Akhirnya, sejumlah suporter pun pada akhirnya benar-benar terbunuh di kandang rival. Yang paling saya ingat saat ini adalah tewasnya salah seorang suporter Persija, Haringga Sirla, usai disiksa secara brutal di sekitar Stadion Gelora Bandung Lautan Api, pada September 2018 silam.
Tentu tak sulit bagi kita untuk menyimpulkan mengapa para penyiksa Haringga saat itu bertindak begitu brutal dan tanpa ampun. Semua berawal dari nyanyian yang dianggap tak berimplikasi apa-apa, namun dinyanyikan berulang-ulang dan diejawantahkan dalam bentuk tindakan.
Dengan kata lain, ajakan menghilangkan nyawa dalam kata-kata "Dibunuh saja!" yang dinyanyikan secara terus-menerus, membuat hantu kematian pun terus bergerak, bergentayangan mengincar suporter yang sedang mendukung tim kesayangannya.
Dalam hal ini, pendulum kejahatan suporter atas nama fanatisme memang harus dihentikan, meski menurut saya sudah terlambat karena sudah jatuh korban atas nama fanatisme buta tersebut, seperti Haringga Sirla.
Namun tentu tak ada kata terlambat untuk terus menyebarkan virus kebaikan. Salah satunya dengan menghentikan lagu "Dibunuh saja" tersebut. Dirijen suporter harus menghentikan lagu berlirik tersebut jika mulai terdengar suporter menyanyikannya.
Pun demikian para pentolan suporter harus bisa memerintahkan kelompok suporter agar tak lagi menyanyikan chant-chant bernada negatif.
Jika tidak, panggung sepakbola nasional bukan tak mungkin akan terus menerus dipayungi awan gelap, dan juga hantu kematian.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI