Hans Kung (diucapkan kee-UNG). Sosok yang dikenal dengan berbagai macam sebutan. Mulai dari  teolog dan pastor Katolik Roma, berikut penggerak ekumene, dialog interkultural dan dialog antaragama, baru saja tutup usia. Ia meninggal di rumahnya di Tubingen, Jerman. Kematian yang menjemputnya pada Selasa, (6/4/2021) membuat ziarah hidupnya di dunia berakhir di usia 93 tahun.
Usianya nyaris seabad dan sepanjang itu ia sudah menelurkan banyak karya. Tidak hanya terdokumentasi dalam lebih dari 50 buku, tetapi juga tersalurkan dalam berbagai forum pidato yang tak terhitung jumlahnya.
Seperti manusia umumnya, kehidupan selalu dipenuhi tegangan. Ketegangan yang sama dialami Kung dalam bentuk yang lebih ilmiah, ikonik, dan menyejarah. Terutama dalam relasinya dengan Vatikan, pusat institusi agama yang dipeluknya sejak kecil.
Sejak menjadi seorang bocah Swiss, ia sudah memiliki hasrat untuk menjadi pastor. Kelak saat cita-cita itu menjadi nyata dalam tahbisan suci, Kung sama sekali tidak tinggal diam dalam kemapanan. Ia justru muncul sebagai salah satu tokoh yang mendorong perubahan dalam hierarki gereja.
Ia kemudian menjelma menjadi salah satu kritikus Gereja yang paling getol bersuara di tengah pergolakan besar agama Kristen di paruh kedua abad ke-20. Sebagai seorang liberal, ia mengkritik berbagai kebijakan gereja mulai dari soal pemerintahan, liturgi, infalibilitas kepausan, pengendalian kelahiran, selibat imamat, penahbisan wanita menjadi pastor, pernikahan campuran, aborsi, homoseksualitas, hingga soal kehidupan setelah kematian seperti neraka.
Sikapnya yang jelas dan tegas terhadap banyak soal itu membuatnya kerap dianggap sebagai salah satu "ancaman" terbesar bagi gereja sejak Martin Luther.
Hal-hal yang menjadi pokok pembicaraan Kung tentu luas dan dalam. Tulisan ini tidak bisa menangkup semuanya. Dalam banyak keterbatasan, sejauh pemahaman dan penelurusan literatur yang coba saya buat, ada beberapa pokok pikiran dan refleksi sebagai peninggalannya tidak hanya bagi kita sebagai pribadi, kaum beragama, juga sebagai manusia yang hidup di tengah dunia.
Pertama, ia tampil sebagai seorang reformator dalam gereja Katolik. Ia pernah tercatat sebagai teolog resmi, bahkan termuda, saat Konsili Vatikan Kedua. Konsili oikumenis ke-21 dari Gereja Katolik Roma yang kerap disingkat Konsili Vatikan II ata Vatikan II ini dimulai pada 11 Oktober 1962 hingga 8 Desember 1965.
Sebagai seorang teolog muda, kehadirannya, oleh Paus Yohanes XXIII yang berkuasa saat itu dianggap sebagai pembawa audara segar ke dalam gereja. Tidak hanya memberikan banyak masukan saat itu, ia juga secara konsisten terus mendesak agar lebih banyak hal direvisi dalam dogma dan ajaran gereja.
Semangatnya yang meluap-luap dan kritiknya yang begitu gencar membuatnya harus menerima kenyataan pahit. Alih-alih semakin mendapat tempat dalam gereja, ia justru dianggap terlalu jauh ikut campur dalam hal-hal yang seharusnya dianggap tak perlu lagi disentuh. Statusnya sebagai teolog Katolik hingga kuasa mengajarnya dicabut Vatikan.
Walau demikian, tidak sedikit yang mendukungnya. Pencopotan berbagai status itu tidak membuatnya bungkam. Paus Paulus VI, penerus Yohanes XXIII, kemudian coba melunakkan hati Kung. Namun, tawaran posisi di Vatikan tidak menggoyahkan posisinya.
Terkait hal ini, Kung kemudian menulis, seperti dikutip Douglas Martin di The New York Times (6/4/2020), bahwa mengambil posisi itu akan membuatnya menjadi seorang konformis. Tawaran tersebut sebenarnya sebuah "kesempatan besar dalam hidup saya."
Robert Kaiser, koresponden majalah Time di Vatikan II, menulis di The National Catholic Reporter pada 2006, "Jika dia memainkan kartunya secara berbeda, Hans Kung bisa jadi paus."
Namun, rasa-rasanya tetap sulit bagi Kung untuk menjadi orang nomor satu di gereja Katolik saat itu. Selain tantangan sedemikian besar dari lingungan sekitar, kemudian berkembang sebuah lelucon, kalaupun Kung punya kans untuk itu ia tak akan mengambilnya karena dia tidak akan sempurna.
Salah satu hal yang dikritiknya adalah soal infalibitas Paus. Paus tidak mungkin salah. Apa yang disampaikan Paus terkait iman atau moral ex cathedra (dari kedudukannya secara resmi) pasti benar.
Untuk selalu dianggap benar, melanjutkan lelucon tadi, Kung merasa itu tak akan bisa. Karena itu, ia menulis panjang lebar tentang sikapnya itu dalam buku Infallible? An Enquiry (1971).
Kedua, sekalipun selalu ditentang oleh otoritas, Kung tidak pernah kehilangan harapan. Begitu juga setelah Paus Yohanes Paulus II menyetujui pencabutan otoritas teologisnya, ia justru tetap produktif. Tidak dapat lagi mengajar dan kehilangan jabatan apapun dalam gereja, membuatnya semakin menarik perhatian luas melalui buku-buku yang ditulisnya dan kuliah-kuliah yang diberikan.
Menariknya, setelah Kardinal Joseph Ratzinger, menjadi Paus Benediktus XVI pada tahun 2005, Kung diundang ke kediaman musim panasnya di Puri Gandolfo di luar Kota Roma. Paus Benediktus sebenarnya adalah teman lamanya, namun keduanya berada di kutub berbeda terkait sikap dan pandangan iman dan doktrinal. Selama bertahun-tahun mereka terlibat dalam perbedaan pandangan yang sengit.
Undangan itu tentu diterima Kung dengan hati terbuka. Kung sudah berkali-kali meminta waktu bertemu Paus Yohanes Paulus II, namun selalu berakhir dengan penolakan. Tak heran pertemuan Kung dan Paus Benediktus sontak menjadi perhatian luas.
Terlepas dari polemik yang dibangun di antara mereka dan dengan gereja, pertemuan ini menyiratkan banyak makna. Perdebatan dan perbedaan pandangan tidak pernah menegasikan kemanusiaan.
Keduanya bersepakat untuk memanfaatkan kesempatan makan malam itu sebagai momen untuk tidak berbicara tentang ketiksepakatan yang dipertahankan sebelumnya. Keduanya saling memuji. Kung disanjung karena menghidupkan kembali dialog antar iman dan ilmu alam. Sementara itu, Kung pun mengapresiasi paus karena membuka diri dan menjalin relasi yang mesra dengan agama lain.
Ketiga, satu dari banyak bukunya yang fenomenal adalah Existiert Gott? Sejak diterbitkan tahun 1978, buku yang kemudian dialihbahasakan dengan judul Does God Exist? An answer for today menarik perhatian tidak hanya bagi para teolog, filsuf, peminat filsafat ketuhanan, hingga masyarakat luas.
Pertanyaan besar apakah Tuhan ada itu menggentarkan, tetapi serentak menggugat dan memukau banyak orang. Ia menghadirkan refleksi filosofis dan teologis tentang apa yang telah menjadi keyakinan atau ketidakyakinan orang-orang akan realitas yang Maha Tinggi itu.
Tentu orang yang membacanya akan terguncang, tetapi juga tercerahkan. Selain itu, para pembaca tertantang untuk melakukan refleksi lanjutan atas kepercayaan atau ketidakpercayaan, termasuk dalam laku keagamaan sehari-hari.
Etika global
Keempat, soal kemanusiaan itu kemudian menjadi salah satu perhatian penting Kung belakangan ini. Bahkan konsentrasinya untuk menjalankan sebuah proyek besar bernama "etika global" (Weltethos) dicurahkan sepanjang beberapa tahun terakhir.
Dalam sebuah pertemuan besar Parlemen Agama-agama Dunia pada 28 Agustus 1993 di Chichago, Kung menawarkan proposal "etika global". Proposal ini coba menarik keluar kesamaan agama di dunia, dan bukannya memperuncing dalam unsur-unsur yang memisahkan atau membedakan.
Rancangan proposal itu mendapat sambutan positif. Tidak ada keberatan dari sekitar 6500 peserta dan pemimpin agama dan spiritual dari seluruh dunia untuk membubuhkan tanda tangan.
Semua sepakat tentang pentingnya etika global demi terciptanya perdamaian dunia dan terbentuknya tatanan ekonomi dunia yang lebih adil. Kemanusiaan adalah kata kunci. Sulit berbicara tentang keadilan dan kedamaian bila kemanusiaan dalam setiap aspek tidak mendapat perhatian.
Selain itu, ia menghidupkan kembali prinsil universal yang dikenal dengan the Golden Rule. Apa yang bisa diterjemahkan dengan Kaidah Emas ini sejatinya ada dalam setiap agama. "Jangan lakukan terhadap orang lain apa yang anda tidak ingin orang lain lakukan terhadapmu".
Tidak hanya berhenti di situ. Kung bahkan mendirikan dan memimpin Global Ethic Foundation, sebuah organisasi penelitian dan pengajaran untuk mempromosikan nilai-nilai etika di seluruh dunia serta getol mendorong dialog antaragama dan budaya.
Bagi Kung, seperti judul salah satu ceramahnya di bulan Maret 1991, tidak ada perdamaian antarbangsa, tanpa perdamaian antara agama-agama, tidak ada perdamaian antara agama-agama tanpa dialog antara agama-agama.
Di tengah dunia yang dirasuki fundamentalisme, aksi-aksi terorisme, dan kekerasan berlabel agama, proyek besar Kung di atas masih akan tetap relevan. Pekerjaan itu jelas belum selesai.
Kung, yang tak lepas dari banyak kritik, juga sanjungan dalam banyak gelar doktor kehormatan, pernah berkata. "Saya memiliki optimisme yang tidak mudah, tapi harapan yang serius."
Ya, sejumlah harapan serius yang sudah dihembuskan sebagai sesuatu yang layak dan pantas diperjuangkan itu sekiranya merasuki kita, tanpa terkecuali.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI