Mufti juga mengatakan Petronas tak merugi meski menyediakan BBM murah, karena keuntungan mereka mencapai Rp. 267 triliun, empat kali lipat dibandingkan laba Pertamina. Hal tersebut merupakan tantangan bagi Pertamina, Pertamina perlu melakukan efisiensi, termasuk sector hulu, agar dapat mengoptimalkan kinerjanya.
Bahlil berkata bahwa pasalnya pengemudi ojol menggunakan pelat hitam karrena bukan kendaraan umum. Dengan begitu, pemerintah masih mengkaji lebih lanjut terkait bagaimana membedakan antara ojol dengan pemilik kendaraan pelat hitam lainnya.
"Semua UMKM itu kemungkinan besar akan disubsidikan secara bahan (barang), jadi kalau UMKM mendapatkan subsidi berupa minyak, kita tidak akan mengalihkan subsidi menjadi Bantuan Langsung Tunai (BLT), nah ojol akan masuk ke kategori UMKM," ungkap Bahlil.
Tetapi, ojol termasuk usaha yang menggunakan kendaraan, dengan begitu dapat dipastikan jika ojol akan lebih membutuhkan subsidi BBM daripada subsidi minyak atau setidaknya Bantuan Langsung Tunai (BLT). Mengingat banyak pengemudi yang tergantung pada pendapatan dari ojol untuk memenuhi kebutuhan hidup. Subsidi ini dapat membantu meringankan beban biaya operasional dan memberikan insentif bagi pengemudi untuk terus beroperasi, terutama di tengah fluktuasi harga BBM. Karena mau bagaimana pun ojol akan lebih banyak mengeluarkan biaya untuk BBM.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H