Beberapa bulan yang lalu, saya resmi dilantik menjadi salah satu alumnus Sastra Inggris Universitas Brawijaya, Malang. Saya bangga bisa menjadi salah satu lulusan dengan masa studi tercepat, pun kedua orang tua dan adik-adik saya ikut merasa bangga. Seremonial itu mengingatkan saya pada kejadian beberapa tahun lalu, ketika akhirnya saya memutuskan untuk menimba ilmu di Sastra Inggris, disamping sebagai seorang lulusan SMK spesialisasi di bidang kimia industri.
"Oh, pasti mau jadi guru ya?"
"Wih, pasti Bahasa Inggris-nya bagus!"
Kira-kira itulah cuplikan beberapa pendapat orang-orang yang mengetahui saya mengambil kuliah di jurusan Sastra Inggris. Sebenarnya, saya sendiri sudah bosan untuk mengikuti sistem belajar dan mengajar di dalam kelas. Monoton. Saya lebih suka menghayal dan mencoret-coret kertas. Apalagi untuk mendalami sekolah spesialisasi kimia industri, saya merasa tidak tertarik. Perasaan itu muncul ketika saya duduk di bangku kelas 2. Saya lebih memilih untuk blogging dan nangkring di media sosial Twitter dan Facebook. Sejak saat itu, saya suka membuat akun di beberapa platform blog seperti blogspot, tumblr, kompasiana, kemudian wordpress. Saya lebih memilih untuk berselancar di dunia maya. Oleh karena kecintaan saya yang lebih suka nangkring di media sosial dan mencoret-coret buku, saya memilih jurusan Sastra Inggris. Saya memiliki impian untuk menjadi seorang penulis handal dan dapat berkeliling dunia untuk memamerkan karya saya.
Beberapa karya favorit saya diantaranya kisah misteri The Raven karya Edgar Allan Poe, karya-karya Dewi Dee Lestari dengan pilihan diksi yang epic di setiap karyanya yang mampu membius hingga ke tulang rusuk paling dalam, adalah Filosofi Kopi dan Rectoverso. Di samping itu, karya misteri Mitch Albom, Tuesday with Morrie, juga menjadi favorit saya. Saat ini, saya sedang berusaha untuk menyelesaikan membaca karya Albom yang lain, Five People You Meet in Heaven. Melalui para novelis ini saya memelajari gaya tulisan dan plot yang mereka ciptakan.
Untuk menjadi seorang penulis, saya kemudian sadar bahwa saya harus berlatih menulis, melakukan riset mendalam sebelum memilih diksi kata yang tepat, dan sekreatif mungkin menciptakan plot yang tidak terduga. Oleh karena itu, saya terus aktif menulis, apa pun itu, apa pun yang sedang terjadi dan sesuatu yang dapat dijadikan tulisan yang menarik untuk dinikmati khalayak umum. Saya pun aktif menulis di beberapa platform blog pribadi saya dan selalu terbuka untuk menerima saran dan pendapat untuk karya tulisan saya.Â
Di bulan Desember 2014, saya memutuskan untuk mencari pekerjaan sebagai freelance. Saat itu, saya harus menghasilkan uang sendiri untuk membiayai kebutuhan kuliah saya. Saya melamar di salah satu kantor media di kota Malang sebagai freelance writer. Saya diterima bekerja pada pertengahan bulan Januari 2015. Kala itu kali pertama saya bekerja di bidang kepenulisan. Senang tidak terbendung, serasa tidak percaya bisa terjun ke dalam dunia kepenulisan, untuk pembuatan artikel dengan tujuan mempromosikan beberapa produk dari client, khususnya di bidang fashion. Saya sangat terbantu dengan bantuan teman-teman di kantor dan atasan yang memberikan saya arahan bagaimana membuat tulisan sesuai ejaan yang baik dan benar.
-Â Â Â Â Upaya SDN Asrikaton I Membentuk Karakter Siswa:Â http://radarmalang.co.id/upaya-sdn-asrikaton-i-membentuk-karakter-siswa-16756.htm
-Â Â Â Â Semangat Inovasi SDN Mangliawan I, Kecamatan Pakis:Â http://radarmalang.co.id/semangat-inovasi-sdn-mangliawan-1-kecamatan-pakis-16735.htm
Setelah masa KKN saya berakhir, saya lebih bersemangat lagi untuk menulis. Saya kembali aktif menulis di blog pribadi saya. Saya juga rajin mengikuti blog competition meski belum semua dapat saya menangkan. Sempat menjadi 25 blogger terbaik pada lomba yang diadakan SOS Children’s Village dan menjadi pemenang voucher Gramedia Blogger Competition Februari 2016 kemarin sudah memberikan kepuasan tersendiri dan memacu saya untuk terus menulis.