Walau akses terbatas tak berarti tak ada jalan sama sekali. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, terutama ketersediaan internet, memungkinkan para blogger untuk mendapatkan informasi dan data memadai.
Dengan informasi serba ada, selain bersandar pada data yang benar dan tepat, Kang Jalu mengingatkan, agar tak alpa melakukan cross check atau mencari data pembanding.
To report well in a sport, you must know the sport thoroughly. Kira-kira demikian inti sarinya seperti diungkapkan Kang Jalu.
Lidah dan Rasa
Sulit memang untuk menarik benang merah pembicaraan sore itu. Di satu sisi Yayat enggan mengaku sebagai jurnalis walau dalam banyak hal telah menghidupi prinsip-prinsip jurnalisme. Sementara Kang Jalu telah tinggal tetap dalam dunianya sebagai jurnalis profesional.
Namun, dari pemaparan mereka ada hal kecil yang saling bersinggungan. Yayat dengan mudah menghembuskan kedekatannya terhadap dunia dan sosok yang diidolakan pada setiap tulisan.
Dengan kelebihan dan kekurangannya, tulisan Yayat tentang Vale adalah ekpresi jujur terhadap seorang idola. Karena saking dekatnya itu, Yayat masih belum bisa berpaling ke cabang olahraga lainnya.
“Saya pernah mau coba tulis F1, tetapi belum dapat feel.”
Rasa atau feel itu dirasakan pula oleh Kang Jalu yang sudah belasan tahun jatuh hati pada olahraga, terutama sepak bola. Menurutnya kejujuran sebagai nilai dasar olahraga sukar dimanipulasi.
Menyaksikan pertandingan sepak bola, hampir tak ada orang yang bisa membantah apalagi menyangkal ketika seorang striker mencetak gol. Pun air mata dan tawa seorang pemain adalah ekpresi jujur dari hati.
“Sport tidak mengajarkan kebohongan. Ekpresi di lapangan itu jujur,” aku Kang Jalu.