Keributan yang tengah memanas di TikTok, salah satu platform media sosial paling populer saat ini, mengenai video konten yang mengangkat isu ketidakpentingan pendidikan. Mencerminkan sebuah perdebatan mendalam tentang peran dan relevansi pendidikan dalam masyarakat moderen di era digital saat ini.Â
Konten-konten tersebut muncul, berawal dari beredarnya foto mahasiswa dengan latar belakang spanduk yang bertuliskan "ORANG MISKIN DILARANG SARJANA."Kalimat tersebut merupakan, kalimat sarkas yang ditujukan kepada Rektor disalah satu kampus Negeri di Jawa Tengah. Mahasiswa dalam foto tersebut, mahasiswa yang melakukan aksi demo karena tingginya UKT.
Setelah beredarnya foto itu, para pengguna TikTok ramai-ramai membuat konten tidak pentingnya pendidikan. Mereka merasa bahwa kalimat tersebut ditujukan untuk mereka (saudara-saudari yang tidak melanjutkan pendidikan). Sementara pada foto yang beredar itu, sudah dituliskan keterangan terkait tujuan dari kalimat tersebut.Â
Ada diantara mereka yang mengatakan bahwa, sarjana S1 saat ini sudah tidak dibutuhkan lagi. Menurut mereka, pengalaman kerja lebih penting ketimbang kuliah itu sendiri. Pendidikan formal tidak lagi menjadi persyaratan untuk seseorang itu menjadi sukses pada masa mendatang. Beberapa dari mereka menyampaikan pendapat bahwa sistem pendidikan konvensional tidak mampu merangkum berbagai bakat dan minat individu dengan baik, sehingga penyebabnya banyak orang merasa terpinggirkan atau tidak termotivasi dalam belajar.
Namun, reaksi terhadap konten ini sangatlah bervariasi. Sebagian orang percaya bahwa pendidikan formal sangat penting untuk mengembangkan keterampilan, pengetahuan, dan pemahaman yang mendalam tentang berbagai disiplin ilmu. Mereka menganggap pendidikan sebagai kunci untuk membuka pintu kesempatan dalam dunia kerja dan memperluas wawasan seseorang tentang dunia.
Di sisi lain, ada pula yang berpendapat bahwa pengalaman dan keterampilan yang diperoleh di luar lingkungan pendidikan formal, seringkali lebih berharga dalam mempersiapkan seseorang untuk kehidupan nyata. Mereka menyoroti pentingnya pengembangan keterampilan interpersonal, kreativitas, dan kemampuan problem-solving yang  tidak diajarkan secara langsung di dalam kelas.
Banyak netizen yang berkomentar, bahwa kalimat tersebut adalah kalimat sarkasme yang ditujukan untuk rektor. Tapi, para pembuat trend ini tidak peduli. Mungkin karena terlanjur sakit hati kali ya. Atau mungkin biar mendapatkan banyak penonton, jumlah like, dan juga cepat viral.Â
Trend kontroversial ini menunjukan sisi lain pola pikir orang Indonesia. Pola pikir yang menurut saya, begitu buruk. Mereka menganggap konten tersebut adalah konten membela diri. Apakah ini bagian dari simulasi menuju Indonesia (c)emas 2045? Yah, ntahlah. Yang menjadi pertanyaan saya, apakah orang-orang ini, sebelum membuat trend sudah membaca keterangan atau mencaritahu dulu maksud dari foto yang beredar tersebut? Sepertinya tidak. Kan, negara Indonesia tercinta menuju Indonesia emas 2045, tingkat literasinya berada pada 11 peringkat terbawah dari 81 negara. Duh, kasihan!
Menurut saya pribadi, pendidikan memang tidak menjamin kita akan sukses dimasa depan. Tapi, lebih kepada bagaimana pada akhirnya pola pikir kita itu dibentuk dan membuka pintu untuk pemahaman yang lebih dalam tentang dunia di sekitar kita. Pendidikan membantu membentuk keterampilan, sikap, dan nilai-nilai yang penting untuk meraih kesuksesan dalam kehidupan, baik secara pribadi maupun profesional. Jadi, meskipun pendidikan tidak menjadi satu-satunya faktor yang menentukan kesuksesan, peranannya dalam membentuk pola pikir dan membuka peluang sangatlah penting. Atau, bagaimana menurutmu?
Perdebatan ini mencerminkan tantangan yang dihadapi oleh sistem pendidikan moderen dalam memenuhi kebutuhan dan harapan masyarakat yang semakin kompleks dan beragam. Meskipun ada kesenjangan pendapat, hal ini juga menciptakan kesempatan untuk merenungkan kembali tentang bagaimana pendidikan dapat diubah dan disempurnakan untuk lebih memenuhi kebutuhan individu dan masyarakat secara keseluruhan.
Kualitas pendidikan negara Indonesia menurut survei dari PERC (Politic and Ekonomic Risk consultan), berada pada urutan terakhir yaitu urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Coba anda bayangkan. Duh, jangan deh sakit hati nanti.
Pendidikan tidak bisa diabaikan, terutama dalam konteks globalisasi dan perubahan cepat dalam dunia kerja. Pendidikan tidak hanya tentang pengetahuan akademis, tetapi juga tentang pengembangan karakter seseorang, keterampilan yang dimiliki, dan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan. Oleh karena itu, mari kita menggali berbagai pendekatan baru dalam pendidikan, penting untuk tetap mengakui nilai yang mendasari dari pendidikan formal dan upayanya dalam memperbaiki dan memperkuat untuk masa depan yang lebih baik.
Mari sama-sama kita menuju pendidikan Indonesia yang lebih baik! Tolong jangan abaikan pendidikan.
Salam hangat dari penulis. Terima kasih!
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI