Hanya ada dua negara dengan catatan partisipasi di kualifikasi Piala Eropa melebihi Luxembourg, yakni 17 kali. Akan tetapi kedua negara tersebut, Portugal dan Prancis, berulang kali lolos ke putaran final dan bahkan sukses menjadi juara.
Portugal dan Prancis sudah mengikuti Kualifikasi Euro sejak edisi perdana pada 1960, di mana peserta putaran final hanya 4 tim. Portugal gagal lolos, sedangkan Prancis mengakhiri turnamen sebagai peringkat keempat.
Dari 17 kali mengikuti Kualifikasi, Prancis lolos ke putaran final sebanyak 11 kali. Les Bleus bahkan sukses melaju ke partai pamungkas 3 kali, menghasilkan dua gelar juara (1984 dan 2000).
Sedangkan Portugal lolos ke putaran final sebanyak 9 kali, dengan sekali di antaranya sebagai tuan rumah. Selecao das Quinas melaju hingga ke pertandingan pemuncak dua kali, di mana pada kali kedua sukses menjadi juara dengan mengalahkan Prancis (2016).
Kedua negara tersebut baru saja memastikan tempat di putaran final Euro 2024. Masing-masing sebagai calon juara Grup B dan Grup J.
Luxembourg punya peluang menyusul kedua negara tersebut. Akan tetapi Laurent Jans, cs. masih harus bekerja keras di tiga pertandingan tersisa Grup J untuk memastikan tiket mereka.
Nyaris Lolos di 1964
Pencapaian paling tinggi Luxembourg terjadi di tahun 1963, ketika nyaris lolos sebagai salah satu dari empat kontestan final Euro 1964. Tahun di mana mereka membuat kejutan besar karena mengalahkan salah satu raksasa Eropa.
Ketika itu hasil undian mempertemukan Luxembourg dengan Belanda di Putaran 16 Besar Kualifikasi Euro 1964. Di luar prediksi, tim berjuluk D'Roud Leiwen tersebut justru menang agregat 3-2.
Partai leg pertama di Amsterdam, 11 September 1963, langsung membuat publik tuan rumah terkesima. Secara luar biasa Luxembourg sukses menahan imbang Belanda dengan skor 1-1.
Kejutan berlanjut di leg kedua yang berlangsung di Stadion De Kuip, Feyenoord, pada 30 Oktober 1963. Kali ini Luxembourg malah menang tipis 2-1 lewat dwigol Camille Dimmer.
Hasil itu mengagetkan publik Belanda sekaligus Luxembourg. Media Belanda menggambarkan hasil partai tersebut sebagai pertarungan David melawan Goliath seperti dalam Alkitab.