Mohon tunggu...
Reinhard Hutabarat
Reinhard Hutabarat Mohon Tunggu... Wiraswasta - Penikmat kata dan rasa...

Menulis untuk senang-senang...

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Demo UU Cipta Kerja, Sebuah Trigger untuk Membuat Kerusuhan

13 Oktober 2020   17:55 Diperbarui: 13 Oktober 2020   18:36 869
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi demo Jakarta, sumber : CNBC Indonesia

Demo pengesahan UUCK (Undang-undang Cipta Kerja) kemarin berakhir miris dengan perusakan dan pembakaran fasilitas publik. Ngomong-ngomong, adakah demo yang tidak ricuh di negeri ini?

Namun para pedemo berdalih kalau demo mereka adalah demo damai, sedangkan perusuh adalah penyusup yang bisa jadi adalah "oknum aparat" atau "orang-orang suruhan pemerintah sendiri" agar demo itu menjadi kacau dan rusuh. Nah lu!

Ini memang seperti dilema mana yang lebih dulu ada, ayam atau telur. Tapi yang jelas perusuh selalu menumpang dengan pendemo! Ini seperti Upin dan Ipin. Dimana ada Upin disitu pasti ada Ipin. Mereka ini kembar identik dan susah membedakannya.

Demikian pula halnya dengan pendemo dengan perusuh. Dimana ada pendemo maka disitu pasti ada perusuh. Pendemo dan perusuh juga kembar identik dan susah membedakannya. Apalagi sebagian dari mereka itu sering berganti baju dan bertukar tempat pula...

Masih ingat dengan demo di Bawaslu atau demo RUU KPK dulu? Masih ingat dengan slogan "Gejayan memanggil?" Kerusuhan yang terjadipun sebelas duabelas dengan demo UUCK kemarin. Itulah sebabnya kerusuhan seperti dulu itu ingin diulang kembali.

Awalnya pendemo keberatan dengan adanya Dewas di KPK, tapi ujung-ujungnya permintaan demo adalah "turunkan Jokowi." ketika Jokowi ternyata ogah turun, maka isu KPK-pun tidak menarik lagi. Jadi intinya bukan soal pengesahan RUU KPK menjadi UU KPK, melainkan "Kerusuhannya, lalu turunkan Jokowi!"

Masih adakah yang perduli dengan KPK? Masih adakah mahasiswa yang tertarik untuk membandingkan kinerja KPK era Saut Situmorang dengan era Firli sekarang?

Katanya sayang pada KPK, lantas apa buah pikiran yang sudah diberikan mahasiswa untuk meningkatkan kinerja KPK ini? Sepertinya tidak ada lagi yang memperhatikan KPK. Jangan-jangan kinerja KPK sekarang justru semakin buruk karena tidak ada lagi yang perduli.

Demo di Bawaslu dulu juga begitu, menuntut keadilan. Lha yang ribut-ribut dulu itu sekarang malah sudah bercokol dalam lingkar kekuasaan. Apa tidak malu itu juru soraknya yang teriak-teriak sambil bakar-bakaran segala.

Makanya kalau benci itu jangan pakai banget. Nanti kalau tiba-tiba naksir, takutnya malah jadi bucin. Sebaliknya kalau suka, juga jangan pakai banget juga. Nanti kalau tiba-tiba dicuekin pas lagi sayang-sayangnya, bisa jadi auto meng kafir-kafirkan orang lain pula!

***

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun