Mohon tunggu...
Camelia Nur Fadila
Camelia Nur Fadila Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia

Hello There

Selanjutnya

Tutup

Ruang Kelas

Menanamkan Budaya Literasi Melalui Program LIterasi Membaca dan Literasi Sains Sejak Dini pada Siswa SMPN 1 Salawu

25 September 2021   11:12 Diperbarui: 25 September 2021   11:34 254
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Literasi menjadi topik yang menarik perhatian kementerian pendidikan, kebudayaan, riset dan teknologi. Hal ini menjadi menarik karena tingkat literasi atau budaya literasi sangat berperan besar dalam kemajuan suatu bangsa ataupun peradaban.  Mengingat peringkat Indonesia sangat rendah untuk tingkat literasi ini. Berdasarkan hasil PISA (Programme for International Student Asessment) lembaga yang mengukur mengenai penilaian siswa sekolah di seluruh dunia menunjukan hasil bahwa Indonesia berada di peringkat 62 da 70 negara. 

Terdamparnya Indonesia di peringkat bawah memang jadi sebuah tamparan tersendiri. Sebut saja Negara-negara seperti Jepang, Eropa dan Amerika. Masyarakatnya memiliki kesadaran tinggi akan literasi. Jauh berbeda dengan Indonesia yang kesadaran literasi masih sangat rendah. Secara umum, disini kita bisa melihat bahwa Negara yang memiliki kesadaran dan pengertian literasi dengan baik lebih mudah diajak untuk memajukan negaranya. Terbukti Negara-negara tersebut pun juga berkembang pesat dari banyak sektor.

Literasi menurut Elizabeth Sulzby (Sulzby & Teale, 1986) merupakan kemampuan individu dalam melakukan komunikasi didalamnya termasuk kemampuan untuk membaca, menyimak, menulis dan mengemukakan pikiran dengan berbicara. Dari definisi tersebut menulis menjadi salah satu kemampuan dari kemampuan literasi seseorang. Menulis pun dianggap lebih baik dari pada berbicara. Dalam hukum pun peraturan atau hukum tertulis akan lebih tinggi kedudukannya dibandingkan hukum yang hanya dibentuk dengan berbicara (lisan) saja.

Ungkapan literasi memang memiliki banyak variasi, seperti Literasi media, literasi digital, literasi sains, literasi budaya, dan lain sebagainya. Hakikat ber-literasi secara kritis dalam masyarakat demokratis diringkas dalam lima verba: memahami, melibati, menggunakan, menganalisis, dan mentransformasi teks. Kesemuanya merujuk pada kompetensi atau kemampuan yang lebih dari sekedar kemampuan membaca dan menulis.

Karena menyadari pentingnya hal tersebut Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menyelenggarakan KKN Tematik Literasi yang sejalan dengan program dari Kemendikbutristek mengenai literasi. 

UPI selaku Universitas yang sangat erat kaitannya dengan pendidikan berinisiasi merubah tema KKN pada gelombang 2 tahun ini yang awal mulanya hanya pada pembangunan desa lewat pendidikan secara umum menjadi tema yang lebih spesifik yaitu pembangunan dan penguatan literasi di sekolah dan di lingkungan masyarakat.

Salah satu kelompok terbatas yang terdiri dari 8 mahasiswa UPI melakukan program KKN yang menyasar sektor budaya menulis untuk program KKN Tematik Literasi yang kami jalankan. Program yang dijalakan diantaranya yaitu membuka pematerian dan mengenalkan budaya serta manfaat membaca dan menulis kepada siswa-siswa SMP Nergeri 1 Salawu.

Pada saat pandemi, literasi siswa sangat menurun, tetapi kami ingin mengembalikan lagi literasi yang sudah dibiasakan oleh sekolah dengan cara mengajak guru untuk membimbing siswa membaca buku non pelajaran atau buku yang disukai siswa selama 10 menit sebelum kegiatan belajar mengajar, harapan kami dengan program ini siswa dapat terbiasa meningkatkan minat baca tulis.

Secara teknis program yang diterapkan yaitu selain mengenalkan budaya membaca 10 menit sebelum kegiatan belajar mengajar, kami mengadakan kelompok diskusi bagi siswa, siswa membuat resensi buku yang telah dibaca seperti menulis identitas buku, sinopsis buku, kelebihan dan kekurangan buku untuk setiap minggunya.

dokpri
dokpri

Selain itu kami memberikan arahan kepada siswa MSC (Milenial Satgas Covid) mengenai pentingnya literasi sains dengan mengadakan kegiatan penyuluhan kembali mengenai Covid-19, mengingat MSC ber-anggotakan wakil siswa dari setiap kelasnya yang bertugas untuk membantu pihak sekolah dalam mensosialisasikan langsung mengenai pandemi Covid-19. 

Kami berkoordinasi dengan Satgas Covid-19 sekolah yaitu dengan memberikan penguatan kembali mulai dari apa itu pandemi, SOP prokes yang harus dipatuhi oleh seluruh siswa sekolah lalu memastikan bahwa lingkungan sekolah dalam keadaan steril, aman, dan warga sekolah siap mematuhi prokes secara ketat. Dengan adanya satgas milenial ini dapat menambah kedisiplinan siswa terhadap prokes dan optimis pandemi cepat berakhir.

Maka dari itu literasi sangatlah penting dalam kehidupan sehari-hari. Pentingya literasi untuk meningkatkan kualitas hidup, meningkatkan kemauan untuk terlibat dan peduli dalam isu-isu yang terkait sains.  mematangkan keterampilan dan memperlancar dalam membangun komunikasi dengan dunia sosial karena tantangan bagi generasi di era literasi digital saat ini adalah menguji kemampuan mereka menyerap informasi dalam arti kata yang sebenarnya. Di mulai dari berlatih membaca hingga pemahaman literasi tahap selanjutnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ruang Kelas Selengkapnya
Lihat Ruang Kelas Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun