By Christie Damayanti
Sebelumnya :
Jika Lahan Seluas 5,6 Hektar itu Dibangun Bangunan Tinggi tanpa Paduli dengan Tanah Peresapan!
Ini seandainya saja, ya .....
Jika Rumah Sakit PGI Cikini benar2 jatuh ke tangan oknum2 yang berpikir hanya bisnis,
Pertama :
Indonesia akan kehilangan jati dirinya, karena "kehilangan" sejarahnya. Sejarah tentang Rumah Raden Saleh beserta seluruh lingkungannya, akan punah dalam waktu sekejap. Karena, ketika rumah sakit ini dibongkar dan didirikan bangunan2 modern berpuluh2 lantai, Cikini akan benar2 kehilangan landmarknya!
Walau bisa saja Rumah Raden Saleh nya tetap dipertahankan, tetapi bangunan2 pendukungnya yang sangat bersejarah, bersama2 dengan rumah Raden Saleh sendiri, tetap saja, kenangan Ruma Sakit PGI Cikini akan tergerus dalam jama
Tidak ada landmark. Jika Rumah Raden Saleh berada di lingkungan bangunan2 tinggi dan modern, seperti Gedung bersejarah "Candranaya" di Jl Gajah Mada, itu akan perlahan menghilang, dan generasi depan, tidak akan tahu tentang sejarah besar dunia, yang ada di Indonesia, khususnya di Cikini.
Karena Raden Saleh hanya membangun istananya di Indoneisa. Di Jakarta. Di Cikini!
 Kedua :
Indonesia pun akan kehilangan kepeduliannya, dengan membongkar Rumah Sakit PGI Cikini, yang terkenal dengan sentuhan KASIH nya.
Sudah banyak yang tahu, betapa pelayanan rumah sakit ini benar2 berbeda dengan rumah-sakt2 yang lain. Dokter2 dan suster2 seniornya yang sudah mengabdi selama puluhan tahun, serta banyak yang sudah merasakan manfaat rumah sakit ini, dengan membayar lebih rendah dibanding dengan rumah-sakit2 lainnya.
Ketiga :
Indonesia juga akan kehilangan sebuah "rumah sakit taman", dengan taman besarnya serta pepohonan2 yang menjadi temopat burung2 bersautan dipagi hari.Â
Konsep ruang perawatan ini, memang untuk pemulihan  pasien2 yang lebih cepat. Dengan berada di area alam, tentu saja membuat pasien2 nyaman untuk berjalan2 di pagi hari sore hari.
Keempat :
Khususnya Jakarta, akan kehilangan lahan luas yang sebenarnya menjadi paru-paru kota. Dengan pepohonan ringan dan ekosistem yang terbangun dengan baik, rumah sakit ini mampu setidaknya, membantu penyerapan air hujan.
Issue tentang RTH atau ruang2 hijau Jakarta, sudah terhembus sejak lama. Bahkan, aku pun sudah membukukannya dan sudah kuberikan buku2 ku tentang ini kepada Pemprove DKI Jakarta, yang di launching oleh Pak Ahok, ketika beliau menjadi Gubernur DKI Jakarta.
Dan, jika rumah sakit ini benar2 terbangun dengan lahan yang akan meninggalkan sedikit sekali lahan untuk penyerapan, berarti titik2 banjir akan bertambah banyak dan lingkungan ini akan terkurung banjir .....
Ini mungkin hanya sebagian saja, yang aku pikirkan. Tetapi pasti ada masalah baru, jika rumah sakit ini "hilang", karena oknum2 yang hanya memikirkan bisnis semata.
Apakah pemikiranku ini, mampu merubah sikap atau pemikiran2 mereka yang tetap berkeinginan untuk menggarap rumah sakit ini, dan sama sekali tidak peduli dengan barbagai macam alasan?
Sebagai seorang arsitek humanis, yang sayang dan peduli dengan rumah sakit ini, jujur aku tidak tahu dengan pasti, siapa yang menginginkan lahan rumah sakit ini.
Tetapi, yang jelas aku ingin mengtuk pintu hati mereka, bahwa masa depan bangsa adalah ditangan orang2 yang berpikir kurus lewat berbagai macam pemikiran. Salah satunya, adalah unuk mempertahankan rumah sakit ini.
Seperti yang aku tuliskan diatas,
Seharusnyalah orang2 yang punya pemikiran cerdas, bisa memikirkannya kembali. Ini bukan hanya sekedar lebay semata, tetapi pemikiran yang aku tuliskan ini, sangat relevan dengan konsep2 yang harus kita pertahankan.
Tentang jati diri bangsa.
Tentang ruang terbuka hijau dan tanah Peresapan.
Tentang pemulihan pasien2 yang lebih cepat pulih dengan ruang2 perawatan yang sejajar dengan alam.
Mampukah, kita berpikir cerdas?
SEMOGA ......
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H