Pelajaran penting
Kasus ini tampak sepele. Pencurian umur hanya setahun, dua tahun hingga tiga tahun saja. Tokh penampilan fisik dengan umur yang “dipangkas” sedikit itu sama sekali tidak berpengaruh pada penampilan di lapangan.
Namun tindakan pemalsuan itu jelas-jelas mencederai nilai-nilai kejujuaran dan sportivitas yang menjadi roh di setiap cabang olahraga. Melibatkan pemain belia dalam tindakan tak sporitf seperti ini sungguh menjadi bekal negatif bagi masa depan mereka.
Berkaca pada peristiwa ini, PBSI sebagai induk organisasi olahraga tepok bulu di tanah air perlu semakin bersikap tegas. Sejauh ini kebijakan terkait sanksi berat tersebut sudah disosialisasikan dan dijalankan secara konsekuen. Namun berulangnya kasus serupa, setelah sebelumnya terjadi di tahun lalu, mengindikasikan ada celah yang masih bisa disusupi oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab.
Mencuatnya kasus ini tak bisa sepenuhnya dilemparkan kepada PBSI. Sebagai regulator, wewenang dan tanggung jawab organisasi tersebut terbatas, tak bisa merangsek hingga kehidupan para atlet dan keluarganya.
Di sini peran penting keluarga dan klub-klub menjadi penting. Merekalah yang pertama-tama bersentuhan dengan para atlet dan berurusan dengan dokumen administrasi termasuk akta kelahiran. Kecolongan pemalsuan umur menandakan bahwa ada yang tidak beres dengan para orang tua, pembina, hingga pelatih di level klub.
Agak mengherankan klub-klub besar yang telah mencetak atlet kelas dunia masih belum steril dari kasus seperti ini. Kontrol berkala dan seleksi ketat semestinya tidak hanya dilakukan terkait bakat dan skill, juga menyasarurusan administrasi.
Jangan sampai nafsu besar “membesarkan” atlet justru mengangkangi nilai-nilai luhur seperti itu. Di dunia olahraga, skill semata tidaklah cukup. Nilai-nilai penting yang menyertainya seperti semangat sportif dan kejujuran sangat dijunjung tinggi. Aksi pemalsuan atau pencurian umur seperti itu tidak hanya berisiko terkena sanksi denda dan larangan bermain, juga bisa diseret ke ranah hukum. Kalau tidak salah, penjara lima tahun siap menanti para pelaku.
Seperti kata Budiarto, kasus ini harus menjadi pelajaran serius mulai dari institusi paling dasar yang bersentuhan dengan kehidupan seorang atlet. “Semoga ini juga menjadi perhatian para orangtua atlet, pembina atau pelatih, serta klub-klub. Karena dari sanalah munculnya pencurian umur tersebut,” tegas Budiharto.
Mau jadi apa generasi masa depan atlet Indonesia bila sejak dini sudah terlibat dalam tindakan tak terpuji ini?