Lalu diapain?, sharing pengalaman lagi , Fakrur kalo mulai teriak-teriak niru temen sebayanya, saya ga nyumpel mulut dia, cukup di setelin lagu anak / di bukain buku dongeng. Dia kegirangan lihat iklan susu real good yang di pantai itu, saya matiin TV. Tidak melarang, tapi mengalihkan.
Ada sebagian orang yang pernah saya denger bilang ”Emang kalo di biarin aja kenapa ?! biar dia cari2 sendiri, belajar intepretasi sendiri dan mengambil hikmah sendiri” ya silahkan saja, itu hak...tapi bagaimana jadinya kalo si anak ingin mengambil hikmah dari tidur di rel kereta sharian.
Akhirnya kita di hadapkan pilihan pada akan kita jadikan apa anak kita, apakah dengan pola religius, pola seniman, pola ilmuwan, pola olahragawan, pola penyair, pola politikus, pola pemberani ala jhon key atau pola autopilot-mengalir apa adanya??, itu semua dimulai dengan apakah kita peduli terhadap apa yang dilihat, di dengar dan di rasa di usia-usia suburnya. Peduli atau tidak, product nya adalah seperti beberapa contoh kasus diatas.
Yang jelas saat ini, juru parkir telah mencuri hati anak saya..., sebenernya tidak mengapa, daripada di curi hati oleh kawanan gayus & nazar yang kaya raya itu.
Sementara itu, fakhrur di tengah tidurnya, bibirnya masih komat kamit dan bermimpi bertemu juru parkir.
“Selamat tidur nak, besok kita beli sempritan ya”
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H