Mohon tunggu...
Choirul Anam
Choirul Anam Mohon Tunggu... Wiraswasta - Penulis Partikelir

Ngaji, Ngopi, Literasi, Menikmati hidup dengan huruf, kata dan kalimat

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Pilihan

Ambisi Besar Brigade Swasembada Pangan dan Food Estate: Mimpi Besar di Atas Ladang Subur

29 November 2024   08:45 Diperbarui: 29 November 2024   08:34 40
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi Petani Mengolah Sawah (Sumber: www.idntimes.com)

Di tanah yang katanya tongkat kayu bisa tumbuh jadi tanaman, kita masih bicara soal krisis pangan dan impor beras. Ironis, bukan? Tapi di tengah ironi ini, pemerintah punya dua senjata pamungkas: Brigade Pangan dan Food Estate. Dua program ini hadir dengan ambisi besar---menjadikan Indonesia mandiri pangan. Tapi, apa ambisi ini terlalu muluk? Atau justru ini awal dari revolusi pertanian kita? 

Brigade Pangan: Pasukan Super Petani

Mari mulai dari Brigade Pangan. Program ini ibarat superhero di dunia pertanian. Tugasnya? Membantu petani lokal jadi lebih hebat, lebih produktif, dan tentunya lebih sejahtera. Tim Brigade Pangan terdiri dari penyuluh pertanian, ahli teknologi, hingga tenaga pendamping yang siap membantu petani dari A sampai Z.

Bayangkan ini: seorang petani yang dulunya cuma pakai cangkul dan bergantung pada hujan, kini dikenalkan pada teknologi irigasi tetes, drone pemantau lahan, hingga cara memilih benih unggul. Hebat, bukan? Selain itu, program ini juga memastikan hasil panen petani tidak hanya melimpah, tapi juga punya pasar yang stabil.

Namun, tantangan terbesar Brigade Pangan adalah sumber daya. Penyuluh pertanian jumlahnya terbatas, sementara petani kita ada jutaan. Di beberapa daerah, program ini berjalan gemilang, tapi di tempat lain? Ya, petani masih jalan sendiri. Ditambah lagi, ketergantungan petani pada bantuan pemerintah sering kali membuat mereka kurang mandiri.

Food Estate: Ladang Raksasa dengan Teknologi Canggih

Lalu ada Food Estate, proyek ambisius yang mencoba mengubah lahan kosong menjadi ladang pangan raksasa. Dengan membuka ribuan hektare lahan di Kalimantan Tengah, Sumatra Utara, atau Papua, pemerintah berharap ini bisa jadi solusi instan untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional.

Konsepnya seperti pertanian di negara maju: serba mekanisasi, irigasi modern, dan hasil panen skala besar. Singkong, jagung, hingga padi ditanam dengan target melimpah ruah. Bahkan, proyek ini digadang-gadang bisa membuka lapangan kerja baru dan mengurangi ketergantungan pada impor pangan.

Tapi, seperti kata pepatah, "gajah di pelupuk mata tak terlihat." Di balik megahnya Food Estate, ada masalah yang sulit diabaikan. Pembukaan lahan sering mengorbankan hutan dan ekosistem lokal. Lahan gambut yang tidak cocok untuk pertanian menjadi tantangan besar---lebih banyak uang dihabiskan untuk memperbaikinya daripada untuk menanam. Yang lebih menyedihkan, petani lokal kadang hanya jadi pekerja, bukan pemilik manfaat utama.

Ambisi yang Perlu Dikawal

Dari kacamata awam, Brigade Pangan dan Food Estate memang terdengar seperti mimpi indah. Bayangkan jika keduanya berjalan mulus: petani lokal jadi mandiri berkat Brigade Pangan, sementara Food Estate menghasilkan cadangan pangan melimpah. Masalah pangan selesai, kan?

Sayangnya, kita hidup di dunia nyata, bukan di skenario ideal. Kedua program ini punya tantangan besar yang tidak bisa diselesaikan dengan sekadar niat baik. Implementasi adalah kuncinya. Brigade Pangan harus memastikan pendampingan tersebar merata, tidak hanya di daerah "favorit." Sementara Food Estate harus dilakukan dengan perencanaan yang matang, tanpa merusak lingkungan atau mengorbankan masyarakat lokal.

Belajar dari Masa Lalu

Indonesia sebenarnya bukan baru kali ini mencoba revolusi pangan. Ingat program revolusi hijau di era Orde Baru? Awalnya sukses besar meningkatkan produksi padi, tapi akhirnya stagnasi terjadi karena minim inovasi dan pengelolaan berkelanjutan. Jangan sampai Brigade Pangan dan Food Estate mengulang kesalahan yang sama: bagus di awal, tapi gagal dalam jangka panjang.

Kunci keberhasilan ada di dua hal: kolaborasi dan keberlanjutan. Kedua program ini tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Food Estate yang berskala besar bisa diperkuat dengan pendekatan mikro dari Brigade Pangan. Sementara Brigade Pangan bisa belajar efisiensi dari Food Estate. Kolaborasi ini bisa menciptakan sistem pangan yang tidak hanya produktif, tapi juga adil dan ramah lingkungan.

Arah Baru untuk Ketahanan Pangan

Ambisi besar memang perlu, tapi tanpa eksekusi yang tepat, ia hanya akan jadi utopia. Brigade Pangan dan Food Estate adalah langkah awal yang baik, tapi pemerintah perlu terus mendengar masukan dari para ahli, petani, dan masyarakat lokal. Jangan hanya jadi proyek besar yang sekadar tampak megah di atas kertas, tapi tak meninggalkan manfaat nyata.

Di tanah yang subur ini, mimpi besar soal ketahanan pangan seharusnya bisa jadi kenyataan. Namun, seperti tanaman, mimpi itu butuh perawatan, perhatian, dan dedikasi. Jika tidak, kita hanya akan memanen janji kosong. Tapi jika dikelola dengan benar, bukan tidak mungkin Indonesia akan benar-benar jadi lumbung pangan dunia. Dan ketika hari itu tiba, siapa pun yang terlibat dalam Brigade Pangan dan Food Estate akan dikenang sebagai petani sejati perubahan.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun