Satu hal yang sering terlewatkan saat membahas COVID19 adalah pentingnya menjaga kesehatan mental. Padahal, WHO telah menyampaikan mengelola kesehatan mental dan psikososial saat ini sama pentingnya dengan mengelola kesehatan fisik.Â
Rasa takut dalam menghadapi pandemi ini manusiawi. Tapi, rasa stres yang berlebihan dan respons yang tidak tepat juga tidak baik bagi imun kita dalam melawan penyakit. Dirangkum dari pedoman oleh WHO, CDC, serta IWC, berikut cara yang baik dalam menghadapi dan mengkomunikasikan rasa stres!
Lindungi Dirimu dan Dukung Orang Lain
Menurut CDC, pandemi COVID19 sangat rentan menimbulkan kecemasan bagi orang-orang yang: berusia lanjut, memiliki penyakit kronis dan resiko lebih tinggi terpapar virus, mengasuh anak-anak, menyediakan layanan kesehatan, memiliki kondisi kesehatan mental, dan memiliki masalah penggunaan narkoba.Â
WHO mengingatkan membantu orang lain pada saat dibutuhkan dapat bermanfaat bagi orang yang menerima bantuan ataupun membantu. Bekerja bersama sebagai satu kesatuan dapat membantu menciptakan solidaritas dalam menangani COVID19. Namun, jangan menyalahkan diri sendiri atau orang lain apabila bantuan yang bisa kita berikan sangat terbatas.
WHO juga menekankan untuk tidak melekatkan penyakit ini pada etnis atau kebangsaan tertentu. Bersikaplah empatik terhadap semua orang yang terkena dampak, di dan dari negara mana pun. Orang yang terkena COVID19 tidak melakukan kesalahan, dan mereka pantas mendapatkan dukungan kita.
Abhirama S.D Perdana, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Presiden, mengatakan penting untuk membatasi diri agar tidak terus menerus terekspos pada berita meresahkan. Menurut beliau, terlalu mudah resah dapat memengaruhi pola pikir dan kesehatan tubuh kita. "Kepanikan adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh obat, dan kesabaran adalah permulaan kesembuhan," ujar beliau mengutip Ibnu Sina.Â
Untuk projek event mahasiswa bimbingan beliau yang bertajuk CommStride misalnya, mahasiswa didorong untuk fokus membuat konten sosial media berisi hal positif yang tetap edukatif.  Sebagai contoh, merujuk pada protokol WHO yang dirilis pada 18 Maret 2020, memberi suara untuk kisah orang yang telah pulih, yang telah memberi bantuan, dan yang bersedia berbagi pengalaman bermanfaat.
Berdasarkan sumber IWC, informasi yang melimpah bisa membuat kita kewalahan, terutama paparan hoax dan berita negatif. Hal ini juga disebut oleh WHO pada rilisnya dengan merekomendasikan untuk mencari informasi resmi terkini pada waktu-waktu tertentu dari ahlinya dan menghindari hoax yang menimbulkan rasa tidak nyaman. Saat ini, penting adanya panduan yang bisa digunakan sebagai pedoman dalam bidang komunikasi massa untuk mendukung kesejahteraan mental dan psikososial.
Sampaikan Informasi dengan Mudah Dipahami