Walau mencatatkan hasil fantastis, Minarti belum terlalu puas dengan penampilan anak asuhnya. Di set kedua dalam posisi memimpin, Sato sempat mengubah permainan yang tidak diantisipasi Hanna sebelumnya. Kekagetan atas pola permainan cepat Sato berhasil memancing Hanna sehingga ia harus kehilangan banyak poin. Hanna akhirnya harus bekerja keras saat terlibat duel kejar mengejar angka hingga akhir pertandingan.
Meski demikian pelatih asal Surabaya itu tak menampik adanya peningkatan performa Hanna pada beberapa aspek. “Mulai ada sedikit peningkatan di daya juang pantang menyerah sama fokus saat poin-poin kritis. Itu faktor penting yang membuat Hanna menang tadi.”
Patut diakui, secara keseluruhan penampilan sektor tunggal putri di ajang ini terbilang sempurna dibanding tunggal putra, ganda putri dan ganda campuran. Sejak pertandingan pertama hingga ketiga, sektor ini selalu menyumbang poin.
Jepang mulai mengejar ketertinggalan sejak di partai ketiga. Muhammad Bayu Pangisthu gagal memastikan kemenangan Indonesia. Pemain berperingkat 61 dunia itu takluk di tangan Kenta Nishimoto yang hanya berada satu strip di depan Bayu dalam daftar peringkat dunia dengan skor 15-21 16-21.
“Saya kendor sendiri di lapangan, dan saya terlalu banyak buang poin di lapangan. Di awal saya sudah tau gimana cara mainnya, tapi pas coba unggul, saya malah banyak bikin kesalahan,” aku Bayu usai laga berdurasi 40 menit itu.
“Kalau dibilang sulit juga sebenarnya enggak. Pukulan-pukulan dia masih bisa saya atasi. Cuma sayanya yang banyak membuat kesalahan,” lanjut pemain asal Medan berusia 20 tahun itu.
Nasib serupa dialami Anggia Shitta/Tiara Rosalia. Menghadapi ganda nomor satu dunia Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi , Anggia/Tiara menyerah 14-21, 13-21 dalam waktu 33 menit.
“Mereka mainnya sangat konsisten dan bola-bolanya juga mateng banget, penempatannya juga bagus,”beber Anggia.
Situasi sebaliknya terjadi di pihak Anggia dan Tiara seperti diakui sendiri oleh Anggia. “Apalagi di game kedua, kami harusnya defend, malah kepancing menyerang. Pas harus menyerang malah defend. Jadinya kurang enak sendiri.”
Edi Subaktiar/Annisa Saufika yang menjadi harapan terakhir Indonesia gagal meraih hasil positif. Yuta Watanabe/Arisa Higashino. Edi/Annisa kalah straight set 16 21 17-21 dari pasangan berperingkat 23 dunia setelah bertempur selama 42 menit.