"Paling enak tuh Piala Dunia 2022. Waktu itu gua bisa ngajakin cewek gua nonton bareng, soalnya nggak malam-malam mainnya, jadi sekalian pulang sekolah, ngedate-nya di tempat nonton bareng, habis itu nganterin pulang cewek gua deh. Kalo pertandingan sore ya habis les terus nonton bareng"
Itu adalah jawaban teman saya, ketika saya bertanya Piala Dunia tahun berapa yang paling berkesan untuknya. Dan saya pun sedikit banyak sepakat dengannya. Karena pada waktu itulah untuk pertama kalinya kita yang tinggal di Indonesia menonton Piala Dunia yang pertandingannya dimainkan di siang hari dan petang hari. What an epic moment.
Pengalaman menonton Piala Dunia tanpa begadang untuk orang Indonesia itu pun bahkan belum pernah terulang kembali, sampai dengan 20 tahun kemudian.
"Tapi justru 'seninya' nonton sepakbola luar negeri itu ya begadangnya itu, Hadi. Kalau nonton pertandingan setelah Dzuhur atau sesudah Maghrib, ya sama saja kayak nonton Liga Indonesia"
Ujar kawan saya yang lainnya. Ya bebas lah ya. Rambut boleh sama hitam, tapi isi kepala bisa berbeda.
Bagi saya pribadi, yang termasuk generasi Y. Piala Dunia 2022 adalah gelaran empat tahunan sepak bola dunia yang benar-benar saya ikuti perkembangannya sejak awal hingga akhir. Beda dengan dua edisi sebelumnya yang terdapat pertandingan malam, sehingga saya sebagai pelajar lebih memilih tidur, Piala Dunia 2022 ini buat saya memiliki beberapa hal-hal yang bisa dikatakan memorable.
Tahun 2002, untuk pertama kalinya Piala Dunia dihelat di Benua Asia. Sesuatu yang juga baru terulang lagi 20 tahun kemudian. Selain pertama kalinya diselenggarakan di benua kuning, untuk pertama kalinya ada dua negara yang menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia.
Nah, entah kebetulan atau tidak. Pasca Piala Dunia 2002, sistem tuan rumah bersama seolah menjadi tren dalam sebuah turnamen olah raga. Salah satu yang saya ingat sampai sekarang adalah Piala Asia 2007, dimana Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam menjadi tuan rumah bersama.
Piala Dunia 2002 diawali dengan kejutan yakni hancur leburnya tim juara bertahan Perancis, dan hanya menjadi juru kunci Grup A karena hanya mengoleksi 1 poin dari hasil imbang tanpa gol melawan Uruguay.
Padahal saat itu, Perancis belum berganti generasi yang membawa gelar juara dunia empat tahun sebelumnya di negaranya sendiri, dan kemudian meraih Piala Eropa 2000. Nama-nama Fabien Barthez, Marcel Desailly, David Trezeguet, Therry Henry, hingga Zinedine Zidane nyatanya tak mampu mengangkat performa tim yang kala itu diasuh Roger Lemerre.
Pada pertandingan pembuka, tim ayam jantan justru ditekuk oleh debutan, Senegal. Banyak yang menganalisa penampilan buruk Perancis di Jepang-Korea tak lepas dari cederanya Zinedine Zidane usai final Liga Champions.
Adapun negara spesialis turnamen lainnya, Argentina, juga tak menunjukkan performa maksimal di Piala Dunia 2002. Jika empat tahun sebelumnya Inggris kalah dari tim Tango, maka kali ini Inggris membuat Argentina tersingkir di babak grup. Hal serupa nyaris menimpa Italia yang puas hanya berada di bawah juara Grup G Meksiko. Sementara Jepang dan Belgia lolos dari Grup H.
Drama Golden Goal Yang Bikin Sial
Memasuki babak gugur, drama hasil akhir pun kian tersaji. Maklum, saat itu pertandingan masih menggunakan sistem sudden death alias golden goal dalam menentukan hasil akhir. Sekedar informasi, sistem ini mengakhirkan pertandingan jika salah satu tim sudah mencetak gol pada babak perpanjangan waktu.
Kejutan Senegal kembali terjadi, ketika mengalahkan Swedia melalui golden goal di babak perdelapan final. Nah, apesnya, 'gol emas' pula yang menghentikan langkah Senegal, ketika bertemu Turki di perempat final.
Namun jika bicara soal golden goal di Piala Dunia 2022, mungkin tak ada yang paling menghebohkan---dan masih dibicarakan hingga saat ini---selain pertandingan  di babak 16 besar yang mempertemukan tuan rumah Korea Selatan dengan timnas Italia asuhan Giovanni Trappatoni.
Italia sebenarnya sempat unggul lebih dulu pada menit ke-18 lewat gol Christian Vieri. Namun, dua menit jelang laga waktu normal usai, Korea Selatan menyamakan skor lewat gol Seol Ki-Hyeon. Laga pun harus dilanjut ke babak tambahan.
Dan wasit Byron Moreno yang memimpin pertandingan memorable tersebut, mungkin akan menjadi wasit yang paling 'dikenang' oleh pendukung timnas Italia yang pernah menyaksikan Piala Dunia 2002.
Betapa tidak, pada menit ke-3 di waktu normal, tiba-tiba wasit asal Ekuador ini menunjuk titik putih di pertahanan Italia. Namun eksekusi penalti Ahn Jung-hwan dapat ditepis oleh Gianluigi Buffon. Dan sepanjang pertandingan, keputusan Moreno cenderung memihak tim tuan rumah.
Tindakan paling kontroversial yang cukup membekas hingga saat ini, adalah ketika Byron Moreno memberikan kartu kuning kedua pada Francesco Totti di menit 103. Sang pengadil bersikukuh 'Si Pangeran Roma' telah melakukan diving di kotak penalti Korea Selatan. Padahal sejumlah tayangan menunjukkan Totti sebenarnya dilanggar oleh Kim Tae-yong, dan seharusnya mendapat hadiah penalti.
Italia pun angkat koper, dan Korea Selatan melenggang hingga semifinal. Pun demikian Ahn Jung-hwan harus menerima kenyataan angkat koper dari klubnya yang notabene berkompetisi di Serie A Liga Italia, Perugia.
Pesona Ronaldo Luiz
Di Piala Dunia ini pula, menjadi panggung bagi kebolehan megabintang asal Brasil Ronaldo Luiz Nazario de Lima. Setelah pada empat tahun sebelumnya dikabarkan mengalami kejadian di luarr nalar yang menyebabkan kondisi fisiknya menurun, di Piala Dunia 2002 Ronaldo menjadi perhatian setelah menjadi top scorer turnamen dengan menjaringkan 8 gol.Â
Ia pun sukses membawa timnas Brasil menjadi juara yang ke-5 kalinya, dan menjadi negara peraih gelar juara terbanyak hingga saat ini.
Brasil boleh jadi juara pertama, publik Eropa boleh mencemooh Korea Selatan. Namun penduduk Negeri Ginseng tak terlalu menghiraukan, karena lebih sibuk merayakan kesuksesan mereka di Piala Dunia 2002. Bahkan nama pelatih mereka saat itu, Guus Hiddink, diabadikan sebagai salah satu nama stadion di Korea Selatan.
Sayangnya, lagu tema Piala Dunia 2022, yakni Boom, yang dibawakan penyanyi Anastacia, masih kalah menghentak dibanding Waka Waka (Piala Dunia 2010-Shakira) dan La Copa de La Vida (Piala Dunia 1998-Ricky Martin). Apalagi bagi pendengar di Tanah Air, lagu yang terakhir ini menjadi lebih akrab didengar karena ada versi parodinya oleh kelompok humor teatrikal-musikal Project P.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI