Mohon tunggu...
Imdad Rabbani
Imdad Rabbani Mohon Tunggu... Penulis - akademisi

Saya merupakan Mahasiswa Aktif S3 Manajemen Pendidikan Islam di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Saya pernah mengenyam pendidikan pesantren di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo dan Anwarul Huda Malang

Selanjutnya

Tutup

Ramadan

Refleksi Puasa sebagai Penyokong Fitrah di Hari Kemenangan

9 Mei 2021   13:13 Diperbarui: 9 Mei 2021   13:31 1795
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Hari demi hari telah kita lalui, tiga puluh hari melaksanakan kewajiban sebaga hamba yang taat pada illahi. Kesabaran, pantangan dan tantangan silih berganti dihadapi dengan imanan wah tisaban, sebagai bekal mendapatkan fitri yang penuh dengan kesucian. Mengajarkan kepada manusia akan pentingnya sebuah perjuangan, menjalankan ketaatan dan mudah-mudahan barokah ganjaran serta kesehatan senantiasa allah limpahkan di kondisi pandemi yang berkepanjangan.

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Kalau ingin kembali pada fitrah, sempurnakan jumlah hari puasamu. Makna sempurnakan ini ada 2 yaitu : sempurnakan satu bulan penuh dan sempurnakan semangat puasamu. Walaupun ramadhan berakhir, puasa jangan selesai, kenapa? Tangan kita masih tetap puasa dari mengambil yang bukan milik kita, lidah kita walaupun ramadhan telah berakhir tetap berpuasa, dari memfitnah dan menggunjing orang lain. Kaki kita walaupun ramadhan telah berakhir tetap berpuasa, dari berjalan ke tempat-tempat yang tidak baik. Perut kita pun demikian tetap berpuasa dari kemasukan barang-barang yang haram. Kedisiplinan, kejujuran, rasa kasih sayang yang menjadi nilai-nilai puasa tetap harus kita lestarikan di bulan-bulan lainnya sebagai bagian dari petikan pembelajaran yang berharga di bulan ramadhan kemarin. Jangan sampai keimanan kita hanya sebatas lisan saja namun sekuler dalam perbuatan. seakan-akan allah hanya ada dalam lingkup masjid dan tempat ibadah lainnya. Tetapi rasa akan senantiasa diawasi oleh allah perlu kita yakinkan, agar kemaksiatan insyaallah akan terus berkurang.

Bulan puasa telah kita lewati pada tahun ini, namun tidak ada garansi kita akan dipertemukan kembali dengan ramadhan di tahun nanti. Lantas, pertanyaan yang relevan kita sematkan pada diri kita adalah “Apakah kita pantas mendapatkan sebuah kemenangan, serta bagaimana mempertahankan kefitrahan manusia sebagai bentuk refleksi dari ibadah puasa yang penuh dengan perjuangan?”. Jangan sampai puasa kita hanya sebatas menahan lapar dan dahaga

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

yaitu banyak orang yang berpuasa,namun ia tak mendapatkan apapun dari puasanya selain rasa lapar saja.

Sebagai bentuk refleksi puasa dalam rangka memelihara fitrah agar tetap lestari dalam diri manusia itu bisa dilakukan dengan tiga hal yaitu : 1) Mengokohkan Ketauhidan. Ramadhan merupakan sebuah momentum terbaik dalam memperkuat serta mengokohkan kembali keimanan seseorang. Melalui sebuah ibadah-ibadah mahdah yang tujuannya mendidik jiwa-jiwa yang menjauhi-Nya untuk seraya kembali kepada-Nya, mengembalikan kesadaran jiwa yang berlumur dosa untuk seraya meminta ampunan kepada-Nya serta mendorong jiwa-jiwa yang lalai untuk bersimpuh sujud dalam bingkai ketulusan dan mengharap keridhoan-Nya. Karena faktor bertambahnya iman ialah ketaatan. Sedangkan faktor menurunnya iman tak lain dan tak bukan ialah kemaksiatan. Sebagaimana dikatakan ibnu ruslan dalam matan Zubad Ibn Ruslan (Beirut: Daru Makrifat) halaman 5-6:

فكن من الإيمان في مزيد # وفي صــــفاء القلب ذا تجديد
بكثرة الصلاة والطاعات # وترك ما للنفس من شهوات
فشهوة النفس مع الذنوب # موجبتــــــان قسوة القـــلوب
Maka Jadilah kamu bertambah dalam keimanan, dan memiliki kejernihan dalam hati.
Dengan memperbanyak sholat dan ketaatan, serta meninggalkan sesuatu yang menyebabkan syahwat
Maka nafsu syahway serta dosa, merupakan faktor yang menyebabkan kerasnya hati

2) Menguatkan komitmen keubudiyahan, yaitu dengan mempertahankan kebiasaan-kebiasaan dalam menjaga sholat fardlu serta sholat sunnah yang biasa dilakukan di bulan suci ramadhan serta sepertihalnya membayar Zakat yang disempurnakan dengan infaq dan sadaqah. Hal ini menandakan bahwa menandakan ritual ubudiyah atau ibadah memiliki dua hal secara integral yaitu formalistik. Artinya kegiatan ibadah secara kasap mata dilakukan sesuai dengan tuntutan sepertihalnya sholat dengan gerakan-gerakannya, namun tetapi tidak cukup hanya sebatas formalistik saja tetapi esensi ubudiyah harus menyentuh pada aspek substansialistik, yaitu adanya pengaruh dari keterlaksanaannya ibadah tersebut dalam kehidupan sehari-sehari. Dengan menjaga konsistensi ibadah dan menegakkannya secara sempurna semata-mata hanya karena Allah, seorang muslim akan terpelihara fitrah kesuciannya. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:

إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Sesungguhnya solatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah milik Allah SWT (Q.S. Al-An’am 162)

3) Senantiasa menjaga dan memelihara Akhlak yang terpuji. Salah satu hal penting dalam menjaga kefitrahan manusia adalah menjaga sifat atau akhlaq yang terpuji seperti amanah, jujur, senantiasa bersyukur dan keteguhan dalam bersabar. Sabar dalam menjalankan perintah, sabar dalam menjauhi larangan Allah maupun sabar dalam menghadapi ujian, cobaan maupun musibah sepertihalnya sabar dalam menghadapi pandemi covid 19 yang berkepanjangan ini.

Akhlak terpuji ini timbulnya dari kejernihan hatinya, sehingga apabila seseorang hamba menginginkan ketenangan dalam hidupnya maka peliharalah hatinya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ، وَلَا إِلَى أَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ، فَمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ صَالِحٌ تَحَنَّنَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ، وَإِنَّمَا أَنْتُمْ بَنِي آدَمَ أَكْرَمُكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Artinya, “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amalan kalian. Siapa saja yang memiliki hati yang bersih, maka Allah menaruh simpati padanya. Kalian hanyalah anak cucu Adam. Tetaplah yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling takwa,” (HR. Al-Thabrani)

Semoga Allah senantiasa meneguhkan hati kita semua, terlebih jika hati kita telah mendapatkan hidayah dari-Nya serta kita senantiasa dapat mempertahankan kefitrahan kita dengan menjaga 3 hal tadi yaitu senantiasa memperkokoh keimanan kita, menjaga konsistensi ibadah kita serta mampu mewujudkan ibadah kita dalam bentuk Akhlak akhlak yang terpuji. Amin Amin Ya Rabbal Alamin

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ramadan Selengkapnya
Lihat Ramadan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun