Kondisi tersebut membutuhkan fungsi edukatif (pendidikan) dalalm keluarga. Padahal, keluarga sendiri merupakan lingkungan pendidikan pertama dan utama bagi anak. Menurut UU No. 2 tahun 1989 Bab IV Pasal 10 Ayat 4 berbunyi, Â "Pendidikan keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga dan yang memberikan keyakinan agama, nilai budaya, nilai moral, dan keterampilan". Jadi, keluarga adalah elemen dasar yang harus memberikan landasan pendidikan yang kuat pada anak. Banyak anak yang kehilangan kendali diri saat perlakukan orang tua tidak memadahi. Oleh sebab itu, keluarga harus berperan secara baik dalam mendukung pendidikan Indonesia.
"Melalui perawatan dan perlakuan  yang baik dari orang tua, anak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya, baik fisik-biologis maupun sosiopsikologisnya. Apabila anak telah memperoleh rasa aman, penerimaan sosial dan harga dirinya, maka anak dapat memenuhi kebutuhan tertingginya, yaitu perwujudan diri (self actualization). Kondisi keluarga yang bahagia merupakan suatu hal yang sangat penting bagi perkembangan emosi para anggotanya (terutama anak). Kebahagiaan ini diperoleh apabila keluarga dapat memerankan fungsinya secara baik. Fungsi dasar keluarga adalah memberikan rasa memiliki, rasa aman, kasih sayang, dan mengembangkan hubungan yang baik di antara anggota keluarga" ("Penguatan Peran Keluarga Dalam Pembentukan Kepribadian Anak Mqelalui Seminar dan Pendampingan Masalah Keluarga" oleh Budi Lazarusli, Sri Lestari, Gufron Abdullah , Rahmat Sudrajat, Oktaviani Adhi Suciptaningsih - FPIPS Universitas PGRI Semarang)
Fungsi Edukatif
Setidaknya ada 10 peran keluarga terhadap pendidikan dari hal untuk merangkul anak hingga berlaku sebagai pengontrol dan pengatur waktu. Keluarga menjadi the first school before at the true school (sekolah pertama sebelum di sekolah yang sebenarnya). Orang tua menjadi pengajar yang memberikan masukan berupa pembinaan karakter bangsa. Dan, pengajar di sekolah menjadi perpanjangan tangan dari orang tua di keluarga.
Saya pernah berbincang dengan Kak Seto (pemerhati masalah anak dan pendidikan) di sebuah hotel di Kuta Bali pada acara bincang-bincang tentang kasus pembunuhan secara keji anak yang bernama Angeline. Beliau  menyatakan bahwa jika ada anak yang diperlakukan tidak baik sama orang tuanya bisa menjadi seorang menteri maka anak yang diperlakukan dengan baik oleh orang tuanya pasti mampu mendapatkan yang lebih dari itu.
Keterlibatan keluarga juga memberikan kemudahan kepada para pengajar di satuan pendidikan untuk menjadikan anak lebih baik di masa depan. Karena, sejatinya anak-anak telah mempunyai basic pendidikan untuk menerima dengan baik pendidikan yang diberikan oleh pengajar di sekolah.
Perlunya komunikasi yang intens antara pengajar di sekolah dan orang tua. Hal ini bertujuan untuk mengetahui kualitas pendidikan anak di sekolah dan menumbuhkan komunikasi yang yang transparan. Maka dari itu, perlunya komunikasi orang tua dan pengajar  sangat menentukan kualitas belajar anak yang akan bermuara kepada kualitas pendidikan.
Revitalisai peran keluarga dan keterlibatan masyarakat yang baik dalam satuan pendidikan sebenarnya membantu untuk menciptakan kualitas pendidkan Indonesia yang lebih baik di masa depan. Percaya atau tidak, kondisi keluarga yang bahagia menciptakan kondisi pendidikan yang berkualitas. Berikut, 10 negara dengan kualitas pendidikan terbaik di dunia.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H