Di era digital yang serba cepat ini, tekanan untuk menjadi lebih produktif terasa semakin besar. Namun dalam produktivitas itu, kita terkadang terjebak kedalam apa yang disebut "produktivitas palsu."Â
Produktivitas palsu adalah keadaan dimana kita terlihat sangat sibuk, tetapi sebenarnya tidak menghasilkan hasil yang berarti. Atau kasarnya kerja tidak ada hasil. Mari kita ungkap mitos seputar produktivitas dan fakta-faktanya.
Kesibukan tidak melulu berkolerasi dengan produktivitas. Terkadang, kesibukan itu sendiri menciptakan ilusi produktivitas tanpa hasil. Ini adalah fakta yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari, atau hanya saya?Â
Dalam perjalanan menyelesaikan tulisan akhir atau biasa disebut skripsi, saya  terjebak dalam produktivitas palsu yang mana hasilnya selalu zonk.Â
Menyelesaikan skripsi dengan harapan dapat acc dari dosen, saya pikir sebuah produktivitas karena selalu begadang sampai subuh, bahkan sambil mengerjakan hal yang lain dan ternyata revisi.
 Kalimat semakin banyak kerja, semakin produktif itu tidak benar. Karena faktanya, jam kerja yang berlebihan mengakibatkan stres, kelelahan, penurunan pola makan, bahkan penurunan produktivitas jangka panjang.Â
Apalagi jika permasalahan utamanya skripsi yang sering revisi, dijamin stres jangka panjang. Tidak juga sih, soalnya saya bahagia saja hari ini. Hahah sekalian curhat.
Dalam Era digital yang terus berkembang seiring bertambah tuanya umur bumi, penting untuk kita  ketahui bahwa produktivitas sejati bukanlah tentang terlihat sibuk atau menyelesaikan banyak sekali bentuk tugas atau tanggungan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Tapi membutuhkan keseimbangan antara efisiensi, fokus dan juga kreativitas yang berkelanjutan.Â
Contohnya si A beranggapan bahwa mengerjakan semua pekerjaan tanpa istirahat adalah tanda dari sebuah komitmen dalam pekerjaan. Namun, pada kenyataannya, tanpa istirahat yang cukup kinerjanya akan menurun karena kelelahan mental dan fisik.Â
Sedangkan Si B memilih untuk fokus pada satu tugas dan istirahat tepat waktu. Keduanya sama-sama menyelesaikan tugasnya namun ternyata si B yang hasilnya maksimal bahkan ia ditawari untuk menjabat pada posisi yang lebih tinggi.
Banyak orang beranggapan bahwasannya orang yang bisa melakukan semua pekerjaan dalam satu waktu atau multitasking, itu orang pintar.Â
Tapi menurut saya pribadi, bukan karena pintar tapi karena rajin saja sebenarnya, dengan dalih jika bisa melakukan semuanya sekarang kenapa harus tunggu nanti.Â
Ada penelitian yang sudah membuktikan bahwa otak manusia lebih efektif ketika fokus pada satu tugas dalam satu waktu.Â
Penelitian juga mengungkapkan, bahwa multitasking yang dilakukan secara terus menerus berkorelasi dengan kecerdasan emosional yang rendah dan faktanya, multitasking saat melakukan tugas kognitif di tempat kerja dapat menurunkan level IQ sebesar 10 hingga 15 poin.
Saat kita mencoba untuk membagi fokus pada beberapa hal sekaligus, sebenarnya kita sudah banyak menghabiskan lebih banyak waktu dan kehilangan fokus. Lebih baik fokus pada satu tugas untuk mendapatkan hasil yang baik.
Di era digital saat ini, kita juga selalu merasa penting untuk terhubung dengan semua orang diluar sana melalui media sosial bahkan melalui pesan singkat.Â
Namun sebenarnya resiko stres dan kelelahan salah satu faktornya dari media sosial itu sendiri. Dengan kita mengatur waktu untuk fokus tanpa gangguan, sebenarnya dapat meningkatkan produktivitas secara keseluruhan.Â
Sangat tidak benar bahwa dengan kita terhubung kesemua media sosial akan mencapai hasil yang maksimal dengan menggunakan jumlah waktu dan usaha yang minimal.
Meskipun teknologi memungkinkan kita terlihat sibuk dan produktif, tapi sebenarnya mungkin kita hanya sibuk dengan hal-hal yang tidak ada nilainya atau tidak ada dampak positifnya bagi kita.Â
Hal ini dapat meningkatkan stres, kelelahan, dan penurunan semangat. Oleh karena itu penting untuk mengenali perbedaan produktivitas yang sebenarnya dan produktivitas palsu.
Mari kita lebih bijak lagi dalam mengambil langkah-langkah untuk lebih memproritaskan tugas yang benar-benar penting dan berarti untuk kehidupan kita.
Siapa tahu dengan berfokus pada satu pekerjaan kamu bisa naik jabatan. Seperti para oknum pejabat yang korupsi, saking fokusnya makan uang negara sampai lupa dengan jabatannya apa. Ups, sorry!
Salam hangat dari penulis dan sehat-sehat semuanya. Terima kasih!
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI