Mohon tunggu...
Budi Hermana
Budi Hermana Mohon Tunggu... karyawan swasta -

Keluarga/Kampus/Ekonomi ... kadang sepakbola

Selanjutnya

Tutup

Nature Artikel Utama

Alam, Kasihanilah Kami!

10 April 2012   01:56 Diperbarui: 25 Juni 2015   06:49 488
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption id="attachment_164249" align="aligncenter" width="600" caption="Ciliwung, nasibmu kini nasib kita nanti (foto pribadi)"][/caption]

Prihatin saja tidak cukup saat melihat kerusakan lingkungan terus berjalan. Isu lingkungan kalah pamor sama hiruk pikuk politik atau geliat ekonomi. Padahal polusi, banjir, atau kebakaran hutan tidak pernah absen dari bumi pertiwi. Kali ini saya akan menyimak seberapa rusak lingkungan Indonesia berdasarkan Environmental Performance Index (EPI) edisi tahun 2012 yang telah dipublikasikan oleh Yale University.  Berikut peringkat 132 negara.

[caption id="attachment_170828" align="alignnone" width="598" caption="Peringkat Environmental Performance Index 2012 (sumber: www.epi.yale.edu)"]

1333991305673132162
1333991305673132162
[/caption]

EPI edisi 2012 sudah dipublikasikan dan dapat dilihat di sini. Peringkat pertamanya ditempati oleh Swiss. Indonesia menempati peringkat ke-74. Parameter yang terburuk adalah kualitas air, yakni dampaknya terhadap kesehatan manusia, dan kerusakan hutan. Peringkat dua parameter tersebut di atas 100. Secara umum semua indikator menunjukkan lingkungan Indonesia memang parah seperti tersaji pada profil EPI Indonesia berikut.

[caption id="attachment_170829" align="alignnone" width="598" caption="Profil dan prediksi EPI Indonesia (sumber: www.epi.yale.edu)"]

1333991498406702193
1333991498406702193
[/caption]

Berdasarkan data historis selama kurun waktu sepuluh tahun terakhir, Indonesia diprediksi mengalami penurunan pada kategori vitalitas ekosistem, bahkan bisa anjlok dua kali lipatnya. Penuruan terburuk adalah pada indikator hutan dan sumber daya air.

Selama satu dasawarsa, peringkat 74 merupakan posisi terbaik Indonesia, terjeleknya pad posisi 84. Indonesia pun masuk kelompok negara  “yang sedang-sedang saja”. Bukan yang terbaik, namun tidak “buruk-buruk amat”. Kata Yale University: “Modest Performers”. Mungkin jika ada hiburan tersendiri, Yale University meramalkan posisi Indonesia bisa lebih baik jika dilihat dari hasil analisis terhadap data pada kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Prediksi tersebut disajikan pada kolom “Pilot Trend Result” pada tabel profil di atas.

Indonesia akan membaik pada aspek kesehatan lingkungan, namun bisa memburuk untuk indikator vitalitas ekosistem. Hanya parameter pertanian yang diperkirakan membaik, sedang enam parameter ekosistem lainya diramalkan akan tetap mengkhawatirkan. Bahkan, dampaj ekosistem udara dan perubahan iklim bisa makin memburuk. Kerusakan hutan pun diperkirakan tidak ada perubahan, atau tetap ada ancaman terhadap kelestarian hutan tropis di Indonesia.

Semoga kita tidah harus menunggu Indonesia makin parah. Hiruk pikuk politik dan ekonomi memang kadang mengasikkan, namun prahara lingkungan bakal lebih menakutkan jika kita tidak berbuat apa-apa untuk menyelamatkan bumi pertiwi ini. Analisis runtut waktu menunjukkan Indonesia bisa mencapai posisi ke-66. Itu secara statistik, tidak tahu realitasnya nanti.

*****

EPI dihitung dengan menggunakan 22 indikator yang dikelompokkan dalam dua kategori utama yaitu kesehatan lingkungan dan vitalitas ekosistem dengan kategori lengkapnya mencakup 10 aspek, yaitu: (1) Environmental Health. (2) Water (effects on human health), (3) Air Pollution (effects on human health), (4) Air Pollution (ecosystem effects), (5) Water Resources (ecosystem effects), (6) Biodiversity and Habitat, (7) Forests, (8) Fisheries, (9) Agriculture, dan (10) Climate Change & Energy. Penjelasan metodenya dapat dilihat di sini.

[caption id="attachment_170869" align="alignnone" width="609" caption="Indikator EPI 2012 (sumber: www.epi.yale.edu)"]

1334022881865574289
1334022881865574289
[/caption]

*****

Siapa yang harus disalahkan? Haruskah pemerintah lagi yang dimarahi karena tidak becus membuat program atau kebijakan pro lingkungan yang bisa membuat alam lestari. Atau, biarlah kita hanya meratap saja saat polusi dan sampah makin merajalela. Toh, dampak kerusakan lingkungan tidak akan terasa seketika atau dalam jangka pendek. Biarlah anak cucu kita saja yang merasakan akibatnya. Jika memang demikian, tidak perlu risau dengan peringkat-peringkat seperti ini.

Atau, patutkan kita menyalahkan diri sendiri atau lingkungan terdekat?  Bukankah kita pun tanpa disadari sering menganiaya alam. Seberapa banyak energi terbuang percuma saat lampu dan pendingin ruangan menyala percuma. Seberapa banyak kantong plastik terbuang saat kita borong belanja di pusat-pusat belanja modern. Mungkin kita asyik-asyik saja mengendarai mobil sendirian sejauh ratusan meter saja hanya untuk membeli pernak-pernik elektronik.

Ah, sudahlah. Toh semuanya itu klise dan normatif saja. Tidak ada solusi konkrit, termasuk dengan tulisan ini. Lingkungan tak butuh lisan hanya untuk diperhatikan. Tak perlu tulisan agar dikatakan: kami penuh perhatian! Tidak butuh basa-basi hanya untuk dianggap peduli. Lagian, alam tidak akan mendengar dan membacanya. Bicara pun tak akan. Bahkan, Alam tidak akan  berteriak ketika merasa dirinya makin sekarat. Alam bukan pula insan yang bisa mengiba agar dibelaskasihani. Justru kita-kita ini yang patut dikasihani. Bisa jadi, justru kita yang mengiba-iba saat alam tidak peduli dan menemani kita lagi. Saat alam murka, bukan karena mereka kecewa, namun akibat ulah manusia juga.

Alam, kasihanilah kami-kami ini!

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Nature Selengkapnya
Lihat Nature Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun