Saya bingung takut salah atas apa yang akan saya lakukan, menolong salah nggak menolong tambah salah.
Akhirnya saya ambil secarik kertas informent consern yang ada dalam tas istrument, saya suruh menandatangani persetujuan atas segala tindakan yang barusan dan yang akan saya lakukan. Dan Ginahpun menandatanganinya.
Entahlah salah atau benar urusan belakang, keadaan benar-benar darurat.
"Ya Alloh mugi-mugi tindakan ingkang kulo tindaken saget ngepasi wonten margi panjenengan....." desah saya dalam hati.
Segera saya pulang membawa bayi Ginah untuk saya bawa ke rumah saya dulu, dan anaknya Nanik tetap disampingnya Ginah.
"Nanti saya kabari, diam jangan panik........ ya....."sambil saya sehera menuju mobil dan menaruh bayinya Ginah di jok depan samping saya mengemudi.
Sesampai di rumah Nanik segera menghampiri saya, dan saya jelaskan apa permintaann emaknya terhadap bayi yang ada dalam gendongan saya yang tak lain adiknya sendiri, dan tak bukan anak dari suaminya, Oh Tuhan ....
"Sudah Nik kamu pulang dulu, temani emakmu dan kasihan anakmu, jangan tanya macem-macem dulu pada emakmu dia masih tertekan, biar nanti pada saatnya dia sendiri yang cerita.
Segera Nanik pulang diantar dibonceng  Agus [anak asuh saya] untuk pulang kerumah.
Masih ada persoalan yang harus saya kerjakan hari ini juga, mencarikan Ibu dan orang tua buat bayinya Ginah.
Oh.... maafkan aku Ginah, Maafkan aku Nanik ....... atas ketidak tepatan tindakan yang saya ambil....
Beri Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!