Sesampainya di sekolah, aku membuka bungkus nasi jagung itu di bangku panjang dekat warung kecil Bu Tini. Saat aku mulai makan, Tono, teman sekelasku yang sok kaya, mendekat.
"Wawan, apa itu? Nasi jagung lagi?" tanyanya sambil melirik isi bungkusanku.
"Iya, terus kenapa? Ini makanan sehat, tahu!" jawabku, mencoba terdengar bangga.
"Ah, aku mah makan roti isi cokelat setiap pagi," katanya, memamerkan roti yang terlihat mahal.
Aku hanya mengangguk sambil terus makan. Tapi dalam hati, aku kesal setengah mati. "Besok aku nggak mau kalah," gumamku pelan.
Sore harinya, aku mengutarakan rencana pada emak. "Mak, besok jangan bungkus nasi jagung biasa, ya. Aku mau lauk yang istimewa, biar Tono nggak bisa ngolok-ngolok lagi."
Emak mengangkat alis, lalu tersenyum misterius. "Oke, besok emak kasih yang istimewa."
Keesokan paginya, aku membuka bungkusan nasi jagung dengan penuh harap. Dan di dalamnya, selain nasi jagung, ada lauk baru: tempe goreng! Bukan tempe biasa, tapi yang digoreng dengan balutan tepung tebal.
"Mak, ini tempe gorengnya kayak lapis baja!" protesku, mencoba memotongnya dengan sendok.
"Itu biar awet sampai sore," jawab emak sambil tertawa lebar.
Di sekolah, aku dengan percaya diri membuka bungkusan nasi jagungku. Kali ini, Tono kembali mendekat.