By Christie Damayanti
Memberi makan burung2 liar?? Di Jakarta, itu tidak mungkin sama sekali, karena sudah tidak ada burung2 liar di Jakarta. Kehidupan Jakarta yang semrawut dan tidak ada pepohonan yang 'memanggil' burung2 liar tersebut.
Tetapi bagaimana di negara lain? Khuhusnya di Holland? Bahkan burung2 liar pun masih berani hinggap di telapak tangan penduduk disana, ketika seorang perempuan memang ingin memverikan makan .....
Mulanya, aku tidak 'ngeh', apa yang ada disana. Aku hanya dusuk di bench, menikmati semilir angin yang cukup dingin, mengamati bebek2 lucu, berjalan megang-megong, dan mendengarkan gemericik air di sisi sebelah kananku.
Dennis membidik kameranya banyak kali ke 'sesuatu'. Dan 'sesuatu' itu justru mendapat sambutan yang meriah dengan tepuk tangan ramai dari teman2 kami sesama wisatawan. Michelle pun berlari mengahmpiri, dan tidak ketinggalan, Rushell mendorong kursi rodaku untuk menghampiri mereka.
Dengan sedikit menyeruak barisan wisatawan didepanku, barulah aku melihat 'sesuatu' itu .....
Adalah seorang ibu2 hippies tua. Ditangannya terpegang sepotong roti lembut, dan disekeliling tangan perempuan tua itu, ada berbagai macam burung2. Bahkan beberapa burung hinggap di tangannya, siap mematuk2i roti itu. Burung2 itu mengambil remah2 roti, memakannya, atau ada juga yang mematuk dan langsung membawanya ke tempat lain.
Berjenis2 burung tersebut terlihat senang, dengan tidak pedulinya dengan wisatawan2 itu di sekeliling perempuan tua itu. Mereka tidak saling mengganggu, tetapi mereka, termasuk aku, saling memberi hormat sesama makhluk kekasih Si Empunya Hidup.
Bahkan bebek2 yang tadinya berada di depan kursi rodaku, sebelum ke tempat perempuan tua itu, ikut2an meminta roti dari perempuan tua itu. Aaahh ..... Sayang sekali, aku tidak mempunyai roti untuk dibagikan, setelah aku celingak celinguk mencari sekeliling untuk membeli sedikit roti untuk mereka .....
Bebek2 itu pun sangat ingin mendapatkan roti dari si perempuan tua itu …..
Sampai sini, pikiranku sedikit melayang. Jika di Jakarta, kita cepat mencari sekedar roti, di pedagang2 kaki lima, jika ada pemandangan seperti ini, tetapi disana, roti baru bisa didapatka di toko2 roti yang pastinya hanya ada di lingkungan toko2. Atau di cafe2. Tidak ada pedagang keliling atau pedagang kaki lima.
Dennis banyak menjepret titik fokus detail, terlihat si perempuan tua, bahagia memberi makan burung2 itu, dan burung2 itu pun terlihat bahagia dengan kepedulian manusia disana .....
Sepotong roti sebesar sekitar diameter 10 cm ini, dipatuki oleh beberapa jenis burung, memakan waktu sekitar 15 menit, pas banget, ketika tour guide kami mulai memanggil2 kami untuk segera masuk ke bus wisata kami, untuk kami kembali ke Amsterdam.
Sangat indah, ketika kita bisa saling mengasihi antar sesame makhluk. Membantu yang membutuhkan serta berusaha berbuat yang terbaik bagi sesame makhluk …..
Berikut, parade foto tentang burung2 yang hinggap di tangannya untuk mematuki sepotong roti, makanannya …..
Mulanya hanya seekor burung, tetapi lama kelamaan, burung2 yang lain terus berdatangan dan langsung hinggap di atas tangan perempuan tua itu. Dan perempua itu, dengan sabar menunggu burung2 itu untuk mematuki rotinya, dan terus tersenyum …..
Sebuah momen yang sangat berharga untukku, bahkan untuk semmuanya, tentang hubungan antara 2 makhluk Tuhan yang saling mengasihi …..
Sebelumnya :
Mencoba Sepatu Kayu ala Noni Belanda
‘Wooden Shoes Factory’ di Marken, tetapi Tidak Seperti Pabrik …..
Selamat Datang di Marken, Selamat Tinggal Volendam
Bahkan Burung-Burung itu Tetap Bisa Makan …..
‘Fish & Chips’ : Makanan Khas Kota PenghasilIkan
‘Fotograaf de Boer’ : Kenangan Terindah dari Volendam
Keju, Keju, Keju dan Keju di ‘Cheese Factory’ Volendam
Ke ‘Cheese Factory’ di Gerimis Volendam
Catatan Sejarah Desa Volendam dalam Sebuah Museum
Sisi Lain ‘Volendam’, Selain Sebagai Desa Nelayan
[Edisi Kecewa] Hujan Cukup Deras Terus Mengikuti Kami …..
‘Molen De Gooyer’ : Musim Panas yang Hangat di Café Brouwerij …..
Keliling Amsterdam dengan Bus Wisata ‘Hop-On dan Hop-Off’
Beberapa Paket Tour ( Termasuk Untuk Disabled ) yang Pastinya Sangat Menyenangkan!
Menu Makan Pagi Favorite di Molly Malones - Oudejizdskolk Straat
The FEBO ‘De Lekkerste’ : Kedai Burger Otomatis di Holland
‘Perburuan’ itu Dimulai : Dunia Filateli Amsterdam …..
[Bidikan Amatir] Burung-Burung di Amsterdam itu Terbang Rendah …..
Mahasiswa ‘Cool’ Menjemput Masa Depan di Universiteit van Amsterdam
Piala Dunia … Ooo … Piala Dunia : Jejak Sampah di Amsterdam
Rumah-Rumah Amsterdam yang Cantik dan Spesifik
Museum Amsterdam : Mungil tetapi Tetap Bersahaja …..
‘The Begijnhof’ : Perempuan2 itu Hanya Ingin Berkarya Dalam Diam …..
‘The Parrot’ : Gereja yang Tersembunyi di Kalverstraat
‘Kalverstraat’ : Shopping Area dengan Pedestrian yang nyaman
‘Canal Cruise’ : Menikah di Kanal Amsterdam? Siapa Takut!
‘Canal Cruise’ : Secercah Harapan dari Kanal Amsterdam
Makan Siang Pertama di Amsterdam : Masakan China dan Suriname
Dunia Prostitusi ‘De Wallen’ Amsterdam, yang Sebenarnya …..
Ketika Kekecewaan Berganti dengan Semangat dan 'Excited!'
'Coffee Morning' : Ketika Kebahagiaan Mengawali Semuanya
‘Basiliek van der H. Nikolaas’ : Gereja Katolik Tertua di Amsterdam Abad – 18
Oudejizdskolk Straat, Basiliek van de H.Nikolaas, Café Molly Malones di Amsterdam
Menuju Amsterdam … Aku dalam Keterbatasan? Sudah Lupa, Tuh!
Perjalanan ke Negeri yang Jauh Sudah Mulai dan Mimpiku Semakin Nyata …..
Horeeeeeee ….. Libur Besar Telah Tiba!
KetikaAku Membawa Anak-Anakku Keliling Eropa, dengan Separuh Tubuh Lumpuh
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H