Mohon tunggu...
Chairil Ramli
Chairil Ramli Mohon Tunggu... CMO Sanger Production & Sanger Learning, Redaktur Pelaksana Xpresi.co -

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Dicari Guru di Aceh yang Rajin Menulis

4 September 2018   22:45 Diperbarui: 4 September 2018   23:26 455
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Guru sudahi kegelapan dan hadirkan pencerahan. Ia pantik imajinasi, tumbuhkan hasrat belajar, dan gerakkan anak didiknya untuk terus berkarya. Pada anak didiknya terpancar tanda jasa dan pahala guru. Pada guru, kita titipkan persiapan masa depan Indonesia. (Anies Baswedan, Pendiri Indonesia Mengajar).

Menjadi guru, bukanlah hal yang mudah. Tapi belakangan ini guru bisa dikatakan gampang-gampang susah, karena seorang guru tidak hanya berbekal ilmu pengetahuan saja, melainkan harus sabar, gigih, pantang menyerah, kreatif, inovatif dan attraktif dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana amanat UUD 1945.

Untuk menciptakan pembelajaran yang inovatif dan profesional, guru harus siap mengahadapi  segala tantangan. Dalam Permendiknas RI No. 16 tahun 2007 tentang standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, serta kompetensi professional. Sekarang penulis tidak menjelaskan keseluruhan, tetapi hanya menjabarkan kompetensi pedagogik dan profesional saja.

Kompetensi pedagogik merujuk pada bagaimana seorang guru harus memiliki seni dalam mengajar, seperti kreatif dalam membuat media pembelajaran, memilih strategi atau model pembelajaran yang menyenangkan, serta inovatif dalam menyampaikan materi kepada peserta didik.

Kompetensi professional merujuk pada bagaimana seorang guru mampu menyesuaikan kualifikasi pendidikannya dengan materi yang diajarkan, selain itu kompetensi profesional bisa ditingkatkan melalui pelatihan.

Problematika di Kalangan Guru

Sebelum mencetak bibit unggul atau mencerdaskan kehidupan bangsa, tentunya guru harus terlebih dahulu  unggul dan cerdas. Mengapa? Karena fenomena yang terjadi di lapangan sangat menyanyat hati. 

Kebanyakan guru terkesan tidak menguasai bahan ajar hingga melakukan pola memindahkan catatan dari buku pegangan sebuah penerbit ke buku tulis siswa. Buku yang digunakan pun itu-itu saja sehingga tidak adanya variasi ilmu pengetahuan yang didapat siswa. Kemampuan guru dalam menguasai materi masih menjadi "pekerjaan rumah", terkhusus guru di Aceh

Pemerintah daerah, kepala sekolah dan guru di seluruh Aceh harus punya andil dalam mengembangkan kompetensi pedagogik. Guru harus kreatif, tidak bisa mengajar siswa hanya copy paste dari buku tertentu.  Belum lagi ilmu pengetahuan yang terus mengalami perkembangan seiring dengan kemajuan teknologi informasi.

Guru Harus Menulis

Guru yang menulis adalah guru yang berprestasi. Pasalnya, mengukur tugas seorang guru tentu sangatlah susah. Kalau pegawai di perusahan--perusahaan seperti pemasaran, bisa diukur dengan tingkat penjualannya. Pegawai kecamatan bisa dinilai dengan seberapa puas masyarakat atas pelayanan yang mereka berikan, namun untuk guru apa ukurannya?

Tingkat kelulusan siswa, hadir di kelas tanpa absen, ini bukan sebuah ukuran untuk mengukur pencapaian seorang guru, tapi ini adalah kegiatan wajib yang harus dilakukan oleh guru. Begitupula dengan mendapatkan sertifikasi, ini juga bukan sebuah prestasi atau pencapaian, karena kebanyakan guru yang mendapatkan sertifikasi adalah guru yang sudah lama masa kerjanya dan usia 50 tahun ke atas.

Oleh karena itu, menulis menjadi prestasi, pencapaian dan juga nilai plus tersendiri bagi guru. Sebesar apapun teori menulis dipelajari, kalau tidak berlatih keras dan membiasakan menuangkan gagasan atau ide ke dalam bentuk tulisan, tetap akan kesulitan menulis. Karena kemampuan menulis, hampir sama dengan berlatih berenang. Teori saja tidak cukup, yang terpenting adalah praktik.

Sampai saat ini, tulisan opini, artikel atau gagasan tentang pendidikan di media massa  terutama media cetak, masih didominasi oleh dosen, pemerhati pendidikan, politisi, mahasiswa dan sebagainya. 

Sementara dari kalangan guru masih sangat sedikit, padahal mereka sehari-hari bergelut dengan dunia pendidikan. Ini yang menjadi salah satu faktor yang membuat pendapat guru nyaris tidak didengar. Padahal, suara--suara guru itu bukan sekedar curhatannya, namun juga pengamatan yang dilapisi dengan pengalaman. Bila guru menulis tentang persoalan pendidikan, diyakini lebih berkualitas dibanding mahasiswa atau politisi, misalnya.

Jika seandainya guru mau menulis, segala problematika dikalangan guru, seperti yang saya sebutkan di atas, diyakini menjadi obat yang mujarab. Bagaimana tidak, ketika guru pelajaran bahasa Indonesia, tentang puisi, opini atau essay misalnya, guru tidak hanya menjelaskan berdasarkan materinya saja, melainkan memperlihatkan contoh puisi, opini atau essay hasil tangannya sendiri.

Begitu juga dengan guru mata pelajaran yang lain seperti kimia, fisika, biologi, dan sebagainya. Guru-guru bidang tersebut dapat menulis ringkasan sebuah bab hasil bacaan dari banyak buku dan dari pengetahuannya sendiri, baik dalam bentuk slide presentasi atau pun dalam bentuk artikel. Ini tentu akan sangat keren, karena jika guru tersebut telah menulis sebuah bab hasil analisisnya, sudah dapat dipastikan dia benar-benar menguasai materi tersebut.

Langkah berikutnya adalah tulisan yang telah dibuat, dipublikasikan ke blog pribadi baik bersifat artikel, pembahasan soal, hasil penelitian, karya ilmiah, slide power point, dan materi ajar lainnya yang mendukung siswa untuk memahami bahan ajar yang dimaksud.

Kedua mengenai kemampuan. Menulis sama dengan mendalami persoalan. Lewat menulis seorang guru bisa lebih menggali ilmu pengetahuan, persoalan tentang energi kinetik untuk ilmu fisika, misalnya.  Jika sistem ini melekat pada guru, berarti guru telah melakukan penelitian tindakan. Sungguh, penelitian tindakan itu sangat sederhana. Hasil penelitian ini kemudian di tulis ulang dalam bentuk karya tulis ilmiah dan akan menjadi karya tulis yang bernilai emas. Jika seandainya sistem ini terus-menurus di terapkan, tak mustahil seorang guru dapat menulis sebuah buku.

Menulis sebuah buku?

Jika guru-guru yang ada di Provinsi Aceh ini gemar menulis, segala persoalan proses belajar mengajar akan berjalan dengan aman dan nyaman. Tidak hanya itu, Aceh juga akan menjadi satu-satunya provinsi penghasil guru penulis. 

Untuk mencapai itu, pemerintah harus menfasilitasi pelatihan pembuatan materi ajar berbasis teknologi informasi, baik slide presentasi maupun blogging berkelanjutan, dengan output guru menyiapkan bahan ajar sendiri. Tidak mesti menyewa orang luar daerah, pemerintah bisa berkoordinasi dengan putra daerah, mahasiswa Universitas Syiah Kuala atau  Uin Ar-raniry misalnya untuk menjadi instruktur. Penulis yakin mahasiswa di Aceh, khusunya yang berdomisili di Banda Aceh ada yang paham mengenai cara buat slide presentasi dan membuat blog.

Untuk langkah pertamanya, peserta pelatihan diajarkan bagaimana cara menggunakan microsoft word, power point dan hal semacamnya. Kemudian membuat blog, yang nantinya akan di isi dengan hasil tangan para guru, spesifiknya tentang materi pelajaran. Ini bisa dilakukan secara bertahap, misalnya minggu pertama beberapa guru sekolah di ibukota, kemudian wilayah barat, timur hingga seterusnya.

Setelah mempunyai blog, guru dituntut untuk aktif mengembangkan blog. Jika ada siswa yang tidak hadir atau tidak paham mengenai materi, siswa bisa mempelajarinya di blog guru tersebut, dengan ini smartphone siswa pun ikut aktif kedalam hal yang positif. lebihnya lagi, jika guru menyiapkan bahar ajarnya sendiri dan menulis persoalan mengenai materi pelajaran, maka tidak mustahil jika guru bisa mencetak sebuah buku, bahkan lebih.

Kemudian di akhir tahun atau di hari guru, Pemerintah memilih blog bahan ajar terbaik, yang kemudian dicetak menjadi sebuah buku. Pemerintah juga harus menyediakan hadiah yang menjanjikan kepada pemenang. Misal, buku-buku terbaik akan difasilitasi untuk dicetak, baik mengguankan anggaran daerah atau pun melakukan kerjasama dengan penerbit di Jakarta. Pemerintah juga harus berninovasi untuk menjadikan usulan program ini berjalan dengan baik.

Jika program ini berjalan dengan baik, percayalah Aceh akan dikenal dengan provinsi pengahsil guru penulis. Cukup membanggakan bukan?

Oleh: Chairil Anwar Ramli, CMO Sanger Production & Sanger Learning, mahasiswa UIN Sumatera Utara. 

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun