"Eh, Mbak, kok seerasa puasa beneran yo, kaya masa kecil kita", celetuk teman saya, Yeni.Â
"Iya loh, angin semilir trus sepi begini. Warung zaman dulu bagian depan tutup, tapi kita bisa belanja lewat pintu belakang hahaha (tertawa bersama)."
"Dulu, kita kalau mau makan ngumpet, beli sayur di warung pasti ditanya lagi mens ya mba?"
Mempunyai kenangan yang sama di masa lalu itu, membuat kita berdua sesama perantau di pulau orang, larut ngobrol asyik kemana mana. Â
Suasana pagi hari tepat saat Hari Raya Galungan, jalanan sepi jarang orang lalu lalang. Umat Islam khusu' melaksanakan ibadah puasa. Sedangkan umat Hindu sibuk persiapan upacara dirumah saja. Apalagi saya, satu gang perumahan mempunya dua tetangga yang seiman. Namun sebuah kebahagian tersendiri, walaupun perbedaan iman kami hidup nyaman berdampingan. Kalau kita umat muslim menjelang Ramadan mengadakan megengan atau maleman istilah bahasa Jawa. Mereka pun mempunyai kesamaan, seringkali menjelang Hari Raya umat Hindu, saya dapat kiriman.Â
Yang pastinya menu makanan  tersebut dibeli dari salah satu warung muslim halalan toyyiban. Suasana hening sekali menyeruak rinduku di kampung halaman. Ramadhan tahun ini terasa indahnya kebersamaan dalam perbedaan, di Pulau Dewata kesayangan.
(editor: Nurhasanah)
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI