rumah keluarga besar, menghadiri kenduri, atau acara lain yang tidak dapat ditinggalkan, kami memilih menghabiskan waktu di pantai-pantai sekitar Jembatan Barelang.
Salah satu pantai di kawasan Barelang yang cukup banyak dikunjungi masyarakat Batam saat akhir pekan adalah Pantai Melayu. Pantai ini terletak di Pulau Rempang, tepatnya beberapa meter setelah Jembatan Sultan Zainal Abidin, atau lebih dikenal masyarakat dengan nama Jembatan IV.
Jalan masuk yang mulus dan lebar, membuat pantai ini menjadi favorit para wisatawan lokal. Yup, meski berada diujung pulau, akses menuju pantai tersebut sangat baik. Jalan masuk beraspal mulus, hitam mengilat. Selain itu, lahan untuk parkir kendaraan terhampar luas. Bisa untuk menampung ratusan kendaraan roda empat. Sehingga, pengunjung tak perlu berebut untuk mendapatkan lokasi parkir yang representatif.
Saya bahkan sempat pesimistis dapat memarkirkan kendaraan di dekat pantai. Sudah terbayang harus bolak-balik berjalan agak jauh ke mobil mengangkut perlengkapan tempur untuk piknik. Namun ternyata hanya beberapa meter dari pintu masuk, masih terlihat lahan-lahan parkir yang kosong di dekat pantai.
Bila dibandingkan dengan pantai-pantai lain di sekitar Barelang, Pantai Melayu sepertinya yang paling "ramah" wisatawan. Hampir di setiap titik pengelola menyediakan bale-bale yang dapat disewa oleh pengunjung. Ukuran bale-bale tersebut bervariasi, mulai dari yang kecil hingga yang berbentuk seperti rumah terbuka, saking besarnya.
Harga yang ditawarkan bervariasi, mulai dari puluhan ribu hingga ratusan ribu. Tergantung dari besar kecilnya bale-bale yang disewa. Namun bila cuaca bersahabat, saya malah menyarankan pengunjung menyewa tikar saja. Duduk di bawah pohon sambil menikmati hamparan laut terasa lebih nikmat. Apalagi harga sewa satu tikar hanya Rp15.000 tanpa batasan waktu. Biasanya dapat dipinjam sepuasnya hingga kita pulang.
Satu hal yang menarik di Pantai Melayu adalah harga jajanan yang terjangkau. Tidak akan ada drama pengunjung yang "digetok" penjual di sekitar area wisata. Hal tersebut dikarenakan ada koordinator yang mengawasi harga yang ditawarkan setiap pedagang di kawasan pantai tersebut. Mungkin itu juga makanya, pengunjung lebih banyak yang jajan dan menikmati aneka makanan yang dijual pedagang di sekitar pantai. Saya salah satunya.
Alhasil saya hanya berani melirik-lirik. Mau membeli tapi kasihan pada enam boks nasi yang sudah terlanjur saya pesan untuk suami, anak dan saya. Apalagi satu orang dipesankan dua boks, bila tidak dimakan mubazir. Alhasil saya hanya berani membeli makanan-makanan ringan seperti bakso bakar, rujak, hingga es krim yang harganya hanya berkisar Rp5.000 hingga Rp10.000.
Selain menawarkan aneka kuliner, pengelola Pantai Melayu juga menawarkan beberapa permainan air, mulai dari menikmati areal pantai dengan berkeliling menggunakan perahu hingga memompa keberanian pengunjung dengan menggunakan banana boat. Harga yang ditawarkan cukup terjangkau, tak lebih dari Rp25.000/orang.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H