"Indeed!" pikirku, lalu mencoba mencari tahu kesenangan apa yang ditawarkan oleh "gayung listrik" ini. Saya kemudian membaca instruksi yang terdapat pada kertas seukuran seperempat folio itu.
Lalu mulailah petualangan saya bersama panci listrik ini.
Biasanya, pertama kali saya ambil sebuah kentang merah ukuran sedang. Setelah dikupas, saya ambil setengahnya saja, lalu dipotong dengan ukuran agak kecil supaya cepat matangnya. Sisa kentang setengahnya lagi, saya kasih mata, hidung dan mulut dari biji pepaya. Lalu digantung di dinding dapur supaya ada yang menemani saya bekerja.
Wortel ukuran sedang dikupas dan dipotong memanjang seukuran pentol korek api. Kentang dan wortel kemudian dimasukkan ke dalam panci yang berisi air setengah, lalu direbus.
Terkadang saya memakai sebuah labu siam kecil untuk subsitusi kentang. Labu siam dan kentang saya pakai sebagai pengganti nasi. Memang sejak saya jatuh cinta kepada panci ini, saya tidak lagi makan nasi. LOL.
Untuk sayur, favorit saya adalah Kailan, Sawi Caisim, Bok Choy, kale, dan asparagus. Sayur dipilih bergantian sesuai selera, cukup sedikit saja. Akan tetapi tomat dan wortel wajib hukumnya dikonsumsi setiap hari.
Sebutir tomat yang direbus lebih bermanfaat daripada mentah. Likopen yang terdapat pada tomat terbukti mampu mengurangi kolesterol dan mencegah/mereduksi kanker, diabetes dan osteoporosis. Sesekali saya juga menambahkan jamur bersama sayuran di atas untuk menambah varian masakan.
Hidup tanpa bawang itu seperti makan sayur tanpa garam. Bawang adalah senjata utama saya dalam menumis, yang tentunya bisa pula diaplikasikan dalam rebusan.
Bawang putih diiris tipis-tipis. Bawang Bombay dicincang dengan ukuran kecil, lalu bawang prei dirajang. Sementara itu bawang merah goreng menjadi penutup acara, ditabur pada saat tutup panci dibuka untuk terakhir kalinya. Hmmm dalam sekejab aromanya mengusik sukma, menggugah kalbu dan menusuk sanubari.
Untuk protein saya memilih daging ayam fillet ataupun ikan dori fillet secara bergantian. Terkadang tergoda juga untuk memakai daging sapi atau ikan salmon. Daging sapi impor jenis tenderloin pastinya enak sekali. Namun terkait kolesterol, daging sapi termasuk jenis daging merah yang kurang baik bagi Kesehatan.
Ikan salmon selain enak sekali, juga ramah terhadap kesehatan. Akan tetapi harganya sangat mahal. Kalau menjadi kebiasaan mengkonsumsi ikan salmon, tentunya akan menguras isi kantong pula. Wkwkwk