Mohon tunggu...
Budi Hermana
Budi Hermana Mohon Tunggu... karyawan swasta -

Keluarga/Kampus/Ekonomi ... kadang sepakbola

Selanjutnya

Tutup

Olahraga Artikel Utama

Krisis (Piala) Eropa

16 Juni 2012   17:34 Diperbarui: 25 Juni 2015   03:54 727
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Kelihatannya pertahanan berlapis pemerintah Italia – seperti disinyalir muncul kembali saat timnas sepakbolanya melawan Spanyol- tidak akan kuat menahan gempuran krisis Eropa. Memang saat ini Italia masih terus mengeluarkan jurus sendiri, seperti halnya strategi Pelatih Cesare Prandelli merubah posisi Daniele De Rossi dari pemain tengah menjadi palang pintu tim Azzuri.  Indikasi krisis Italia adalah obligasi pemerintah yang menghadapi gagal bayar karena melonjaknya imbal jasanya. Menurut catatan dari Bank Sentral Eropa bunga obligasinya meningkat sebanyak 100 basis points. Akhirnya Moody pun menurunkan peringkat obligasi pemerintah dari Aa2 menjadi A2 dengan dengan negative outlook pada 4 Oktober 2011. Rasanya, lolosnya Italia dari grup C Piala Eropa hanya sedikit menjadi pelipur lara kondisi perekonomian negaranya yang lagi terpuruk. Andaikan jadi juara Piala Eropa pun, Italia masih menghadapi jalan terjal dalam memulihkan perekonomiannya. Namun tidak seterjal menjadi juara Piala Eropa.

Yunani. Negeri para dewa-dewi ini ternyata paling duluan diterpa krisis ekonomi. Awalnya negeri ini berhasil menahan gempuran Polandia, namun akhirnya gagal menangkal serbuan Tomas Rosicky dkk dari Ceko. Di bidang ekonomi, meskipun Yunani seri dengan Polandia, keduanya ibarat bumi dan langit karena Yunani sangat parah terkena krisis ekonomi sedangkan Polandia sedang menikmati kejayaan ekonominya. Kejadian di lapangan sepakbola tersebut bisa dianalogikan dengan bobolnya perekonomian Yunani yang akhirnya perlu disuntik pinjaman dana Bank Sentral Eropa, juga IMF yang telah menyediakan komitmennya sebesar 130 Milyar EURO sampai tahun 2014. Peluang lolos dari grup yang relatif kecil membuat masyarakat Yunani menunggu dengan ketar-ketir. Namun itu tidak separanoid negara-negara eropa lain yang sedang menunggu Pemilu di Yunani karena keputusan politiknya akan menentukan perkiraan seberapa besar efek domino dari krisis Yunani.

Kini keputusan politik yang diambil Yunani melalui Pemilu sedang akan menjadi penentu menjalarnya krisis eropa.  Kebijakan fiskal dan ekonomi yang tidak tepat serta lemahnya reformasi struktural memang disorot oleh Bank Sentral Eropa. Akankah kegagalan Yunani melewati penyisihan grup A menjadi sinyal keterpurukan yang lebih parah di sektor ekonomi? Yang jelas, Pemain Yunani sempat semoat berniat untuk tidak berangkat ke Piala Eropa karena pemerintahnya asosiasi sepakbola tidak akan sanggup membayar bonus bagi pemain. Terusirnya Sokratis Papastathopoulo karena diberi kartu merah saat melawan Spanyol akankah menjadi pertanda terusirnya Yunani dari ikatan Uni Eropa gara-gara tidak mampu membenahi perekonomiannya? Yang jelas, tidak ada makan siang gratis. Pemberian pinjaman dari Uni Eropa dan IMF memang disertai persyaratan dan target yang harus dicapai. Sama halnya dengan pelatih Yunani Fernando Santos yang bisa saja dipecat gara-gara angkat koper lebih awal dari Piala Eropa.

Spanyol. Keindahan Tika-taka ternyata tidak seindah sektor perekonomian Spanyol yang dianggap mulai carut-marut mengikuti Yunani dan Portugal. Ketidakpercayaan pelatih Vicente Del Bosque terhadap penyerang murni saat pertandingan melawan Italia sama seperti ketidakpercayaan masyarakat Spanyol terhadap para politisi dan pemerintah yang dianggap bertanggung jawab terhadap lesunya bisnis di negeri matador tersebut. Kemarahan warga mungkin bisa berlipat-lipat jika Iker Casillas dkk gagal lolos dari penyisihan grup C karena dikalahkan Kroasia, dan pada saat yang sama Italia menggulingkan Irlandia. Mungkin saat ini masyarakat Spanyol masih terhibur dengan suguhan Piala Eropa sambil berharap cemas mereka bisa merangkai juara Piala Eropa 2008, Juara Piala Dunia 2010, dan Jawara Piala Eropa 2012.

Namun, setelah perhelatan Piala Eropa, mungkin mereka terbangun dari mimpi indahnya dan menghadapi kenyataan banyak bisnis lokal mereka mulai tutup gara-gara krisis ekonomi di negaranya. Kembali produktifnya Fernando Torres tidak bakal cukup meningkatkan kembali kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahannya. Kini Spanyol menggantungkan harapan pada bantuan 100 Milyar EURO dari European Financial Stability Facility, bukan pada harga gila-gilaan dari pemain Barcelona dan Real Madrid  yang menjadi kerangka timnasnya. Menurut hitung-hitungan IMF, katanya Spanyol butuh sekitar 37 Milyar EURO, seperti diberitakan Kompas.com (9/6/2012) di sini. Angka yang tetap luar biasa besar dibandingkan aset Real Madrid dan Barcelona, masing-masing sebesar US$ 1,87 miliar dan US$ 1,3 miliar, mengacu peringkat dari Forbes yang diberitakan BBC di sini.

----

Btw, negara-negara peserta Piala Eropa boleh dilanda krisis, namun Piala Eropanya sendiri tetaplah memberikan hiburan tersendiri. Saya pun berusaha tetap menyimak Piala Eropa, walau negeri sendiri pun sedang ketar-ketir menahan imbas krisis eropa. Selamat menikmati Piala Eropa, dan mari berdoa, semoga BI bisa berhasil mengantisipasi imbas krisis eropa agar krisis ekonomi tahun 1997 tidak terulang lagi.

Catatan:

Beberapa indikator perekonomian negara-negara PIIGS dikutip dari website Moody di sini, serta crisis timeline yang dipublikasikan oleh Bank Sentral Eropa di sini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Olahraga Selengkapnya
Lihat Olahraga Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun