"Di Bawah Lindungan Ka'bah" adalah novel yang ditulis oleh Sastrawan Indonesia bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, atau dikenal juga dengan nama penanya 'Buya Hamka'. Novel ini pertama kali terbit pada tahun 1938 oleh Balai Pustaka, dan menjadi salah satu karya sastra Indonesia yang paling terkenal dan dihormati. Karya ini dianggap sebagai sebuah Mahakarya dari Buya Hamka dan juga dianggap sebagai salah satu karya sastra Indonesia yang paling penting pada abad ke-20.
Novel ini diawali dengan dua insan yang saling mencintai satu sama lain bernama Hamid dan Zainab. Kisah ini mengambil latar pada tahun 1927 di kota Padang. Menggunakan sudut pandang orang pertama pelaku sampingan, pembaca akan dibawa oleh tokoh 'Saya'(yang dideskripsikan oleh Buya Hamka sebagai sahabat Hamid) ke dalam kisah perjalanan kehidupan Hamid. Hamid sendiri adalah pemuda yang berbudi pekerti, lembut, dan bersahaja. Sifatnya yang sederhana lahir dari latar belakang keluarganya yang kurang mampu. Ia kemudian jatuh cinta kepada Zainab, seorang putri dari saudagar kaya raya yang membantu keluarga Hamid mencukupi kehidupan mereka sehari-hari.
Namun kisah cinta antara Hamid dan Zainab tidak berjalan mulus sebab perbedaan derajat sosial di antara mereka serta pertentangan adat. Zainab yang kemudian terpaksa menikahi lelaki pilihan keluarganya serta meninggalnya Ibu Hamid, menyebabkan Hamid menjadi sangat terpukul dan memutuskan untuk pergi ke tempat yang sangat jauh untuk melupakan semua dukanya tersebut.
Di sinilah Hamid pergi ke Tanah Suci. Sesampainya ia di sana, perlahan-lahan Hamid mulai mampu melupakan segala penderitaan dalam hidupnya, juga rasa cintanya kepada Zainab. Ia berserah diri kepada Allah SWT. Tapi di sisi lain, tak jarang pula ia mengingat sosok Zainab dan seluruh kenangan bersamanya. Di sinilah Hamid merasa seolah ia diuji.
Berikut Nilai Moral di dalam Novel Buya Hamka "Di Bawah Perlindungan Ka'bah":
1. Keyakinan dan Keteguhan Hati
Salah satu nilai moral yang menonjol dalam novel ini adalah keyakinan dan keteguhan hati dalam menghadapi cobaan dan ujian hidup. Tokoh utama, Hamid, ditampilkan sebagai seorang pemuda yang memiliki keyakinan kuat terhadap agamanya dan menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman. Meskipun dihadapkan pada berbagai rintangan dan godaan, Hamid tetap teguh dan tidak tergoyahkan dalam prinsip-prinsipnya. Nilai ini mengajarkan pentingnya mempertahankan keyakinan dan integritas moral dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
2. Keadilan dan Kepedulian Sosial
Novel ini juga mengangkat nilai-nilai keadilan dan keprihatinan terhadap kesengsaraan sosial. Dalam perjalanan hidupnya, Hamid menyaksikan ketidakadilan dan penderitaan yang dialami oleh masyarakat sekitarnya. Ia merasa terpanggil untuk membantu dan mengubah situasi tersebut. Nilai moral ini mengajarkan pentingnya keadilan sosial dan rasa empati terhadap sesama manusia.
3. Pengorbanan dan Kesetiaan
Pengorbanan dan kesetiaan juga merupakan nilai moral yang signifikan dalam novel ini. Karakter-karakter dalam novel "Di Bawah Perlindungan Ka'bah" menunjukkan dedikasi dan pengorbanan yang besar dalam hubungan interpersonal dan perjuangan hidup. Misalnya, Hamid yang rela mengorbankan cinta dan ambisi pribadinya demi kepentingan agama, serta kesetiaan Hamid terhadap nilai-nilai yang diyakininya. Nilai ini mengajarkan arti pentingnya pengorbanan dan kesetiaan dalam menjalin hubungan dan menghadapi tantangan hidup.
4. Kebaikan dan Kesederhanaan
Nilai moral kebaikan dan kesederhanaan juga diperkuat dalam novel ini. Hamid digambarkan sebagai sosok yang memiliki hati yang tulus dan selalu berusaha untuk melakukan kebaikan kepada orang lain. Ia juga hidup dengan sederhana, tidak tergoda oleh kemewahan duniawi. Nilai ini mengajarkan pentingnya kebaikan hati dan kesederhanaan dalam menjalani kehidupan.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H