Yang kdtiga, juga dari area plaza penerima, tetai ada jalan setapan berupa ramp panjang untuk kursi roda atau berjalan biasa, tanpa tangga. Rampnya berputar sekeliling bangunan, sehingga tidak merasakan capai .....
![Dokumentasi pribadi/Aku dengan latar belakang Sydney Opera House dari arah Sydney Harbour Bridge. Jika dari tempat ini, tidak terlalu ramai untuk berfoto](https://assets.kompasiana.com/items/album/2021/03/03/20140506-142732-603ef961d541df7936273f02.jpg?t=o&v=555)
Desain2 arsitektural cantik itu, bukan hanya di desain biasa2 saja, tetapi mereka juga harus memikirkan konsep2 lingkungan dengan berbagai masalah yang ada.
Karena, ada beberapa arsitek lokal (di Indonesia), mereka tidak melihat konsep2 kehifupan, dimana mereka tidak atau masih belum siap untuk  bisa memberikan kepedulian bagi masyarakat, khususnya dalam keterbatasan.
Kaum disabilitas (cacat) dan prioritas (orang tua, lansia dan anak2), belum menjadikepedulian mereka para arsitek, sehingga akhirnya hanya slogan2 kosong belaka sebagai Negara yang menjunjung tinggi hak dan kewajiban seluruh warga Negara.
Tahun 1973, Sydney Opera House dibuka, dan pada kenytataannya, konsep2 kehidupan masyarakat disana, sudah masuk dalam perhitungan bagi arsitek2 nya.
Dengan tangga2 tinggi untuk memasuki bangunan ini, memang merupakan konsep awal, tetapi mereka pun mendesain berbagai alternatif2 jalan masuknya. Dan, kesemuanya itu semakin diperlengkapi, tahun demi tahun .....
Dan, Sydney Opera House tetap mampu menjawab tantangan jaman serta untuk terus semakin banyak solusi bagi masyarakat yang membutuhkan .....
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI